Islampedia

Jalan Pencerahan Tobat

×

Jalan Pencerahan Tobat

Sebarkan artikel ini
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Dadang Kahmad MSi (Dok Promosi & PMB UM Bandung)

Oleh: Prof Dr KH Dadang Kahmad, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

BANDUNGMU.COM — Di dalam Al-Quran dijelaskan untuk bertaubat karena ketika kita bertobat, jiwa dan hati kita akan menjadi tenang.

Ketika kita ditimpa musibah juga, bertobatlah karena dengannya jiwa kita akan kembali pada ketenangan.

Allah SWT berfirman, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridai-Nya.” (QS Al-Fajr: 27-28).

Kita bukanlah makhluk maksum yang terpelihara dari dosa. Kita hanyalah manusia biasa yang tak jarang terselip khilaf dan dosa. Namun, percayalah selalu ada jalan untuk kembali dan Allah adalah sebaik-baik tempat kembali.

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS Az-Zumar: 54).

Tobat menjadi pintu gerbang pertama yang dilalui seorang hamba untuk kembali kepada Allah. Berkenaan dengan sifat manusia yang tak pernah luput dari perbuatan-perbuatan dosa, tobat menjadi penting dilakukan oleh setiap orang.

Baca Juga:  Hiduplah Seperti Musafir

Tobat bukan hanya ketika merasa berbuat dosa, melainkan untuk senantiasa mensucikan diri. Perintah untuk bertobat tidak hanya ditujukan untuk golongan tertentu, tetapi untuk orang-orang yang beriman.

Kita tidak pernah tahu, mungkin saja ada dosa-dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan tanpa sengaja. Atau boleh jadi kita melakukan sesuatu yang menyakiti hati saudara kita tanpa kita sadari.

Oleh karena itu, bertobat menjadi lebih utama daripada kita menuai balasannya di akhirat kelak.

Allah akan selalu membuka pintu bagi hamba-hamba-Nya yang mau bertobat dengan sungguh-sungguh selama nyawa belum sampai ke tenggorokan.

Rasulullah SAW sebagai pribadi yang dijamin masuk surga oleh Allah, pribadi yang maksum, tetap bertobat pada Allah. Demikian juga dengan kita yang hanya manusia biasa dan setiap hari bergelimangan dengan dosa-dosa.

Baca Juga:  Ciri Haji Mabrur Menurut Al-Quran, Hadis, dan Ulama

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah, sungguh aku bertobat kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR Muslim).

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab “At-Taubah Wazhifatul ‘Umri”, tobat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesal karena telah melakukannya, diiringi tekad yang kuat untuk tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang yang terzalimi jika ada, atau meminta untuk dibebaskan dari tuntutan orang yang terdzalimi tersebut.

Inilah yang disebut dengan tobat nasuha atau tobat yang semurni-murninya. Tobat itu tidak hanya dilakukan secara lisan, mengatakan bahwa ia bertobat kepada Allah, tetapi tidak diikuti dengan perbaikan-perbaikan diri.

Ungkapan lisan harus diikuti dengan perbuatan-perbuatan karena pada hakikatnya tobat adalah pekerjaan akal, hati, dan fisik sekaligus.

Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin”, tobat adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal, dan amal. Ilmu adalah unsur pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiganya amal.

Baca Juga:  Ridwan Kamil: Pemimpin Yang Baik Selalu Mendengarkan Nasihat Ulama

Ia berkata, “Yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga.”

Ilmu itu pangkal seluruh kebaikan, yang dimaksud ilmu di sini adalah keimanan dan keyakinan. Iman itu akan membenarkan bahwa dosa merupakan racun yang menghancurkan.

Keyakinan akan memberikan penegasan mengenai hal itu. Ketika keimanan dan keyakinan keduanya ada pada diri seseorang, akan memancarlah cahaya iman itu.

Sesuai fitrahnya, hati manusia itu suci, maka hati yang dipenuhi cahaya keimanan akan sangat sensitif terhadap dosa-dosa yang dilakukan. Dengan demikian, mudah baginya untuk menyesal dan berupaya kembali kepada kesucian dengan bertaubat kepada Allah.***

____

Sumber: digubah dari buku “Musibah Pasti Berlalu” (Quanta, 2014) karya Prof Dr KH Dadang Kahmad MSi

Editor: FA