Opini

Kanjuruhan

Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Narasi politik kebangsaan kian hari semakin kencang bak angin topan yang siap menghantam siapa pun yang berlaga jelang tahun politik 2024.

Momentum 30 September selalu diperingati sebagai gerakan politik jahat yang memilukan. Pelakunya oleh warga Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ribuan korban kejahatan Partai Komunis di balik berbagai tragedi. Pembantaian demi pembantaian nyawa seolah-olah itu sebuah syarat untuk berkuasa pada suatu negara.

Gestapu tahun 1965 menjadi simbol kejahatan terstruktur dan terencana. Korban seketika selalu menelan nyawa secara massal dalam satu waktu.

Seruan dari berbagai entitas sosial untuk tetap memperingati kejahatan Gestapu yang banyak mengorbankan jiwa sangat memilukan.

Selanjutnya besoknya tanggal 1 Oktober menjadi Hari Kesaktian Pancasila karena ideologinya mampu membangun spirit perlawanan kepada siapa pun yang akan mengubah falsafah negara akan berhadapan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Komunisme sebuah ajaran politik sosial kenagaraan yang lahir dari ajaran dan paham seorang sosiolog Karl Mark yang terkenal dengan teori kelas dan das kapital dalam terma ekonominya.

Menarik memang bagi para aktivis gerakan, khususnya bagi para mahasiswa yang baru mengenal dunia gerakan. Oleh karena itu, pada 1990-an setiap komunitas mahasiswanya terkenal dengan gerakan mahasiswa aliran kiri.

Kanjuruhan

Peristiwa pilu di Stadion Kanjuruhan wajib diselidiki secara objektif dan transparan. Pasalnya banyak hal yang menjadi tanda tanya besar hal ihwal yang berkaitan dengan banyaknya suporter yang meregang nyawa yang terus bertambah.

Selain pelanggaran aturan dari FIFA bahwa pengamanan tidak boleh menggunakan gas air mata, kondisi di lapangan ternyata aparat menembakkan gas air mata ke tribun suporter yang tidak rusuh juga sehingga hal tersebut mengakibatkan banyak korban.

Selain itu, pemukulan secara membabi buta pun terjadi. Tindakan represif tersebut harus diusut karena terindikasi melanggar HAM.

Apalagi penembakan gas air mata ke kerumunan suporter yang terjebak dalam ruangan dengan indikasi terkunci menuju keluar dan macetnya akses keluar stadion akibat berjubelnya suporter.

Belum lagi secara bersamaan dalam kondisi takut dan panik akibat gempuran dari tembakan gas air mata yang membuat sebagian terkapar hingga meregang nyawa.

Jeritan pilu para suporter karena sesak napas dan perihnya mata yang tidak tertangani dengan cepat menjadi tontonan yang mengenaskan. Penyelenggara ataupun pihak-pihak yang terlibat harus bertanggung jawab sepenuhnya atas peristiwa tersebut.

Baru saja mengenang pilunya keganasan dan kebrutalan Gestapu 56 tahun silam. Dengan peristiwa Kanjuruhan seakan-akan mengingat kembali luka sangat dalam bagi bangsa.

Jumlah korban yang sangat fantastis menjadi pukulan berat bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Malang, Jawa Timur, yang menjadi sejarah dunia yang memilukan sekaligus memalukan dunia olah raga di tingkat internasional. Hal ini menambah catatan buruk pengelolaan dan manajemen sepak bola nasional.

Belum pulih bangsa Indonesia masih luka mendalam dengan banyaknya peristiwa yang memilukan dan membuat marah rakyat atas ketidakmampuan mengelola negara.

Sejak awal pesta demokrasi pemilu 2019, banyak anggota penyelenggara pemungutan suara tingkat desa atau kelurahan meregang nyawa tanpa ada pengusutan dan kepedulian negara.

Peristiwa kanjuruhan yang terlihat dengan kasat visual mata, sangat keterlaluan ketika negara diam tidak peduli dan diam seribu bahasa. Nyatanya hingga saat ini para pemimpin bangsa belum merespons cepat meninjau langsung tempat kejadian.

Spekulasi dan dugaan liar pun muncul dari kalangan masyarakat. Dengan beredarnya informasi peristiwa tersebut terindikasi ada unsur kesengajaan melakukan tindakan kekerasan yang dapat menghilangkan nyawa.

Menembak gas air mata kepada suporter yang tidak rusuh dalam posisi berkerumun padat yang terjebak di ruang tribun sehingga mereka sulit keluar.

Selain hal di atas, penyelenggara diminta untuk menunda kompetisi, tetapi tidak diikuti. Apakah semua ini by design atau murni keteledoran penyelenggara kompetisi?

Semoga ini tidak dipolitisasi untuk kepentingan menjelang pemilu 2024. Ikut belasungkawa kepada keluarga para korban. Semoga diberikan ketabahan dan kesabaran menghadapi musibah yang menimpa. Wallahu ‘alam.***

Exit mobile version