Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Sosok ini merupakan pengusaha yang terbilang masih muda. Namun begitu, dia punya jaringan usaha yang luar biasa. Dia bukan orang yang terlalu terkenal karena dia tidak terlalu banyak promosi diri. Inilah Katno Hadi.
Berangkat dari usaha percetakan dan garmen kecil-kecilan, tetapi seiring dengan waktu, usahanya berangsur meningkat dan melebarkan sayap-sayap usahanya secara baik.
Berbagai jenis usaha dia rancang sesuai dengan insting dan naluri usahanya yang memang luar biasa. Berbagai peluang dan kesempatan yang ada di depan mata tidak pernah disia-siakan. Peluang seperti itu akan langsung cepat dieksekusi tanpa basa-basi.
Sikapnya yang egaliter, berinteraksi dengan siapa pun tidak pernah canggung. Bahkan dia dikenal sebagai pengusaha yang tidak pelit ilmu bisnis kepada siapapun.
Dia selalu transfer ilmu bisnis itu kepada siapa saja tanpa harus diminta. Apalagi jika dia diminta berbagi ilmu dan pengalaman berbisnisnya sudah dipastikan dia sangat senang melakukannya.
Bicara pengalaman yang dimiliki pengusaha ini, maka kita akan banyak mendapatkan berbagai hal terkait pelajaran berbisnis. Misalnya soal beberapa jenis usaha yang dikembangkan dianggap paling beresiko yakni bisnis ternak ayam petelur. Pasalnya, selain investasi infrastrukturnya cukup mahal, pergerakan harga telur sangat dinamis turun naik.
Dia pernah menyampaikan bahwa jangan main-main untuk investasi bisnis ternak ayam petelur kalau jumlah ayam ternaknya di bawah 50 ribu ekor. Secara kalkulasi bisnis, keuntungan rata-ratanya hanya 15 persen, selebihnya banyak digunakan menutupi biaya operasional.
Dengan kondisi tersebut, dia menyarankan kepada siapa pun apabila beternak ayam, khususnya ayam petelur, untuk menghindari kerugian fatal. Diusahakan beternak ayam petelur lebih dari 50 ribu ekor dengan pakannya dapat dibuat sendiri untuk efisiensi biaya operasional.
Selain masalah produksi telor dengan harga dinamis, biasanya ayam ternak selalu mengalami musim penyakit mematikan seperti flu burung atau penyakit tetelo (istilah penyakit flu ayam di kampung). Penyakit musim tersebut bisa menyebabkan kematian ayam secara massal.
Di sela-sela kesibukan sebagai pengusaha sukses, dengan jangkauan usahanya hingga mulai merambah ke luar Pulau Jawa, dia menyempatkan aktif di organisasi sosial mitra Polri yaitu Sentra Komunikasi Polri.
Program dan kegiatan yang dikembangkan berkaitan dengan sosial kemasyarakatan serta kebetulan yang menakhodai sebagai ketua umum organisasi tersebut dia sendiri.
Bahkan belum lama ini organisasinya mendapat penghargaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai organisasi yang konsisten dalam aktivitas sosial terkait kepeduliannya pada kebencanaan.
Termasuk setiap hasil usahanya, dia selalu menyisihkan sebagian hartanya untuk kepentingan umat dan masyarakat. Bentuknya bisa berupa membangun masjid, pengadaan mobil ambulan, dan lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.
Dalam waktu dekat, dengan kepiawaiannya membangun jejaring usaha bidang sektor riil, dia sedang proses penjajakan kerja sama “Al Baik”, brand makanan sebuah perusahaan ayam siap saji yang berasal dari Saudi Arabia.
Jamaah haji dan umrah tidak asing lagi dengan merek tersebut karena itu makanan siap saji yang sangat laku (best seller) dibandingkan dengan kompetitornya.
Rencana untuk tahap awal akan dibuka di Jakarta Selatan, persisnya di Jalan Raya Ciputat, Tanggerang Selatan. Selanjutnya akan dibuka di beberapa kota besar di Indonesia.
Pembukaan cabang “Al Baik”, merk dan brand makanan siap saji berbahan baku ayam yang ada di bawah perusahaan Arab Saudi ini bukan perkara mudah. Namun, justru di situlah keterampilan dia sebagai seorang pengusaha dipakai untuk bernegosiasi dengan mitra ataupun dengan calon mitra bisnisnya.
Sekalipun kondisi pandemi covid-19 menerpa dua tahun terakhir, justru dia dapat inspirasi mengembangkan usaha tempat orang untuk mengisolasi diri. Dia bisa memanfaatkan waktu dan momentum yang tepat.
Hampir dua tahun lamanya masyarakat Indonesia ditekan dengan kebijakan PPKM sehingga banyak membuat prustasi dan depresi.
Ketika mulai melewati masa itu orang-orang mencari tempat yang bisa memberikan kenyamanan dan ketenteraman jiwa dan raga. Melihat peluang tersebut, dia mendirikan usaha yang berkaitan dengan pelayanan seperti yang dibutuhkan orang-orang itu.
Itulah karakter pengusaha yang kreatif dan inovatif. Dalam kondisi apa pun dia dengan ide briliannya tetap berkreasi dan selalu menjelajah inspirasi-inspirasi baru.
Inilah sosok H. Katno Hadi, SE., MM., dia seorang pengusaha dan aktivis sosial dari Solo, Jawa Tengah, yang patut dicontoh oleh generasi muda yang ingin cepat mewujudkan impian sukses.***







