Opini

Kemerdekaan Indonesia: Bangkit Membangun Kedaulatan Negeri

Oleh: Ace Somantri*

Hari kemerdekaan Republik Indonesia hari bersejarah, di mana segenap bangsa Indonesia telah mencatat sebuah prestasi gemilang yang sangat luar biasa.

Berbagai elemen masyarakat telah membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia bangsa yang tangguh dan kuat, siapa pun bangsa lain yang berniat melakukan tindakan kolonialisme maupun imperialisme akan dihadapi dengan tanpa syarat.

Sekalipun mereka memiliki kekuatan penuh berbagai persenjataan canggih, bangsa Indonesia tetap akan melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan. 

Kemerdekaan sebuah keniscayaan, siapapun bangsa dan negara yang menjajah harus dihapuskan dimuka bumi.

Begitupun bangsa lain dimanapun, dipastikan bahwa harga diri dan kedaulatan negaranya tidak boleh diganggu semena-mena.

Indonesia sebagai bangsa yang besar, memiliki sejarah berbeda diantara negara-negara lainnya. Tidak sedikit negara lain merdeka karena dibantu oleh negara lain sehingga mereka merdeka karena bantuan campur tangan bangsa lain.

Hanya konsekuensinya, kemerdekaannya tidak suci dan murni sehingga akan meninggalkan jejak penjajahan dengan bentuk penjajahan yang sejenis. 

Dalam konteks lain, kemerdekaan bangsa lain banyak juga merdeka dan berdaulat yang tidak membebaskan karena kemerdekaan dengan syarat atau dimerdekakan.

Hal itu dikenal dalam narasi kebangsaan sebagai negara persemakmuran, dimana negara tersebut selamanya akan ada janji terikat secara politik harus tunduk dan patuh pada hal-hal tertentu yang sesuai kesepakatan yang ditandatangani dalam perjanjiannya.

Apa pun alasannya, negara persemakmuran tetap menjadi negara merdeka walaupun dimerdekakan dengan syarat, mereka berhak memiliki kedaulatan mengembangkan bangsa dan negaranya. 

Perlu dicatat, ada banyak kelebihan dan kekurangan fenomena diatas perihal diantara negara dengan kemerdekaan secara mandiri dan dimerdekakan oleh negara penjajahnya.

Fakta visual kasat mata, negara Indonesia merdeka murni dan suci tanpa diberikan kemerdekaan oleh negara penjajahnya memang memiliki harga diri, namun ternyata untuk membangun bangsa dan negara sangat butuh waktu lama.

Dirasakan oleh bangsa dan rakyat Indonesia, 80 tahun merdeka ternyata kita masih negara berkembang belum beranjak menjadi negara maju, padahal hampir seabad merdeka dari penjajahan. Kedaulatan yang dimiliki hanya dalam catatan, fakta dan realita kehidupan masyarakat Indonesia bicara lain. 

Kadang kita sebagai rakyat, pada saat-saat tertentu dengan negara lain yang belum lama merdeka namun perkembangan dan kemajuannya maju melesat. Pertumbuhan indeks kesejahteraan, pendidikan dan kesehatannya tumbuh kembang sangat cepat.

Mereka mengejar ketertinggalan dari bangsa lain yang lebih dahulu merdeka, sementara bangsa Indonesia lebih dahulu merdeka dengan tangan sendiri namun kemajuan indeksnya sangat lambat.

Walaupun sikap politik bangsa Indonesia memiliki kebebasan, bahkan bebas menentukan sikap politik luar negeri tanpa paksaan dan tekanan bangsa lain.

Namun, kadang sangat berbeda dirasakan saat waktu yang dibutuhkan untuk memberikan ketegasan kebijakan luar negeri bidang ekonomi terindikasi masih ada tekanan dari negara pendonor. 

Merdeka tetap merdeka, hidup atau mati jiwa raga kami untuk Indonesia. Di hari kemerdekaan selalu dihiasi dengan suasana gegap gempita bahagia luar biasa, anggaran pun pemerintah menyediakan dari pusat hingga pemerintah desa, bahkan tingkat RW dan RT. Hanya membedakan, tingkat warga mereka urunan dari warga semampunya.

Sebuah pernyataan viral belakangan ini mencuri perhatian publik. Entah benar-benar terjadi atau sekadar hasil rekayasa AI, kisah itu menampilkan seorang kakek yang diminta pendapatnya di momen Hari Kemerdekaan.

Dengan lugas ia berkata, “Merah darahku, putih tulangku, hitam kulitku, kosong dompetku, tebal pajakku, pusing kepalaku.”

Ketika ditanya mengapa dirinya pusing, sang kakek menjawab lirih namun tajam. Ia mengatakan bahwa kepalanya pening melihat negeri yang disebut merdeka, tetapi rakyatnya masih banyak yang sengsara. “Dulu kita dijajah oleh asing, sekarang dijajah oleh penguasa,” ujarnya penuh makna.

Terlepas dari benar salah, ada fakta yang tidak dapat disembunyikan apalagi direkayasa dengan kebohongan penuh kepalsuan, pada akhirnya tanpa disadari akan tercium bau busuk menyengat.

Kemerdekaan sebaiknya bukan sekedar merayakan sesaat, melainkan membangkitkan spirit dan motivasi jiwa dan raga untuk bangkit melawan ketidakadilan dalam diri dan lingkungan sekitarnya.

Sehingga mereka mampu membebaskan sikap dan perilaku untuk membangun kemandirian berpikir dalam upaya menegakkan kedaulatan bangsa dan negara sebenar-benarnya.

Seluruh harta kekayaan negara  dimanapun, wajib dikembalikan kepada rakyat dengan program pendidikan yang dapat diakses langsung tanpa sekat batas biaya dan yang lainnya. 

Semua elemen bangsa di mana pun, siapa pun kita bersama-sama dengan kekuatan penuh dan komitmen niat yang tulus.

Segala keahlian dan keterampilan yang dimiliki dapat ditumpahkan kepada semua masyarakat yang membutuhkan.

Kekuatan berjamaah dengan berbagai keahlian dan keterampilan multi disiplin ilmu, berkolaborasi dan sinergi tanpa ada ego dan gengsi.

Mengubah budaya lambat menjadi cepat, budaya malas menjadi rajin dan telaten  serta mengubah budaya birokrasi elitis menjadi egaliter populis.

Puluhan tahun, bahkan ratusan tahun budaya bangsa pada umumnya masih terlalu kental dengan pemisah antara tuan majikan, raja, abdi dalem dan budak.

Seolah hal demikian warisan budaya yang harus dipelihara dan dilestarikan turun temurun dalam ruang publik. 

Padahal, dari sikap demikian faktanya banyak indikasi yang mengarahkan sosok perilaku priyayi birokratis dan abdi dalem (kaum terpelajar) yang cenderung elitis.

Tidak dimungkiri pengaruh budaya raja keraton atau sejenisnya, memisahkan jauh raja dan rakyat serta kelas sosial kapitalis yang membentuk kelas kaya dan miskin. 

Dari dikotomi kelompok atau kelas tersebut, pada akhirnya menciptakan iklim budaya jabatan birokrasi dari sebuah prestasi yang menjadikan dirinya berkelas karena naik tahta mengubah status sosial. 

Islam menolak ajaran dan faham kelas sosial dengan pendekatan kasta dan tahta pada komunitas manusia.

Allah menciptakan sama, yang membedakan pada status akhir hidup dengan predikat sebagai seorang mukmin, muslim, muhsin hingga terjadi akumulasi predikat muttaqin.

Justru, akibat kasta dan tahta sosial dalam kehidupan didunia cenderung menjerumuskan pada jurang keburukan.

Sekalipun memiliki label status sosial terpandang, namun akan mengubah kehidupan diri dan lingkungan yang tidak berkeadilan yang menciptakan budaya sosial antagonistik.

Sehingga sulit diwujudkan kedaulatan bangsa ketika pendekatan sosial dan budaya birokrat  dengan kasta dan kelas sosial. 

Semoga kemerdekaan ke 80 memberi makna jauh lebih mendalam, selain refleksi jasa pejuang dan pahlawan bangsa namun juga mampu membangkitkan semangat kejuangan dan kepahlawanan untuk membangkitkan kepercayaan diri bangsa mampu membangun kedaulatan mutlak, sebagaimana tema kemerdekaan tahun ini.

Insyaallah, saat bangsa ini berdaulat maka ruang untuk kesejahteraan rakyat terbuka luas. Konsekuensi dari kondisi rakyat sejahtera, maka secara otomatis Indonesia maju dapat tercapai. Amin.

*Wakil Ketua PWM Jawa Barat 

Exit mobile version