PMB UMbandung
Islampedia

Kenapa Ahmad Dahlan Menjadikan Pendidikan sebagai Prioritas Gerakan Muhammadiyah? Ini Penjelasannya

×

Kenapa Ahmad Dahlan Menjadikan Pendidikan sebagai Prioritas Gerakan Muhammadiyah? Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Foto: IST.
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM – Banyak pertanyaan mengapa KH Ahmad Dahlan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama gerakan Muhammadiyah. Bahkan sekolah yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan berumur satu tahun lebih tua daripada gerakan Muhammadiyah.

Dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Senin (14/03/2022), Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyebut bahwa KH Ahmad Ahmad Dahlan memiliki alasan khusus menggarap pendidikan, yakni untuk merekat persatuan bangsa sekaligus melawan kolonialisme Belanda.

“Integrasi sosial ini sengaja dilakukan Ahmad Dahlan karena beberapa konteks. Pertama, konteks sosial di mana masyarakat saat itu, terutama masyarakat Islam tersegregasi dalam kelompok-kelompok sosial yang memang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipertemukan atau sangat sulit dipertemukan,” kata Mu’ti.

Baca Juga:  Benarkah Islam Mundur Karena Pemikiran Al-Ghazali? Begini Penjelasannya

“Nah sebagian dari segregasi sosial itu karena sistem pendidikan yang sengaja dibuat dikotomis. Kita tahu dari sejarah saat itu, sistem pendidikan terbagi menjadi model sekolah Belanda dan model sekolah pesantren yang dikembangkan masyarakat Islam,” ungkap Mu’ti.

Sekolah Belanda waktu itu tidak mengajarkan pelajaran agama sama sekali kecuali ekstrakulikuler. Sebaliknya, pondok pesantren tidak mengajarkan ilmu umum sama sekali, bahkan menyebut ilmu umum sebagai ilmu kafir.

Akibatnya, masyarakat yang lulus dari dua lembaga pendidikan itu menurut Mu’ti tidak bisa dipertemukan, baik dalam konteks sosiologis maupun konteks ideologis.

“Oleh karena itu KH Ahmad Dahlan kemudian mengembangkan sistem pendidikan yang di dalamnya diajarkan ilmu-ilmu umum, diajarkan mata pelajaran studi agama dan studi non-agama,” imbuhnya.

Baca Juga:  MDMC Jombang Bantu 10 Ribu Karung Untuk Perbaiki Tanggul Jebol

Untuk merekat persatuan bangsa, KH Ahmad Dahlan tak cukup dengan mendirikan Muhammadiyah. Namun, beliau juga memilih mengajar ekstrakulikuler agama di sekolah guru dan sekolah pamong praja.

Dipilihnya sekolah guru dan sekolah pamong praja pun dilakukan Ahmad Dahlan dengan pertimbangan strategis agar prinsip persatuan bumiputera lebih tersebar luas karena pengaruh guru dan kebijakan pamong praja.

“Kita tahu sistem pendidikan Belanda itu membagi murid dan kesempatan pendidikan berdasarkan kelas sosial mereka sehingga kalangan-kalangan elite bisa sekolah sampai jenjang tinggi, bahkan sampai luar negeri, tetapi kalangan alit hanya bisa sekolah sampai sekolah ongko loro. Dan kalau kita membaca buku-buku pendidikan Indonesia, kita bisa melihat bagaimana politik pecah belah belanda itu sukses dilakukan dari pendidikan,” terang Mu’ti.

Baca Juga:  Hakikat Mencintai Muhammadiyah

Menariknya, untuk merekat persatuan bangsa, KH Ahmad Dahlan melakukan integrasi sosial dengan membolehkan masyarakat non-muslim untuk belajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Hal itulah yang terjadi di Muhammadiyah dari dahulu hingga sekarang.

“KH Ahmad Dahlan melihat persoalan disintegrasi dan segregasi itu melalui pendidikan. Dan kalau kita baca bukunya Kiai Syudja’, KH Amad Dahlan dalam mengajarkan pelajaran agama lewat ekstrakulilkuler itu yang ikut bukan terbatas yang beragama Islam, bahkan yang berbeda agama pun diperbolehkan mengikuti pelajaran,” jelas Mu’ti.***

PMB UMBandung