Ketaatan Palsu, Dosa, dan Ibadah

oleh -
Foto: Blog.febc.org

BANDUNGMU.COM – Sesungguhnya tidak ada sesuatu hal pun di dunia ini yang lebih menggembirakan, kecuali bisa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna.

Sempurna dalam arti memiliki ketaatan yang dilandasi keikhlasan hati, jauh dari upaya pura-pura taat padahal di belakang itu sering melanggar aturan Allah, dan tidak pernah memaksa dalam bentuk apa pun kepada Sang Khalik.

Hamba Allah yang benar-benar taat kepada-Nya tidak akan pernah membuat siapa pun merasa dilecehkan. Selalu optimistis menatap masa depan dan tidak pernah malu untuk menyesali sebuah perbuatan apabila perbuatan itu menyimpang dari ajaran dan kasih sayang Allah yang Rasulullah ajarkan. Ia akan menyesalinya dengan tobat.

Sering kali kita bangga mengaku taat kepada Allah. Bangga dengan semua ibadah yang setiap saat dilakukan. Namun, kadang-kadang kita juga tidak berhenti melakukan kesalahan dan dosa.

Bahkan, selalu menolak dengan keras kalau ada orang yang menasihati dan mengingatkan kita. Seolah-olah kita sendiri yang paling benar. Orang lain semuanya salah.

Sesungguhnya ketaatan kepada Allah tidak selalu dibuktikan dengan pakaian dan tampilan fisik semata, meskipun hal itu sangat penting. Orang yang berpakaian layaknya nabi belum tentu lebih mulia posisinya di sisi Allah dibandingkan dengan orang yang berpakaian ala kadarnya.

Apa sebabnya? Hanya Allah yang tahu hakikat isi hati hamba-Nya. Kita hanya bisa menebak.

Terkadang kita shalat, tetapi pada waktu yang lain kita melakukan dosa. Ada apa dengan shalat kita?

”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Ankabut: 45).

Kita rajin shalat bahkan tidak pernah ditinggalkan. Namun, hasil shalat tidak pernah berbekas dalam praktik keseharian. Shalat sebatas ritual yang tidak punya arti apa pun selain dapat lelahnya saja. Di atas sajadah kita taat, di luar itu kita sebaliknya.

Shalat adalah patokan utama baik dan buruknya akhlak manusia di sisi Allah. Jika shalat tidak mampu mengubah diri menjadi pribadi yang menjauhi maksiat, berarti cara kita mengerjakan dan memaknai shalat pasti ada yang salah.

Apa sebab? Tidak mungkin ketaatan disandingkan dengan kemaksiatan. Keduanya selalu berada di jalan yang berbeda. Tidak mungkin sama apa pun alasannya.

Pada suatu hari, Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai seseorang yang biasa memperlama shalatnya. Kemudian sahabat Rasulullah yang saleh ini berkata, ”Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.”

Kalau shalat tidak mampu mengubah diri menjadi lebih saleh, tampaknya kita harus mengoreksi shalat kita dengan saksama. Hal ini tidak bisa dibiarkan karena kita akan rugi sendiri, terlebih kelak di akhirat ketika bersidang di hadapan Allah Sang Khalik.

Hasan al-Bashri berkata, ”Barang siapa yang melaksanakan shalat, tetapi shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.”

Tentu kita tidak ingin menjauh dari Allah. Wallahualam.

Sumber: Republika Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *