OpiniSosok

KH Ayat Dimyati: Guru dan Orang Tua Muhammadiyahku (1)

×

KH Ayat Dimyati: Guru dan Orang Tua Muhammadiyahku (1)

Sebarkan artikel ini
KH Ayat Dimyati (Dok muhammadiyah-jabar.id)

Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Teringat kala itu baru masuk kuliah, ada mata kuliah hadits. Namun, saat itu dalam tatap muka perkuliahan kurang menarik dan dilanjut dengan dosen yang berbeda pun kurang menarik juga.

Bukan dosennya kurang baik, apalagi tidak mumpuni, itu sangat tidak mungkin. Apalagi dua orang tersebut adalah ustaz atau kiai cukup terkenal pada dua ormas Islam terbesar di Indonesia.

Kedunguanku kala itu telah menjadi awal mengenal seorang dosen yang kurang disenangi yang justru menjadi orang tuaku. Sekalipun nilaiku pada akhirnya tidak memuaskan, tetapi realitas berkata lain.

Sejak diajak diskusi oleh kaka kelasku pada suatu organisasi kemahasiswaan ekstra kampus dan ternyata dari beberapa narasumber pengantar diskusi ada dosen yang pernah mengajar ketika semester awal masuk.

Beda ketika dalam perkuliahan dengan suasana diskusi walaupun hanya beberapa orang mahasiswa, kala itu kalau tidak salah hanya berempat di sebuah sekretariat Gang Kujang Cipadung.

Tema materi diskusi bagiku tidak menarik. Namun, ketika larut dalam diskusi ternyata cara berpikir keagamaan narasumber tersebut terbilang nyentrik dan di luar keumuman yang didengar. Boleh dibilang liberal.

Baca Juga:  Profil KH Ali Yafie

Di situlah pertama kepincut cara berpikir rasional dan logis tentang pemikiran keislaman oleh sosok dosen yang awalnya tidak disukai menjadi menggemari. Bahkan saat itu menjadi titik awal sebagai aktivis ortom persyarikatan di kampus non perguruan tinggi Muhammadiyah.

Tidak peduli jumlah peserta diskusi hanya beberapa orang, paling banyak 4 sampai 5 orang saja, tidak lebih, setiap mengikuti kajian. Akhirnya tidak terasa jiwaku larut dalam pelukan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Hingga pada suatu waktu didaulat menjadi Ketua Umum Komisariat IAIN SGD Bandung dalam kondisi boleh dikatakan hampir lost generation karena kala itu yang bermusyawah kurang lebih hanya 15 orang mewakili berbagai fakuktas.

Tidak pernah menolak

Tradisi diskusi dalam kajian diteruskan, bahkan harinya ditambah. Tema-tema diskusi sangat variatif, so pasti dosen yang paling rajin mengisi adalah KH Ayat Dimyati.

Beliau seingat dalam memoriku tidak pernah menolak permintaan untuk mengisi kajian, bahkan boleh dikata tidak pernah telat dari jadwal yang ditentukan. Justru mahasiswa yang pada telat.

Baca Juga:  Ahmad Azhar Basyir, Muhammadiyah, dan Kepemimpinan Intelektual

Selain menjadi narasumber tetap dan memberikan materi dengan kajian menarik, beliau pun menjadi donatur tetap. Dalam wajahnya selama kukenal, nyaris selalu terlihat tersenyum bahagia sekalipun pulang pergi dari rumah ke kampus bergelantungan dalam bus damri.

Siapa pun aktivis mahasiswa Muhammadiyah di kampus mustahil tidak mengenal beliau. Nalar intelektualnya selalu menginspirasi. Ketawaduan menjadi bumbu perilaku. Kesederhanaanya meneladani dan menjadi semangat juang kemuhammadiyahan sekaligus keislamannya mengikat emosi para aktivis Islam.

Pujian dari sejawat dosen sering terlontar baik dari para profesor dan tenaga kependidikan. Itu semua diketahui bukan hanya informasi, melainkan menyaksikan dengan mata sendiri karena kala itu sebagai mahasiswanya dan setelah lulus dilanjut menjadi asisten beliau.

Kebaikan akhlak beliau menjadi perangainya. Hampir tidak ada sivitas akademika Fakultas Syariah (UIN SGD Bandung) menilai kurang baik, apalagi buruk.

Justru sebagian besar sependek yang diketahui banyak dosen sejawat kadang-kadang merasa malu karena belum bisa meniru akhlak sebaik beliau.

Dari perangai akhlak beliau, selain orangtuaku, dia menjadi salah satu panutan hidupku, hingga terus memupuk jiwaku bangga menjadi kader persyarikatan.

Baca Juga:  Merespons Perubahan Model KH Ahmad Dahlan

Nyaris sulit menemukan sosok seperti beliau. Ungkapan ini ternyata banyak orang yang mengakui kekaguman nalar intelektual dan perangai akhlak yang baik pada dirinya. Juga tidak sedikit mahasiswa dibantu penyelesaian akademik baik dari sisi pembiayaan maupun masalah lainnya.

Tidak berhenti menjadi mahasiswa dan asisten mengajar di kelas, selama itu juga beliau sudah kuanggap sebagai orangtua angkat. Maka ketika melepas lajang, meminta beliau mendampingi dan mewakili orangtuaku meminang seseorang tambatan hati.

Perasaanku sejak mengenal dekat, ketulusan hati beliau bukan hanya mengajarkan, melainkan mendidik sebuah pengalaman hidup. Nyaris tidak pernah melihat wajah dan muka kecewa selama kenal, kecuali ketika beliau melihat karirku sebagai dosen di kampus yang pernah mengajar lebih 5 tahun lamanya diperlakukan tidak adil.

Sejak itu juga dia merekomendasikan untuk tidak lanjut mengajar di kampus tersebut. Karena beliau sangat kecewa melihat anak didiknya sekaligus kadernya diperlakukan tidak adil. Kejadian itu menjadi peristiwa pertama melihat wajah marah dan kecewa. Wallahualam.***