Opini

Khutbah Jumat: Puasa dan Syahwat Haram

Ilustrasi (media.istockphoto).

NUR FAJRI ROMADHON — Anggota Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta, Ketua MTT Muhammadiyah Arab Saudi 2019-2022, dam peneliti di Maqasid Institute Virginia

BANDUNGMU.COM — Bagi seorang muslim, panduan tertinggi benar-salah, boleh-tak boleh, dan baik-buruk adalah Islam, bukan yang lain, betapapun indahnya.

Muhammadiyah pun menegaskan ini dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup: ”Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia.”

Beberapa dekade ini kita menyaksikan adanya usaha-sadar atau tidak-dari sebagian orang untuk mempopulerkan sebuah perbuatan dosa besar: hubungan sesama jenis.

Padahal hubungan sesama jenis, baik homoseks maupun lesbian, baik di dalam maupun di luar akad pernikahan, adalah perbuatan haram berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma (konsensus/kesepakatan) seluruh saḥabat dan ulama lintas generasi, serta bertentangan dengan maqaṣid syariah (tujuan pensyariatan agama).

Allah SWT berfirman:

“Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Namun, barang siapa mencari di balik itu (zina, homoseks, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS Al-Mu’minun: 5-7 & Al-Ma’arij: 29-31).

Rasulullah SAW bersabda:

“Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Lut. 3x” (HR Aḥmad no. 2816).

Al-Imam Al-Qurṭubiyy–yang tafsir beliau paling detail membahas dimensi hukum dalam tafsir–tegaskan:

“Firman Allah: ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faḥisyah itu?’ yakni hubungan seksual pria dengan pria. Allah sebut perbuatan ini dengan nama faḥisyah untuk menjelaskan bahwa ia termasuk zina, yang mana Allah telah firmankan: ‘Janganlah kalian dekati zina karena sesungguhnya ia adalah faḥisyah.’ (QS Al-Isra’: 32).

Seluruh ulama hanyalah berbeda pendapat tentang hukuman pidana perbuatan homoseksual ini setelah mereka telah berkonsensus bahwa perbuatan ini haram.”

Al-Imam Ibnul Qayyim dan Al-Imam Ibnul Qaṣṣar bahkan telah nukilkan kesepakatan saḥabat akan hal ini. Al-Imam Al-Qaffal Asy-Syasyiyy pertegas bahwa ini ijma kaum muslimin seluruhnya.

Memang keharaman hubungan sesama jenis sebagaimana ditegaskan Al-Imam Ibnu Ḥajar Al-Haitamiyy dan lain-lain merupakan hal yang ma’luumun minad-diini biḍ-ḍaruurah (perkara dalam Islam yang telah jelas diketahui siapa pun).

Kita tentu tahu bahwa suatu hukum yang telah menjadi ijma ulama, maka kebenarannya absolut, sebagaimana dijelaskan para ulama, termasuk Al-Imam Ar-Raziyy dan Al-Imam Al-Āmidiyy.

Al-Imam Al-Ghazaliyy pun pertegas bahwa dengan disepakatinya suatu hukum oleh para ulama, maka diyakini secara pasti bahwa demikianlah memang hukum Allah.

Sebagian orang coba membela bahwa perbuatan homoseks dan lesbian itu adalah sesuatu yang normal dan alami karena berasal dari dorongan diri. Sayangnya hal tersebut selain bertentangan dengan agama, juga tidak terbukti secara sains.

Sejarah membuktikan bahwa para pendukung homoseks dan lesbian melakukan tekanan dan paksaan secara anarkis kepada para politisi dan ilmuwan di tahun 1960-an dan 1970-an untuk menghilangkan ketertarikan pada sesama jenis dari daftar mental disorder serta membuat aturan-aturan yang memfasilitasi mereka.

Juga banyak penelitian telah diusahakan untuk menemukan hubungan genetik dengan perilaku homoseksual. Sebut saja penelitian yang dilakukan Robert Plomin tahun 1990 hingga Alan Sanders tahun 2014 dan Biobank study tahun 2019 yang semuanya gagal memberikan bukti ilmiah tentang pengaruh “gay gene”.

Bahkan studi paling terkenal tentang genetika dan homoseksualitas yang dilakukan Dean Hamer (1993) dengan tajuk “A Linkage between DNA Makers on the X Chromosome and Male Sexual Orientation”, ketika banyak media melaporkan secara tidak akurat tentang hasil penelitian ini bahwa konon Hamer berhasil membuktikan, ternyata Hamer sendiri berkata: “We have not found the gene -which we don’t think exists- for sexual orientation.”

Terlalu banyak ilmuwan yang sanggah klaim berlebihan ini. Tidak hanya dalam hal orientasi seksual, memang gen tidak bisa dijadikan alasan yang tepat dalam perilaku-perilaku manusia. Justru faktornya adalah pola asuhan keluarga, trauma psikologis, dan lingkungan pergaulan.

Taruhlah, andai memang ketertarikan terhadap sesama jenis adalah dorongan alami dari naluri seksual seseorang–untuk tidak secara berani menyebutnya fitrah apalagi sunnatullah–tetap itu tidaklah lantas menjadikan hubungan sesama jenis menjadi halal.

Malahan memang ketika Allah mengecam perbuatan liwaṭh, Allah sebutkan bahwa alasan kaum Luṭ melakukan hal tersebut adalah “ketertarikan”, syahwatan.

Allah firmankan:

“Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” (QS Al-A’raf: 81).

Di ayat lain Allah juga katakan:

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) syahwat(mu), bukan (mendatangi) perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (QS An-Naml: 55).

Di sini Allah menyebut ketertarikan pada sesama termasuk “syahwat”. Malah menariknya, kata syahwat di dalam Al-Qur’an hanya muncul dua kali ini, yang kedua-duanya terkait dengan “ketertarikan seksual pada sesama jenis”.

Dari sini pahamlah kita bahwa titik pengharaman hubungan sesama jenis bukan terbatas pada apakah perbuatan ini alami atau tidak. Bahkan andai pun memang ia adalah syahwat yang alami, tetap ia adalah syahwat yang haram dituruti.

Sama seperti halnya seseorang yang tergoda kecantikan adiknya atau ibu tirinya, tidaklah bisa jadi alasan pembenaran untuk menikahi mereka.

Justru ia adalah sebagian dari ujian Allah yang jika seseorang sabar mengendalikannya, maka pahala besar Allah berikan padanya, sebagaimana konsep yang familiar dalam usul fikih dan diterangkan dalam “Iḥyaau ‘Uluumiddiin” saat pembahasan sabar atas godaan dosa.

Allah SWT puji dan janjikan ampunan beriring pahala besar bagi para pejuang kesabaran dari godaan melanggar larangan-Nya. Allah firmankan tentang orang yang secara alami bersuara lantang namun berusaha merendahkan volume suara mereka ketika bersama Rasulullah sebab ada larangan meninggikan suara di dekat beliau:

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ḥujurat: 3).

Islam–sesuai dengan akar katanya–adalah agama ketundukan. Tunduk pada perintah dan larangannya sekalipun diri harus berjuang untuk itu.

Bulan Ramadan baru genap dua pekan meninggalkan kita. Banyak dari kita pun sedang puasa Syawwal. Tidakkah efeknya masih bersisa dalam diri kita? Bukankah puasa mendidik kita mengendalikan syahwat, bukan menurutinya apalagi mencari pembenaran-pembenaran untuk menuruti syahwat haram? Semoga kita dapat terus menjaga hasil didikan Ramadan.***

Exit mobile version