UMBandung
News

Kompak dan Bersatunya Ormas Islam Menjadi Kunci Kemajuan Indonesia

×

Kompak dan Bersatunya Ormas Islam Menjadi Kunci Kemajuan Indonesia

Sebarkan artikel ini

BANDUNGMU.COM, Bandung – Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi merasa bangga bisa hadir dalam kegiatan silaturahmi keluarga besar Muhammadiyah Jawa Barat karena persyarikatan juga mengundang ormas-ormas besar.

Silaturahmi keluarga besar Muhammadiyah Jawa Barat ini berlangsung di Aula Masjid Raya Mujahidin, Jalan Sancang Nomor 6, Kota Bandung, pada Kamis 09 Mei 2024.

”Kalau di Jawa Barat ini, Muhammadiyah, NU, Persis, PUI, dan sebagainya bisa lebih kompak dan bersatu, saya yakin itu sangat hebat dan kita akan semakin maju. Kalau ini kompak, kita akan bisa menentukan apa saja di Jawa Barat,” ujar Didi.

Didi merasa terhormat bisa hadir ke markas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiah. “Berarti saya masih dianggap orang Islam,” tutur Didi sambil bergurau diiringi tawa hadirin.

Baca Juga:  Sebanyak 41 Orang Tewas dalam Kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang

Didi menerangkan bahwa sebenarnya dahulu pengurus Paguyuban Pasundan itu, Otto Iskandardinata, merupakan guru Muhammadiyah. Otto juga merupakan pendiri Pembela Tanah Air atau PETA yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.

“Beliau itu Ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan dan juga menjadi guru Muhammadiyah. Ia juga merupakan menteri pertama di Indonesia. Selain itu, ada juga Djuanda. Ia pun guru Muhammadiyah. Ia juga pernah menjadi menteri,” terang Didi.

Terkait hubungan Paguyuban Pasundan dengan Muhammadiyah, kata Didi, keduanya sangat erat. Muhammadiyah berdiri pada 1912, sedangkan PB Paguyuban Pasundan pada 1913. “Tahun berdirinya hanya beda satu tahun. Menjaga, memelihara, dan menyebarkan Islam merupakan misi Paguyuban Pasundan, termasuk mengatasi kebodohan dan kemiskinan,” tegas Didi.

Masifnya korupsi

Lebih jauh, saat ini Didi prihatin atas berbagai persoalan yang terjadi Indonesia. Salah di antaranya banyaknya kepala daerah yang terjerat korupsi. Dahulu, kepala daerah yang terjerat korupsi bisa dihitung dengan jari. Saat ini, kata Didi, hampir 80 persen kepala daerah terkena kasus korupsi.

Baca Juga:  Benarkah Ajaran Tasawuf Adalah Puncak Spiritual dalam Islam? Ini Penjelasan Muhammadiyah

Dari peristiwa tersebut, Didi berkesimpulan bahwa telah terjadi paradoksal keberagamaan umat beragama. “Sudah tahu di dalam agama bahwa korupsi atau suap-menyuap itu dilarang (kenapa banyak yang melakukannya). Ini mungkin ada metode yang kurang tepat dan harus menjadi perhatian kita bersama,” tandas Didi.

Selain fakta itu, Diri juga khawatir terkait kondisi masyarakat Indonesia apabila melihat hasil survei dari Monash University. Menurut survei itu, orang Indonesia yang bisa membaca Al-Quran hanya 15 persen dan 30 persen yang suka melaksanakan salat.

Dakwah ekonomi

Hal yang lebih memprihatinkan lagi, di Garut ada beberapa keluarga yang pindah agama menjadi Nasrani. Faktor ekonomi dan pendidikan yang menjadi penyebabnya.

Baca Juga:  Prodi Akuntansi UM Bandung Sukses Gelar ACST 1st International Conference 2024

“Hanya sedikit dari mereka yang kembali ke Islam. Inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama untuk jadi lahan dakwah. Mungkin nanti kita bekerja sama atau berdakwah dalam ekonomi, utamanya bagaimana membina masyarakat, misalnya, melalui UMKM,” kata Didi.

Di samping itu, soal narkoba dan efek negatif gadget terhadap perkembangan anak-anak Indonesia juga tidak luput dari keprihatinan Didi Turmudzi. Ia berharap semua pihak memikirkan dan mencari solusi atas permasalah krusial tersebut.

Silaturahmi keluarga besar Muhammadiyah Jawa Barat ini dihadiri oleh Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad, para ketua dan anggota PDM/PDA se-Jawa Barat, termasuk para ketua ortom. Selain itu, hadir juga beberapa ketua ormas Islam di Jawa Barat.***

PMB UM Bandung