UMBandung
Opini

Kompleksitas Kehidupan dan Tahun Baru

×

Kompleksitas Kehidupan dan Tahun Baru

Sebarkan artikel ini
Istimewa.

Oleh: Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation

BANDUNGMU.COM — Dunia modern yang terbangun di atas paham materialisme terbukti melahirkan ketidakpuasan abadi. Manusia berlari dan berlari memburu dunia tanpa akhir.

Namun, buruan itu semakin menjauh dari mereka. Dunia memang sejatinya tanpa iman tidak lebih dari fatamorgana.

Akibatnya manusia semakin tertipu oleh dunia yang penuh tipuan (ghurur). Anehnya pula manusia takkan pernah tersadarkan hingga masanya berpisah darinya.

“Mereka dijadikan tidak sadar oleh kecenderungan memperbanyak (harta) hingga mereka dipaksa berpisah dari dunia (masuk ke dalam kubur)” (Al-Humazah).

Situasi ini melahirkan kegersangan dan kegelisahan hidup tanpa akhir. Semakin banyak yang diakumulasi semakin pula perasaan kekurangan itu.

Batin merana, menjerit mencari ketenangan. Namun, dunia yang dijadikan sandaran ketenangan justru semakin melahirkan kerisauan dan kekhawatiran (khauf).

Di sinilah sesungguhnya Islam hadir untuk membawa ketenangan hakiki. Islam pada dirinya dan seluruh tatanannya sebagai jalan hidup terbangun di atas dasar kedamaian, ketenangan, dan ketenteraman.

Situasi itu yang digambarkan dalam doa seorang muslim di setiap akhir salat: “allaahumma antas salaam, wa minkas salam, wa ilaika ya’udus salaam, fahayyina Rabbana bis-salaam, wa adkhilna daaras salaam”.

Islam sendiri berasal dari kata “salima” yang terdiri dari tiga huruf: siim, laam, miim. Dari tiga itu terlahir tiga kata dengan makna yang relevan dengan Islam. Al-Islamu (الاسلام) as-Silm (السلم) dan As-salaam (السلام). Ketiga kata ini menggambarkan secara totalitas Islam sebagai tuntunan hidup.

Pertama, kata “salima” melahirkan kata Al-Islam. Kata ini terbentuk dengan tambahan alif di depan “aslama-yuslimu-islaam”. Makna literal dari kata ini adalah “berserah diri, menyerah, tunduk, patuh, dan yang semakna”.

Baca Juga:  Dialog Sejati, Temu Wajah dan Pesan Silaturahim

Kata Islaam disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran. Satu di antaranya adalah “sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah Islaam”.

Pada aspek ini Islam dimaknai sebagai pintu kebenaran. Kata Islaam (الاسلام) adalah pintu utama (main gate) untuk masuk ke dalam tatanan agama kebenaran.

Sehingga yang masuk ke pintu tersebut adalah mereka yang telah menerina dan mengimani. Jika belum mengimani maka seseorang itu tidak bisa dikategorikan masuk Islam.

Sehingga perintah-perintah keagamaan kepada orang-orang Islam pada galibnya dimulai dengan seruan: “wahai orang-orang yang beriman”.

Masalahnya kemudian adalah ketika seseorang telah masuk ke pintu utama (main gate) Islam itu, yang bersangkutan belum tentu telah melaksanakan semua tuntunan (kurikulum) hidup yang digariskan oleh Islam.

Itulah sebabnya Allah menyeru mereka untuk masuk ke dalam agama dengan penyebutan: SILM secara sempurna seperti di ayat berikut.

Kedua, dari salima juga terlahir kata “silm” (السلم). Seperti yang disebutkan dalam Al-Quran: “wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam silm (agama Islam) secara kaffah (sempurna)”.

Islam pada sisi “silm” ini merupakan rincian tuntunan atau kurikulum hidup (manhaj kehidupan) yang tercakup dalam tatanan agama Islam. Tuntunan itu terbagi kepada empat bagian yang saling terkait: akidah, ibadah, muamalat, dan akhlak.

Akidah adalah tuntunan yang terkait dengan aspek keimanan seorang muslim. Hanya saja aspek ini tidak tampak. Oleh karena itu, perlu pembuktian dalam bentuk ibadah.

Baca Juga:  Idul Qurban dan Pelajaran Tauhid dari Kisah Nabi Ibrahim

Namun, ibadah perlu juga dibuktikan dalam relasi sosial yang disebut muamalat. Namun, muamalat itu hanya akan bernilai ketika terbangun di atas etika yang disebut akhlak sehingga etika menjadi intisari dari religiositas seseorang.

Maka ketika orang-orang yang sudah masuk ke dalam tatanan Islam (Al-Islaam) diseru untuk masuk Islam secara menyeluruh (As-Silm) agar mereka memastikan bahwa akidah mereka benar, ibadah mereka benar, muamalat mereka benar, dan akhlak mereka mulia.

Tiga, kata salima akhirnya melahirkan kata “as-salaam” (السلام). Bahwa ketika keislaman (silm) itu telah disempurnakan (akidah, ibadah, muamalat, akhlak) maka itulah yang akan melahirkan kedamaian dan ketentraman dalam hidup manusia.

Oleh karena itu, kedamaian sejati dalam pandangan Islam bukan sekedar tiadanya perang. Kedamiaan dan ketenteraman hidup sejati justru hadir ketika Islam telah disempurnakan pada keempat aspeknya.

Solusi menghadapi materialisme

Pandangan hidup materialis melahirkan ragam konsep kehidupan sebagai aktualisasinya. Konsep ekonomi kapitalis misalnya terlahir untuk semakin memperkuat kungkungan paham materialisme dunia modern.

Manusia semakin rakus, egois, bahkan buas demi memperkaya diri tanpa pertimbangan etika dan kemanusiaan.

Di sinilah Islam kemudian hadir dengan konsep-konsep kehidupan yang terbangun dengan “mindset” positif mengimbangi tendensi destruktif dalam kehidupan manusia.

Satu, Islam mengajarkan bahwa kehidupan ini secara totalitàs berada di bawah satu kontrol, Allah SWT. Seperti yang digambarkan salah satunya di ayat pertama surah Al-Mulk.

Baca Juga:  Kasus Wadas dan Catatan Buruk Kepemimpinan

Dua, bahwa semua hiruk pikuk yang terjadi dalam hidup manusia merupakan kreasi atau ciptaan Allah (alladzi khalaqal mauta wal-hayata). Dalam pandangan iman semua kreasi Allah pasti baik/sempurna dan membawa kebaikan.

Tiga, Islam mengajarkan bahwa tabiat kehidupan dunia itu memang identik dengan cobaan (liyabluwakum). Oleh karena itu, manusia beriman mempersiapkan diri untuk teruji.

Empat, Islam mengajarkan bahwa tugas manusia dalam kehidupan adalah menjalani proses (wa quli’maluu). Proses itu sendiri merupakan tujuan hidup (ibadah). Oleh karena itu, manusia beriman menikmati semua proses dengan segala warna warninya.

Lima, Islam mengajarkan bahwa dengan iman semua pasti membawa kepada kesuksesan. Berkali-kali iman dan amalan keimanan dalam Al-Quran diakhiri dengan “la’allakum tuflihuun” (agar kalian sukses).

Enam, pada akhirnya Islam mengajarkan bahwa tingkatan tertinggi dari aspirasi kehidupan manusia adalah “kebahagiaan ukhrawi”. Karena itulah kehidupan yang pasti dan abadi.

“Maka barang siapa yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh dia telah beruntung” (Al-Imran).

Semoga di awal tahun ini kita semua semakin sadar bahwa Islam adalah ajaran keselamatan (salvation) dari ancaman kebangkrutan dunia modern yang semakin senja.

Tentu yang terpenting adalah agar umat ini kembali menguatkan keyakinan bahwa Islam adalah “rahmatan lil-alamin”… yang membawa kebaikan dunia dan akhirat.

Selamat memasuki tahun 2024. Semoga tahun ini membawa kebaikan dan keberkahan yang lebih besar. Amin.***

Jamaica City, 01 Januari 2024

PMB UM Bandung