Setiap pagi, banyak orang langsung membuka ponsel begitu bangun tidur. Jempol menggeser layar tanpa henti, menelusuri video pendek, potongan berita, dan opini singkat. Arus konten yang serba cepat ini menciptakan ilusi pemahaman instan dan perlahan menggerus kebiasaan membaca mendalam.
Budaya scroll membuat kita berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa memberi waktu untuk memahami. Aktivitas membaca kehilangan fokus dan berubah menjadi konsumsi cepat. Otak yang terbiasa rangsangan instan pun cepat lelah saat menghadapi teks panjang.
Notifikasi dan video otomatis terus memecah perhatian. Akibatnya, kemampuan membaca perlahan melemah. Membaca tidak lagi menjadi proses memahami konteks dan menghubungkan ide, melainkan sekadar menerima informasi singkat.
Dampaknya terasa di dunia akademik. Banyak mahasiswa tertarik pada isu tertentu, tetapi enggan membaca jurnal secara utuh. Ketergantungan pada ringkasan membuat diskusi kehilangan kedalaman.
Di ruang digital, perhatian menjadi komoditas. Konten yang cepat memancing reaksi lebih sering menang dibandingkan konten yang penting. Masyarakat pun lebih cepat menilai, tetapi semakin sulit memahami persoalan secara menyeluruh.
Membaca mendalam adalah bentuk perawatan diri. Dengan meluangkan waktu membaca tanpa distraksi, kita menjaga kejernihan berpikir. Krisis literasi baca bukan soal seberapa sering membaca, melainkan seberapa dalam memahami. Dunia boleh bergerak cepat, tetapi pikiran tidak harus selalu mengikutinya.***(IK22/Cellinda)
