OLEH: INDING USUP SUPRIATNA — Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat
BANDUNGMU.COM — Idul Fitri merupakan akhir dari perjalanan ramadhan sekaligus awal dari perjalanan Syawal.
Dalam perjalanannya, ramadhan telah mengajarkan banyak pelajaran yang begitu berharga juga bermakna. Berharga karena telah mengajarkan cara mengelola diri; mengelola hati, mengelola pikiran, mengelola perilaku untuk selalu berbuat kebaikan yang dikemas dengan shaum Ramadhan. Dan bermakna karena telah menanamkan nilai-nilai keteladanan sebagai insan yang bertakwa kepada Allah SWT.
Ramadhan juga selalu menemani kita dengan alunan syahdu lantunan bacaan Al Qur’an dan menggali ilmu dan makna yang terkandung di dalamnya, kemudian mengisi ruang-ruang di masjid dengan mendirikan shalat fardhu, dhuha dan tarawih serta melaksanakan aktivitas iktikaf untuk memperoleh berkahnya dan mencurahkan ampunan kepada Allah SWT dalam rangka mensucikan diri. Memperbanyak infak dan sedekah kemudian menutupnya dengan mensucikan harta yang dimiliki dengan menunaikan zakat fitrah.
Oleh sebab itu sejarah kehidupan manusia telah dimulai kembali untuk menjadi pribadi yang bersih, bersih hati dengan memiliki keteguhan iman kuat, bersih pikiran dari berpikir yang tidak baik, dan berperilaku welas asih yang melahirkan budaya gotong royong pada seluruh lapisan masyarakat.
Perjalanan Syawal
Gema takbir yang berkumandang di seluruh negeri mengagung keesaan Allah SWT bahwa tidak ada yang menyerupai Allah dalam segala kebaikan, tidak ada yang bisa menandingi-Nya dalam segala kekuatan, dan Allah berkuasa mengatasi segala masalah hamba-Nya, karena Allahlah sesungguhnya pemilik seluruh alam raya ini.
Kalimat takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema menghiasi malam yang menandai hari raya Idul Fitri bukanlah sekedar ucapan lisan tanpa ilmu dan amalan, bukanlah sekedar keyakinan tanpa aplikasi tuntunan dan persyaratan, tetapi ia adalah kalimat yang mulia mengandung makna yang hakekat yang agung yang wajib dipelajari dan diketahui, dan konsekuensi yang harus diaplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Bersilaturahmi merupakan salah satu kunci dalam mengisi Syawal. Silaturahmi adalah menyambung rahmat, menyambung tali kasih sayang antar sesama yang dihiasi permohonan maaf.
Menjalin silaturahmi menjadi salah satu sarana kita untuk mendekatkan diri menyambung tali kasih sayang kepada keluarga, saudara, tetangga, kerabat dan masyarakat yang akan membawa pada kedamaian, ketenteraman, dan persatuan.
Bukan hanya pendekatan diri pada antar umat manusia, silaturahmi juga secara tidak langsung menjadi sarana dalam mendekatkan diri pada Allah SWT, karena Allah sangat menyukai perbuatan yang baik. Dan kasih sayang Allah akan turun kepada setiap hamba-Nya yang berbuat kebaikan.
Jika ramadhan adalah perjalanan dalam mensucikan diri, maka Syawal adalah perjalanan mensucikan tali persaudaraan antar umat manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian, peradaban baru selalu akan terlahir kembali pada setiap Syawal dengan membawa spirit ukhuwah islamiah dan spirit wathaniyah yang lebih segar untuk menjadi bangsa yang maju dan beradab.***








