Ace Somantri – Ketua LP3K Universitas Muhammadiyah Bandung dan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bandung
BANDUNGMU.COM – Belajar mengenal, membaca, serta menulis huruf latin dan Arab adalah pengalaman semua orang ketika awal belajar sejak dini.
Selain belajar bersama orang tua, madarasah sangat familiar di telinga masyarakat sebagai sebuah tempat untuk belajar. Di tempat itu dikenalkan berbagai jenis dan ragam huruf hijaiah satu per satu hingga menyambungkan huruf satu dengan huruf lainnya.
Suasana berjamaah secara belajar penuh dengan canda tawa sambil menunggu giliran antrean diajarkan bacaan dari guru atau ustaz.
Tidak berhenti di situ karena belajar di madrasah ada hal yang unik dan spesial, yakni ada pembelajaran yang dikembangkan benar-benar menyentuh jiwa dan perasaan.
Ikatan persaudaraan yang ditanamkan dalam madrasah lebih akseleratif. Setiap orang dari berbagai kalangan dan status sosial tanpa ada batas kelas diberikan ruang serta kesempatan untuk mendapat pelayanan pendidikan kemudian bimbingan ustaz yang sederhana tetapi tetap bermakna.
Madarasah sekolahku ketika di kampung tempatku lahir, belajar dari siang hingga sore tidak pernah terlewatkan.
Menghafal doa harian dan surat pendek menu pokok belajar di madrasah berusaha untuk tidak menyerah. Meskipun, diri lelah setelah seharian dari pagi hingga siang di sekolah dasar berseragam putih merah.
Membaca Surah Al-Fatihah awal mulai belajar, membaca Surah Al-Ashr setelah selesai belajar, dan diakhiri baca salam kepada ustaz secara serempak. Kemudian diikuti salam cium tangan ustaz antre bergantian sambil menuju pintu keluar.
Itulah belajar di madrasahku. Entahlah, apakah sekarang masih adakah budaya belajar seperti itu.
Tidak terasa belajar penuh bahagia, pergi pagi pulang siang dan pergi lagi diselang salat zuhur, baru pulang sore. Ada yang unik ketika itu waktu menjelang pulang ada kuis pertanyaan yang dilontarkan ustaz untuk dijawab oleh murid dengan syarat mengangkat tangan paling dulu.
Ketika menjawab dengan benar, selanjutnya si murid bisa langsung pulang. Sisanya terus berlanjut kuis secara bergantian yang siap menjawab dengan benar. Begitu seterusnya hingga benar-benar murid tidak ada yang bisa menjawab dan berikutnya disuruh pulang bersama.
Suasana belajar terlihat dan terasa sederhana. Tanpa disadari, ada pengalaman pahit harus ditelan yakni berakhirnya belajar selama lima tahun di akhir kelas menjelang kelulusan madarsah tingkat ibtida karena tersandung tunggakan biaya.
Maklum di kampung tanpa pikir panjang H-1 ujian langsung berhenti untuk memutuskan tidak lanjut. Sore hari kala itu, ustad dan mudir datang ke rumahku.
Kaget campur malu ditambah bahagia, tidak diduga ustaz dan mudir menawarkan kepadaku untuk masuk kembali dan bisa ikut ujian akhir madrasah tanpa diminta biaya.
Tidak terasa saat ini telah mengalami periodisasi sistem pembelajaran dengan berbagai varian model. Namun, di madrasah tetap memiliki khas yang otentik dan unik sehingga gelak tawa masa belajar di madrasah masih terasa.
Pakaian bebas tidak seragam, pakai peci, suasana merdeka belajar dirasakan kala itu tanpa basa basi. Semoga bagi para ustaz dan ustazah yang sudah tiada ataupun yang masih ada diberikan kesehatan, keberkahan, dan kebahagiaan dunia akhirat.***












