UMBandung
News

Mahasiswa UM Bandung Wujudkan Zero Waste di Cipadung Kidul Dengan Konsep Recycle Sampah Dapur

×

Mahasiswa UM Bandung Wujudkan Zero Waste di Cipadung Kidul Dengan Konsep Recycle Sampah Dapur

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi prodi Bioteknologi UM Bandung.***

BANDUNGMU.COM, Bandung – Dalam rangka Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan integrasi pembelajaran, mahasiswa prodi Bioteknologi UM Bandung melakukan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Organik Skala Komunitas dengan Magotisasi dan Eco-Enzyme.

Kegiatan ini berlangsung di RW 05, Kelurahan Cipadung Kidul, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, pada Minggu (21/01/2024).

Selain itu, kegiatan ini juga merupakan kolaborasi antara Prodi Bioteknologi, PPLH (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup) LPPM, serta pengurus RW dan PKK RW 05 Cipadung Kidul.

Pada sosialisasi ini turut hadir dosen program studi Bioteknologi Muhammad Fauzi dan Luthfia Hastiani Muharram.

Kegiatan penyuluhan ini mengusung judul “Resapur (Recycle Sampah Dapur)” dengan slogan “From Zero to Hero” yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat, khususnya kepada  ibu rumah tangga terkait pembuatan eco-enzyme dan magotisasi.

Harapannya dengan adanya kegiatan ini mampu meningkatkan kepedulian masyarakat tentang pemanfaatan sampah dapur.

Diharapkan juga ke depannya dapat mengurangi penumpukan sampah dan mengembangkan potensi daerah setempat.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Pendidikan Pancasila yang dikolaborasikan dengan mata kuliah Teknik Fermentasi.

Sehubungan dengan mata kuliah Pendidikan Pancasila, kegiatan ini tentunya berlandaskan pengamalan sila pancasila, yaitu pada sila ke-2 dan ke-3 Pancasila. Pada sila ke-2, yaitu kemanusiaan yang Adil dan beradab, pengamalan ada pada kata “beradab”.

Baca Juga:  Perkenalkan Produk Olahan Makanan Sehat, Mahasiswa KKN UM Bandung Gelar Demo Masak

Manusia yang beradab tidak akan membuang sampah sembarangan. justru sebaliknya jika manusia yang beradab akan lebih peduli terhadap lingkungan dan sekitar. Hal ini juga berkaitan dengan kebersihan sebagian dari iman.

Sedangkan pada sila ke-3, yaitu persatuan Indonesia, pengamalan pada sila ini adalah pentingnya komunitas untuk menyelesaikan persoalan sampah.

Selain itu, sehubungan dengan mata kuliah Teknik Fermentasi, mahasiswa juga berbagi ilmu terkait proses pembuatan eco-enzyme yang merupakan prinsip fermentasi.

Magotisasi juga diperkenalkan sebagai teknik yang efektif untuk pengolahan sampah organik skala komunitas serta menghasilkan produk yang bermanfaat dan bernilai jual seperti pakan ternak dan pupuk organik.

Pada kegiatan ini Prodi Bioteknologi UM Bandung memberikan kenang-kenangan berupa perlengkapan magotisasi, pupuk Magotnesia (kasgot yang telah diteliti oleh tim dosen), juga bibit tanaman. Tujuannya agar masyarakat lebih semangat mengolah sampah dan berkebun di rumah.

Dominasi sampah makanan RW 05 Cipadung Kidul terletak di lingkungan pendidikan. Terdapat empat universitas dan sekolah negeri maupun swasta.

Mayoritas warga RW 05 berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan memiliki usaha kuliner serta catering.

Baca Juga:  Kunjungi Pusat Produksi Kiswah, Dirjen PHU Tanyakan Proses Penggantian Kiswah

Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah sampah dapur rumah tangga, baik dari proses pengolahan maupun sisa konsumsi atau food waste (sampah makanan).

Sebagai kampus yang berada di sekitar masyarakat RW 05 Cipadung Kidul, UM Bandung melalui PPLH—LPPM memberikan solusi pendampingan kepada masyarakat dalam pengelolaan sampah khususnya terkait sampah makanan.

Keilmuan Bioteknologi memiliki inovasi pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi produk berupa “Eco-enzyme multipurpose”.

Produk tersebut sebagai produk disinfektan, pembersih, dan pengharum lantai ramah lingkungan serta pembuatan magotisasi sebagai media pengolah sampah organik multifungsi.

Kolaborasi efektif

Sampah merupakan hal yang dapat merugikan bagi manusia dan apabila dibuang secara sembarangan dan atau tanpa adanya pengolahan yang baik.

Nantinya akan menjadi “bom waktu” bagi manusia, seperti yang telah terjadi di TPA Sarimukti pada Oktober tahun lalu.

TPA di berbagai tempat telah melebihi kapasitas dan dapat berpotensi mengalami kebakaran bahkan ledakan jika jumlah sampah terus bertambah.

Sampah organik yang mengalami proses anaerobik menghasilkan gas metan yang panas dan mudah meledak. Hal ini juga menyebabkan efek rumah kaca yang menjadi permasalahan global.

Baca Juga:  Resmi! DPD IMM Sumatera Selatan Menjadi Tuan Rumah Muktamar XXXII IMM

Selain itu, penumpukan sampah juga dapat menyebabkan masalah kesehatan, menyebarkan bau yang tidak sedap, dan penyebaran penyakit.

Setelah pemaparan materi pentingnya mengelola sampah organik, peserta melakukan praktik langsung bagaimana membuat ekoenzim dan proses magotisasi.

Praktik pembuatan ecoenzyme diikuti oleh ibu-ibu PKK, dipandu oleh Muhammad Fauzi dan tim mahasiswa. Praktik magotisasi diikuti oleh pengurus RW, dipandu oleh Luthfia dan tim mahasiswa.

Warga RW 05 Cipadung Kidul menyambut baik adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat ini.

Karena sebelumnya mereka juga sudah mengimplementasikan kegiatan Kang Pisman (Kurang, Pisahkan, dan Manfaatkan) untuk pengolahan sampah di lingkungannya.

Mereka mengatakan bahwa kegiatan penyuluhan ini merupakan inovasi baru untuk pengolahan sampah di lingkungan mereka.

Selain itu, para warga juga sangat antusias dengan adanya kegiatan ini. Hal ini dibuktikan dengan keaktifan bertanya dan memperhatikan saat kegiatan sedang berlangsung.

Terlaksananya kegiatan ini diharapkan dapat memberi ilmu baru terhadap masyarakat RW 05 Panyileukan untuk memilah sampah organik.

Kemudian melakukan pengolahan sampahnya secara mandiri dengan recycle atau mendaur ulang sampah organik tersebut agar lebih berguna lagi untuk kehidupan sehari hari.***

PMB UM Bandung