Opini

Maroko The Return

×

Maroko The Return

Sebarkan artikel ini
Ace Somantri

Oleh: Ace Somantri, Dosen UM Bandung

BANDUNGMU.COM — Kejayaan dan romantisme peradaban manusia selalu menjadi spirit dan motivasi bagi setiap orang. Hal itu terjadi ketika dalam mengarungi hidup di dunia.

Pun sama umat Islam dalam kehidupannya selalu ada romantisme sejarah, seperti halnya kebanggaan umat Islam akan kejayaan puncak peradaban hingga menyebar ke seantero dunia.

Paham dan ajaran Islam menjadi ideologi setiap manusia yang meyakini bahwa hal tersebut sesuatu yang sangat penting untuk mencapai tujuan hidup.

Hanya sayang kadang-kadang kecenderungan umat Islam sering berhenti dalam romantisme semata. Akibatnya, kecenderungan itu tidak meningkatkan semangat untuk berprestasi dan berkarya dalam berkontribusi kepada peradaban dunia yang rabbun ghafur.

Namun, di sisi lain kadang-kadang romantisme menjadi virus keburukan bagi umat Islam dan membuat malas karena cukup hanya melihat puncak kejayaan.

Saat ini kita menunggu giliran waktu yang ditentukan oleh Rabbul Aalamiin. Padahal, sikap tersebut bentuk jabariyah yang sebenarnya tidak tepat kalau kita ingin membangun semangat dan peradaban.

Riuhnya fenomena piala dunia selalu menjadi hajatan penduduk di belahan dunia mana pun, apalagi para penggemar gila sepakbola. Jam berapa pun pertandingan dilangsungkan, nyaris tidak terlewati.

Baca Juga:  Sakit Adalah Kasih Sayang Allah

Terlebih piala dunia hari ini beda dengan piala dunia sebelumnya. Selama ini sepak bola piala dunia selalu digelar di negara-negara Eropa. Hal tersebut di satu sisi wajar karena kesiapan berbagai kondisi dan situasi, baik itu yang berhubungan standardisasi internasional lapangan sepak bola hingga fasilitas lainnya.

Doha-Qatar terpilih menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Terpilihnya Qatar ini bukan sekedar pilihan menghitung kancing karena giliran, melainkan pertarungan negosiasi dan bergaining position Qatar dalam sepak bola dunia. Qatar menguji nyali dan keberanian sekaligus kepercayaan diri sebagai negara tuan rumah piala dunia.

Gelaran piala dunia di Qatar berlangsung gempita. Momen ini menjadi ajang adu gengsi berbagai negara yang memiliki reputasi tinggi dalam dunia sepak bola.

Qatar pun tidak membuang waktu begitu saja. Sebagai negara muslim, piala dunia menjadi kesempatan bagi Qatar untuk menunjukkan eksistensi mereka selaku negara muslim.

Selain memberi sambutan formal dalam gelanggang hijaunya lapang bola, para penduduk Qatar pun tidak menyia-nyiakan waktu untuk memberikan pelayanan super prima kepada para penggembira piala dunia yang datang dari di belahan dunia.

Mereka melayani tamu penggila bola di luar lapangan, baik itu sekitar stadion atau jalanan ibu kota Qatar dan sekitarnya. Warga Qatar menyediakan berbagai makanan dan minuman khas Arab.

Baca Juga:  Ahad Pagi Pencerah, Pengajian PCM Ujungberung Kota Bandung Bersama Zainal Ihsan

Termasuk tidak sedikit pula muslimah yang memperkenalkan hijab kepada pengunjung piala dunia dari kalangan wanita nonmuslim. Mereka berkomunikasi interaktif dengan suasana happy sehingga tindakan tersebut viral dalam media sosial.

Maroko

Satu di antara peserta pialan dunia di Qatar yang banyak diperbincangkan adalah Maroko. Negara ini membuka mata umat muslim dunia karena dengan prestasi cemerlangnya mereka mampu unjuk gigi di lapangan hijau.

Bahkan selebrasi para pemain Maroko menjadi tren baru. Ketika goal kemenangan masuk jala kiper lawan, para pemain Maroko langsung mendatangi sang ibu, kemudian memeluk dan menciumnya. Mereka menunjukkan sayang dan tanda terima kasih atas doa dan dukungan dari ibu terkasih.

Berbeda halnya dengan keumuman bintang lapangan dari Eropa yang biasanya melakukan selebrasi menemui sang pacar atau sang istri.

Keunikan selebrasi yang berbeda dengan keumuman membuat para pemain Maroko mendapat pujian netizen dunia maya. Apalagi bagi masyarakat muslim dunia, efek kemenangan Maroko seolah-olah jadi momentum ajang dakwah terhadap warga Eropa bahwa Islam penuh kasih sayang sehingga mampu membuka mata warga Eropa yang terkenal islamphobia.

Baca Juga:  Bermanfaat Untuk Bangsa

Maroko saat ini masuk semifinal. Sejak awal tanding menjadi juara grup F dan tidak terkalahkan. Maroko memang luar biasa yang selama ini tidak diperhitungkan pihak mana pun.

Fenomena Maroko ini tentu tidak ada hubungannya dengan puncak kejayaan Islam yang pernah sampai tanah Eropa. Namun, sebagian netizen dan penggemar bola menghubungkan kemenangan Maroko dengan seolah-olah peperangan bangsa Arab yang merebut kembali negara-negara Eropa untuk menjadi wilayah kekuasaannya.

Piala dunia bukan hanya mempersatukan emosi umat muslim sesaat, melainkan membakar semangat kebangkitan dunia Islam dalam membangun kembali peradaban dunia.

Melalui si kulit bundar yang dikomandoi Maroko, nyatanya mampu memompa semangat iradah kubra warga muslim dunia. Dengan getaran “Maroko the Return” mampu membuka seluruh pancaindera negara-negara muslim dunia bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil. Termasuk dalam dunia sepakbola seperti yang saat ini ditunjukkan Maroko.

Sekalipun bukan negara maju dan kaya, Maroko memiliki semangat besar untuk berprestasi dalam sepak bola dunia. Akhirnya, walaupun baru masuk semifinal, vibrasi kemenangan Maroko sudah memancar ke seluruh negara muslim dunia.***