UMBandung
Opini

Masa Depan Buku di Era Digital

×

Masa Depan Buku di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istockphoto)

Oleh: Sudarman Supriyadi, Peminat Literasi, Politik, dan Sosial-Keagamaan

BANDUNGMU.COM — Dalam era digital yang semakin canggih, perubahan signifikan terjadi di berbagai bidang kehidupan, termasuk cara kita mengakses informasi.

Salah satu perubahan paling mencolok terjadi pada cara kita membaca. Buku tidak lagi dimiliki secara fisik.

Masyarakat modern cenderung lebih tertarik pada media digital seperti internet, video, dan audio, yang membuat minat membaca tradisional tampak merosot.

Fenomena ini menggambarkan tantangan serius bagi budaya membaca dan memunculkan pertanyaan tentang masa depan buku.

Masa depan buku apakah akan suram? Bagaimana dengan penerbitan dan percetakan buku, apakah akan sama nasibnya?

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah rendahnya minat membaca di kalangan masyarakat.

Buku yang sebelumnya dianggap sebagai jendela dunia, kini bersaing dengan berbagai bentuk hiburan digital yang lebih instan.

Masyarakat cenderung tergoda oleh konten singkat, gambar bergerak, dan suara yang menghibur. Otomatis itu meninggalkan kebiasaan membaca yang membutuhkan fokus dan ketelatenan.

Baca Juga:  UM Bandung dan IPG Kampus Perlis Lakukan Pertemuan Kerja Sama, Salah Satunya Soal Penelitian

Tantangan ini semakin diperparah dengan kurangnya dukungan infrastruktur literasi dan pendidikan.

Banyak masyarakat, terutama di wilayah yang kurang berkembang, tidak memiliki akses yang memadai ke perpustakaan atau sumber bacaan yang bervariasi.

Inilah yang memunculkan keprihatinan terhadap masa depan budaya membaca di masyarakat.

Ada semacam loncatan fase. Fasilitas membaca buku secara konvensional belum lengkap, sudah datang era digital yang serba cepat dan ringkas.

Meskipun demikian, bukan berarti buku akan menghilang dari pandangan. Sebaliknya, masa depan buku mungkin lebih tentang penyesuaian dengan realitas digital.

Buku elektronik (e-book), audiobook, dan platform digital lainnya menjadi solusi untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.

Penerbit dan penulis perlu lebih kreatif dalam menyajikan konten mereka agar tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Keuntungan dari perubahan ini adalah aksesibilitas yang lebih besar. Dengan e-book dan audiobook, seseorang dapat membaca atau mendengarkan di mana saja dan kapan saja.

Ini memberikan peluang baru untuk mempromosikan minat membaca di kalangan yang lebih luas dan beragam.

Baca Juga:  Kiprah Muhammadiyah Abad Kedua Semakin Mendunia

Namun, apakah buku elektronik seperti itu prospeknya cerah dan memberikan keuntungan kepada penulis dan penerbit? Belum tentu.

Mendorong literasi masyarakat

Untuk mengatasi rendahnya minat membaca, kita perlu bersikap positif dan proaktif.

Literasi harus menjadi prioritas utama dalam pendidikan dan perpustakaan harus dianggap sebagai aset penting dalam suatu masyarakat.

Program literasi yang inovatif dan menarik perlu dikembangkan untuk memotivasi anak-anak, remaja, dan bahkan orang dewasa untuk membaca.

Kutipan inspiratif dari tokoh-tokoh dunia seperti Nelson Mandela yang mengatakan, “Pendidikan adalah senjata paling kuat yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia,” mengingatkan kita akan kekuatan literasi dalam membentuk masa depan.

Literasi bukan hanya tentang membaca kata-kata di atas kertas. Namun, juga tentang membaca dunia, memahami perbedaan, dan mengembangkan pemikiran kritis.

Masa depan buku mungkin berada di persimpangan jalan, tetapi kita memiliki kendali untuk membentuk arahnya.

Buku fisik saat ini seakan-akan tidak lagi menarik. Jarang sekali pelajar, mahasiswa, ataupun peminat buku menenteng buku di tempat-tempat umum.

Baca Juga:  SMP Muhammadiyah 8 Bandung Laksanakan Educational And Cultural Visit Program Ke Tiga Negara ASEAN

Kita lebih senang menenteng hape karena dengannya kita bisa melakukan apa saja. Misalnya mengakses berita, informasi, menonton film, membikin dan mengedit video, dan sebagainya.

Buku tidak lagi menjadi bahan perbincangan. Buku hari ini tidak lagi menjadi jendela dunia. Jendela dunia sudah tergantikan dengan media sosial yang informasinya sangat cepat beredar hanya hitungan detik dan menit.

Seakan-akan menjadi pembenaran bahwa membicarakan buku sama saja dengan membicarakan keterasingan. Sepi peminat. Apalagi anak-anak muda, pelajar, dan mahasiswa.

Literasi mereka bukan lagi kepada informasi berbentuk fisik (buku, koran, majalah, tabloid, dan sebagainya), melainkan informasi secara elektronik yang sangat mudah diakses.

Dengan sikap positif, inovasi teknologi, dan dukungan masyarakat, kita dapat menjaga warisan budaya membaca kita dan memastikan bahwa kekuatan kata-kata terus menginspirasi dan membimbing generasi mendatang.

Jadi, buku apa yang terakhir kamu baca?***

PMB UM Bandung
Opini

Oleh: Sudarman Supriyadi, peminat literasi dan sosial-keagamaan BANDUNGMU.COM…