BANDUNGMU.COM, Bandung — Gerakan kembali ke buku fisik tumbuh di kalangan anak muda sebagai respons terhadap kelelahan digital yang makin menyita ruang hidup mereka.
Di tengah layar yang terus menyala, notifikasi yang tak berhenti, dan linimasa yang bergerak cepat, banyak pemuda mulai mencari jeda.
Mereka menemukan ketenangan pada halaman kertas—aroma buku lama, tekstur kertas, dan suara lembut saat halaman dibalik—sesuatu yang tidak bisa digantikan layar.
Fenomena ini tampak dari meningkatnya kunjungan ke toko buku independen, lapak buku bekas, dan komunitas baca di berbagai kota. Beberapa kafe juga sengaja menyediakan rak buku sebagai ruang sunyi untuk membaca.
“Akhir-akhir ini aku lebih pilih buku fisik daripada e-book. Rasanya lebih nyata dan pikiranku lebih fokus,” ujar Andhika, seorang mahasiswa, yang mengaku mengalami kelelahan mental karena terlalu lama menatap layar.
Kebiasaan membaca buku fisik tidak sekadar tren. Anak muda melihatnya sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya serba cepat.
Buku fisik mengajak mereka melambat, menyelami kalimat, dan hadir penuh dalam satu momen.
“Kalau baca buku, aku merasa benar-benar ‘ada di sini’. Enggak kayak pas scroll, pikiran ke mana-mana,” tambahnya.
Di tengah hidup yang semakin digital, gerakan kembali ke buku fisik menunjukkan bahwa anak muda tidak sepenuhnya menyerah pada arus teknologi.
Mereka mencari keseimbangan dan ruang bernapas. Dalam keheningan halaman buku, mereka menemukan kembali sesuatu yang lama hilang: kehadiran yang utuh, tanpa distraksi.***














