Membalas Keburukan dengan Kebaikan, Amalan Para Wali!

oleh -
Foto: Yogi Ardhi/Republika

BANDUNGMU.COM – Tingkat amalan seseorang memang berbeda-beda, bergantung pada kualitas iman dan takwa di dalam dirinya.

Andai kualitas iman dan takwa kepada Allah baik dan ikhlas, amal perbuatannya pun akan baik. Namun, jika kualitas iman dan takwa kepada Allah tidak maksimal, sudah dipastikan amalnya pun akan biasa-biasa saja.

Pertanyaannya, kita termasuk hamba Allah dengan kualitas iman dan takwa yang mana? Beruntung dan bersyukurlah jika kita termasuk orang yang memiliki iman dan takwa yang baik dan ikhlas. Namun, bertobatlah segera kepada Allah, apabila kita termasuk orang yang memiliki iman dan takwa standar.

Kaitan Iman dan Takwa

Lalu, apa kaitan antara iman dan takwa dengan amal perbuatan? Orang yang iman dan takwanya kuat dan teguh kepada Allah, ia akan senantiasa berbuat baik kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang menzaliminya sekalipun. Itulah buah dari iman dan takwa yang sejati: amal yang mulia.

Suatu ketika, telah sampai kabar kepada al-Hasan al-Bashri bahwa ada seseorang di luar sana yang menggunjing beliau. Al-Hasan pun kemudian mengutus seseorang untuk membawakan satu nampan yang berisi kurma.

Al-Hasan berpesan kepada orang itu, ”Dengan gungjinganmu, sesungguhnya engkau telah memberiku hadiah berupa kebaikanmu, maka aku layak membalasmu atas hal itu.”

Melihat perlakuan al-Hasan seperti demikian, orang yang menggunjing itu pun akhirnya malu dan tidak pernah lagi menyebut keburukan sang sufi tersebut untuk selamanya.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa seorang penduduk Madinah pernah memaki-maki Zainal Abidin ketika beliau keluar dari masjid. Tiba-tiba saja orang-orang yang ada di tempat itu mengejar si pemaki.

Zainal Abidin pun berkata agar pemuda yang menghinanya itu tidak dikejar-kejar lagi. Kemudian beliau menenangkan si pemuda yang tampak ketakutan itu.

Lalu, Zainal Abidin bertanya kepada si pemuda dengan tenang, ”Apakah engkau membutuhkan sesuatu yang bisa aku bantu?”

Sontak saja, mendengar orang yang dihinanya malah berkata seperti itu, si pemuda merasa sangat malu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Ketika melihat si pemuda tampak tak kuasa menahan malu, Zainal Abidin pun mengambil sesuatu dari saku bajunya dan memberi si pemuda uang sebanyak 1.000 dirham.

Setelah itu, setiap kali berjumpa dengan Zainal Abidin, si pemuda akan berkata, ”Sungguh aku bersaksi bahwa engkau benar-benar keturunan Rasulullah SAW.”

Membalas Kebaikan

Sesungguhnya, membalas sebuah kebaikan dengan kebaikan itu sudah biasa dan sangat biasa. Membalas keburukan dengan keburukan juga sudah biasa.

Namun, kita harus jujur, apakah setiap orang bisa dan mampu membalas keburukan dengan kebaikan? Mari kita berlomba membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas keburukan dengan kebaikan dan akhlak mulia.

Amalan para kekasih (wali) Allah ini memang berat. Namun, di dalamnya terdapat kemuliaan yang sangat luar biasa di sisi Allah. Wallahu a’lam.

Dikutip dan diolah dari republika online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *