Oleh: Ace Somantri
BANDUNGMU.COM — Bosan rasanya membicarakan calon pemimpin atau calon presiden, terutama karena kandidat-kandidat yang beredar masih didominasi oleh wajah-wajah yang tidak asing. Namun, sebagai rakyat, kita tidak bisa melakukan banyak hal.
Harapan demi harapan selalu berakhir tanpa jejak. Kebijakan dan regulasi yang diterapkan oleh pemerintah hampir tidak terasa dampaknya bagi rakyat. Tidak peduli siapa presidennya, sejak awal berdirinya negara ini, berbagai cerita dan kisah nyata ternyata tidak berbeda jauh.
Semua proses pembangunan bangsa dan negara pada akhirnya mengikuti kebutuhan elite-elite bangsa, sedangkan sisanya diberikan kepada rakyat karena tekanan aspirasi dan demonstrasi suara rakyat.
Inilah kondisi bangsa kita, terutama di era teknologi digital saat ini, yakni semua orang sibuk menyelamatkan diri sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Lalu, kepada siapa kita berharap? Kondisi alam semesta dan isinya semakin menuntut manusia untuk menyadari bahwa dunia ini semakin tua dan rapuh. Tidak lama lagi akan tenggelam oleh usia.
Sementara itu, para pemimpin bangsa dan negara tidak sensitif dan peduli terhadap negeri dan rakyatnya. Mereka hanya memperkaya diri sendiri.
Seperti tameng
Hampir tidak ada yang peduli dan hampir dipastikan mereka hanya menjadikan rakyat sebagai tameng utang atas nama bangsa dan negara. Jauh dari menjadi negara maju karena yang terjadi adalah semakin banyak masalah dan kerusakan di bangsa dan negara ini.
Seperti pepatah yang mengatakan “Rusak badan karena penyakit, rusak bangsa karena laku.” Faktanya bangsa ini dalam kondisi sakit dan rusak parah. Hampir seperti penyakit kanker yang terus menggerogoti tubuh bangsa ini dan pada akhirnya mengalami kematian tragis.
Suara-suara keras yang penuh harapan membangkitkan semangat rakyat. Berjalan-jalan untuk bertemu dengan orang miskin seketika menciptakan citra diri yang peduli dan peka.
Mendatangi pasar sambil berbelanja dari para pelaku usaha sambil bertanya harga sembako seolah-olah membela rakyat. Mengenakan pakaian alim untuk bertemu dengan para kiai dan ulama meminta doa dan restu.
Mendeklarasikan diri di berbagai komunitas dan entitas yang tersebar di seluruh negeri. Memberi sapa kepada mereka yang datang dengan membawa nasi kotak dan voucher belanja.
Sikap dan tindakan ini dilakukan menjelang pemilihan umum. Namun, setelah terpilih dan menduduki jabatan, mereka lupa dengan tanggung jawabnya.
Citra yang dibuat sebelumnya seketika hilang. Wajah dan tangan mereka hanya bermanfaat bagi mereka yang memiliki kekuatan ekonomi yakni kaum oligarki.
Harapan tinggal harapan. Kejenuhan terhadap sikap elite bangsa telah mencapai titik puncak. Rakyat Indonesia memiliki intelektualitas yang seakan-akan ambigu ketika memilih pemimpin.
Kondisi psikologis mereka selalu dikondisikan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehingga memilih pemimpin yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
Kecuali bagi rakyat yang masih memiliki akal sehat, mereka mampu mempertimbangkan sikap dan mengambil keputusan yang sesuai dengan nalar intelektual yang rasional dan objektif.
Setiap kali pemilu tiba, rakyat hanya digunakan sebagai hiasan dalam perayaan demokrasi dan berbagai hiburan disuguhkan kepada mereka sebagai “pesta” pemilihan umum yang harus dinikmati.
Padahal, dalam pesta pemilu ini, rakyat terbuai dalam kegembiraan dan melupakan tanggung jawab mereka karena terlena dengan hiburan yang ramai.
Sementara itu, para oligarki pemodal dengan serius mengawal dengan ketat investasi mereka selama lima tahun ke depan agar tidak hilang begitu saja.
Namun, pada sisi lain, pihak-pihak penyelenggara pemilu seakan-akan seperti pegawai kontrak yang bisa berhenti kapan saja dengan upah yang terbatas dan tidak pantas.
Terlebih lagi jika penyelenggara tersebut bersikap transaksional, penderitaan rakyat Indonesia semakin lengkap dan harapan mereka hancur.
Bukan hanya presiden yang dipilih saat pemilu, melainkan wakil rakyat dalam lembaga legislatif yang seharusnya mewakili rakyat. Namun, harapan kepada wakil rakyat semakin berkurang karena mereka banyak melakukan pengkhianatan dan penindasan terhadap rakyat.
Entah berapa orang yang masih peduli. Mungkin sudah tidak ada lagi yang peduli dengan nasib mereka yang memilih. Padahal, mereka memperoleh kekayaan karena dipilih oleh rakyat.
Pendapatan mereka berasal dari upah, insentif, dan tunjangan yang benar-benar berasal dari uang rakyat. Karena sistem politik Indonesia menganut presidensial sehingga kekuasaan yang dominan memang berada di tangan presiden.
Kendali oligarki?
Oleh karena itu, pemilihan presiden menjadi hal yang menarik karena disinyalir para oligarki saling berkompetisi untuk menginvestasikan modal mereka sesuai dengan jumlah kekayaan yang mereka miliki.
Negeri ini benar-benar dalam kendali para oligarki yang menakutkan. Wajar saja jika rakyat merasa putus asa dan kehilangan harapan karena puluhan tahun tidak ada perbaikan yang signifikan.
Siapakah presiden pilihan rakyat Indonesia yang pantas, layak, visioner, dan memiliki integritas moral ke depan?
Tidaklah mudah dalam situasi di mana negara ini sudah terkendali oleh para oligarki. Opini yang dikembangkan oleh berbagai media hanyalah tipu daya.
Berulang kali diungkapkan bahwa negeri ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Generasi muda semakin tidak peduli karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri.
Dunia digital terus menghancurkan budaya dan tradisi. Batas-batas waktu dan ruang telah ditembus. Bahkan agama pun menjadi lemah dan tidak berdaya. Apalagi jika bergantung pada budaya yang sudah ketinggalan zaman dan tenggelam dalam arus waktu.
Satu-satunya harapan yang tersisa adalah kekuasaan Ilahi yang Mahasuci yang ajaran dan titah-Nya. Al-Quran seakan-akan hanya menjadi hiasan. Bahkan lebih buruk lagi tertimbun bersama dengan buku-buku yang berserakan yang tidak pernah dibaca.
Hanya menjadi viral ketika digunakan sebagai hiasan dalam perlombaan. Kadang-kadang dipelajari dengan pendekatan pemahaman yang tidak otentik sehingga tidak menarik bagi generasi muda.
Jangan putus asa
Kita berharap bahwa presiden terpilih nanti menjadi “pilihan” Ilahi, bukan pilihan manusia yang penuh dengan amarah. Sepertinya sulit untuk berharap pada manusia. Hampir tidak ada harapan untuk mendapatkan pemimpin kredibel, mampu, dan memiliki integritas.
Namun, kita tidak boleh putus asa atau mempunyai prasangka buruk terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi semua manusia di dunia ini, mereka mungkin tidak memiliki kekuatan atau keberdayaan, tetapi ajaran kebenaran yang mutlak hanya ada dalam Zat Allah SWT.
Selama kita masih diberikan napas kehidupan, selalu ada jalan kebaikan dan kebenaran. Hal yang sama berlaku dalam pemilihan pemimpin, baik itu pemilihan presiden atau pemimpin lainnya.
Pasti ada jalan untuk mendapatkan presiden yang merupakan pilihan rakyat dan diridai oleh Pemilik Alam Semesta. Wallahu’alam.***













