UMBandung
Opini

Menelaah Alasan Kenapa Jerman Jadi Poros Teknologi Canggih Dunia

×

Menelaah Alasan Kenapa Jerman Jadi Poros Teknologi Canggih Dunia

Sebarkan artikel ini
Ace Somantri

Oleh: Ace Somantri

BANDUNGMU.COM – Siapa yang tidak kenal Jerman yang terkenal dengan produsen mesin-mesin berteknologi hebat dan canggih di dunia. Fakta ini tidak ada yang membantah.

Salah satu manusia terpintar di Indonesia dan dunia, BJ Habibie, seorang teknokrat kaliber dunia, menggembleng dirinya sebagai ilmuwan dan banyak mentransfer keilmuan teknologi juga di Jerman.

Begitupun hampir dipastikan produk-produk berkualitas sains dan teknologi berkelas dan berlisensi dunia, Jerman salah satu negara yang memiliki reputasi internasional yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jerman menjadi salah satu negara termaju dalam teknologi modern sejak generasi awal hingga kini terjadi bukan tanpa sebab dan alasan.

Sekalipun banyak muncul berbagai negara berusaha bersaing dalam hal kecanggihan teknologi mesin dengan Jerman, tampaknya tidak mudah. Jerman tidak menjadi yang terbaik.

Selain ilmuwanya memiliki karakater berprestasi tinggi, juga ada nilai historis yang benar-benar harus diketahui banyak orang. Khususnya lagi para penggemar ilmu pengetahun dan sains di Indonesia.

Jerman merupakan negara yang dalam peta dunia berada di daratan Eropa. Kiprahnya yang luar biasa sebagai sebuah bangsa di dunia telah menjadikan Jerman sebagai kiblat teknologi modern.

Hampir dipastikan produk-produk teknologinya sangat unggul sehingga di pasaran dunia laku dengan penawaran sangat tinggi.

Salah satu di antaranya inovasi telnologi Jerman yakni Sinar X, sebuah mesin pendeteksi penyakit dengan cahaya. Ada juga mesin jet untuk pesawat terbang.

Kemudian ada mobil yang terkenal, Mecedes Benz, yang sangat mahal di dunia karena kecanggihannya. Tentu sangat banyak lagi produk teknologi yang lainnya.

Dapat dikatakan Jerman tidak pernah berhenti berinovasi menciptakan berbagai mesin untuk kebutuhan manusia dalam membantu peningkatan produktivitas kinerja manusia di belahan dunia.

Jerman sebagai poros dunia dalam teknologi ilmu dan pengetahuan dengan varian-variannya, ditopang oleh beberapa karakater masyarakatnya yang luar biasa.

Pertama, tidak pernah puas dalam berinovasi yang telah dibuat dan dikerjakan. Hal itu memang karakter yang seharusnya dimiliki semua manusia di dunia agar terus berkarya. Termasuk juga Indonesia jika ingin melesat maju seperti Jerman.

Kedua, prioritas kualitas pendidikan. Sikap negara yang mendahulukan kualitas pendidikan dengan menghargai ilmuwan yang berinovasi menjadi hal utama di Jerman.

Padahal, napas ini dalam Islam sudah diisyaratkan pada wahyu pertama Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW: “Bacalah dengan menyebut nama Rabmu yang telah menciptakan!”

Baca Juga:  Ibadah yang Estetik

Jerman tidak pernah berhenti berkreasi dan berinovasi. Tidak ada kata dan kalimat menyerah dan putus asa. Tidak ada istilah malas dalam kamus kehidupan mereka.

Rasa penasaran senantiasa ada dalam benak pikiran. Penuh tanda tanya dalam jiwa dan berusaha ingin mengetahui banyak hal apa pun yang terjadi masa lampau, saat ini, dan masa yang akan datang.

Manusia diciptakan berbarengan dengan instrumen utama: akal nalar. Tidak ada alasan segala hal yang terjadi di alam semesta tidak ada rumus atau kaidahnya.

Masalah pasti ada dan akan selalu muncul selama manusia menghuni bumi karena hal itu bagian dari hak alami dalam kehidupan. Namun, dari peristiwa ke peristiwa sebenarnya itu sumber inspirasi dan petunjuk nyata untuk sebuah karya inivasi bagi yang berpikir sehat.

Tidak ada satu pun masalah atau permasalahan yang muncul tidak menjadi inspirasi pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan manusia. Tidak ada satu pun juga yang ada di bumi dicipta Ilahi Rabbi sesuatu yang menzalimi dan tirani.

Limbah jadi berguna

Masyarakat dan warga dunia di mana pun tidak luput dari masalah. Namun, masalah tersebut pasti ada solusinya jika mau berpikir kretaif.

Sisa-sisa dari kegiatan manusia dan hewan dikenal dengan istilah sampah dan limbah yang memiliki konotasi buruk. Hal tersebut selama berabad-abad lamanya telah terbentuk menjadi materi yang menimbulkan keburukan terhadap kehidupan.

Peristiwa tersebut terjadi karena keterbatasan dan kelemahan manusia yang tidak menyadari bahwa manusia dari generasi ke generasi harus ada perkeperkembangan ilmu pengetahuan sains dan teknologi.

Andaikan hari ini perihal sampah atau limbah masih menjadi masalah, artinya kemajuan generasi saat ini tidak signifikan.

Memang ada sebagian kecil masyarakat yang sudah melakukan sirkular terhadap seluruh kehidupan alam yang saling memajukan dan menguntungkan. Namun, hal itu dikembalikan kepada kelompok atau komunitas manusianya.

Termasuk Jerman sebagai negara paling juara dalam mengolah atau mendaur ulang berbagai limbah menjadi varian bahan baku dan bahan jadi pada produk-produk berkualitas dunia.

Sebut saja limbah logam, Jerman menyulapnya menjadi bahan komponen kendaraan otomotif. Menurut informasi, teknologi kendaraan otomotif tersebut bahkan disebut-sebut mampu mengalahkan desain teknologi yang dibuat Tesla.

Ada kata kunci dalam penjelasan di atas bahwa limbah atau sampah juga menjadi inspirasi perkembangan ilmu pengetahuan teknologi canggih nan hebat. Bahkan menjadi sumber energi terbarukan.

Baca Juga:  Bila Hidup Ingin Berkah dan Bahagia, Perkuat Jalinan Silaturahmi

Jadi, hal ihwal sampah yang hingga saat ini menjadi sumber permasalahan, bukan terletak pada sampahnya, melainkan pada manusianya.

Untuk mewujudkan hal itu, manusia harus memiliki kesadaran akan tanggung jawab yang besar. Mereka sejatinya bisa berpikir cepat untuk membuat rencana tepat. Selain itu, mereka juga harus mengantisipasi kecepatan segala hal yang akan terjadi di kemudian hari.

Paling tidak, saat dinobatkan sebagai makhluk yang berpikir (hayawan an-nathiq), apa pun yang ditimbulkan dari dirinya dapat dijadikan hal bermanfaat.

Lantas apa fungsi akal saat masalah yang terdapat dalam dirinya tidak dapat diselesaikan? Secara faktual tidak dapat dimungkiri. Benarlah apa yang dikatakan oleh seorang ilmuwan sufi: “Kenalilah dirimu maka akan mengenali siapa Rabmu”.

Memang hal itu tidak mudah. Sangat berat. Namun, bukan berarti juga tidak bisa dilakukan selama berupaya keras untuk berpikir maju dan memajukan kehidupan bangsa.

Kembali pada inti pembahasan bahwa kenapa Jerman memiliki karakter visioner yang maju, padahal sama-sama makhluk Allah SWT.

Pernah sata berdiskusi dengan salah satu mahasiswa filsafat UGM bahwa Jerman banyak melahirkan tokoh-tokoh filosof ternama yang terkenal dalam belantika peradaban Ilmu setelah abad pertengahan.

Sebut saja Immanuel Kant, Nietzsche, dan Karl Mark yang sangat tersohor teori-teorinya sehingga banyak menjadi rujukan para pelajar di dunia di abad ini di berbagai bidang dan rumpun ilmu.

Konsistensi berpikir

Kemudian apa hubungan para filosof tersebut dengan kemajuan sains dan teknologi Jerman yang tetap bertahan menjadi negara poros dunia dalam inovasi teknologi?

Konsistensi yang ditunjukkan Jerman dalam menegakkan kerangka ilmu benar-benar atas akar filosofi yang sangat kuat dan ajeg.

Oleh karena itu, kebijakan dalam membuat sistem pendidikannya pun bukan sekedar “how to” secara praktis. Namun, dengan fondasi ilmu yang sarat dengan kekuatan akar-akar berbagai bidang ilmu dan sains manakala dikembangkan.

Konsistensi mereka terhadap rujukan teori dari akar Ilmu yang jelas, rasional, dan objektif dapat dipertanggungjawbakan secara ilmiah.

Teknologi hari ini fokusnya lebih kepada pengembangan. Para pembelajar di kampus-kampus pun cenderung dijejali pemahaman untuk menguasai hal-hal praktis mekanistik.

Nyaris tidak ada stimulan informasi bagaimana akar ilmu itu berperan membangun bidang ilmu ataupun sains.

Hal itu terlihat pada bidang ilmu sains dan teknologi yang mengembangkan bermacam varian program studi. Namun, tidak dikenalkan kepada akar ilmu secara metodologis.

Baca Juga:  Bertempat di UM Purworejo, Kwarwil HW Jawa Tengah Periode 2023-2028 Resmi Dikukuhkan

Cukup heran kenapa para pembelar di fakultas berbasis sains dan teknologi, dalam kurikulumnya, tidak dikenalkan akar dan sumber ilmu sebagai basis metodologi untuk mengukur kedalaman ilmu yang dikembangkan, khususnya kurikulum di tingkat program sarjana.

Yang dimaksud tersebut, tidak ada mata kuliah secara khusus yang membahas dan menginformasikan dasar-dasar filisofi sumber, kerangka, dan nilai guna dari setiap ilmu yang dikembangkan.

Hal itu seperti yang dikenal di beberapa program studi sosial dan agama yang disajikan dalam kurikulimnya ada mata kuliah filsafat ilmu.

Padahal, hampir dipastikan semua basis varian jenis ilmu sains dan teknologi, seperti matematika, fisika, statistika, kalkulus, dan yang sejenisnya, muncul dari rumus dan teori-teori yang buat oleh para filosof.

Begitupun Jerman benar-benar membangun keilmuan dengan konstruksi ilmu yang jelas dari para pemikir (filosof) dengan akar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, di Indonesia dengan ganti-ganti kurikulum, itu mengindikasikan “tidak ajeg” soal akar keilmuannya yang seharusnya menjadi fondasi dan konstruksi sistem pendidikan.

Malah yang lucu lagi, beredar luas di kalangan masyarakat muslim bahwa mempelajari filsafat harus dihindari karena membahayakan. Sangat aneh dan memprihatinkan.

Percaya atau tidak bahwa para pembelajar Indonesia jika berharap memiliki sikap kritis dan selalu penasaran, maka berikanlah mata kuliah yang menambah wawasan akar semua ilmu.

Perlu diketahui pada saat pemikiran ilmu keislaman mengalami kemunduran, itu terjadi sejak adanya isu “tertutupnya pintu ijtihad”. Akibat dari hal itu, para pembelajar banyak terkerangkeng dan bersikap jumud karena terbentuk paradigma Islam “dogmatis dan doktriner”.

Bagaimana akhirnya? Ya, berakhir tragis karena banyak pembelajar menangis gegara tidak diberi ruang untuk berpikir kritis. Sekalig lagi, itu sangat memprihatinkan.

Hal yang sama dalam bidang ilmu sains dan teknologi yang mengembangkan ilmu tidak ubahnya seperti robot yang penurut tergantung kepada siapa yang mengendalikan.

Nalar kritisnya banyak tercerabut dengan sistem belajar fokus kepada pertanyaan “what” daripada kata “why” sehingga ruang dialog semakin sempit. Ruang berpikir kritis pun terttutup.

Kampus-kampus pada mulanya sebagai pusat panggung berpikir terbuka dan kritis, kini sudah bergeser menjadi panggung penyedia pekerja dan buruh industri.

Bagaiamana para pembelajar berinovasi teknologi, sedangkan stimulasi wawasan berpaham kritis tidak diberikan sehingga daya kritis mahasiswa hanya sebuah mimpi. Wallahu’alam.***

PMB UM Bandung