Edukasi

Mengenal Guru KH Ahmad Dahlan, Salah Satunya Syekh Nawawi Al-Bantani

×

Mengenal Guru KH Ahmad Dahlan, Salah Satunya Syekh Nawawi Al-Bantani

Sebarkan artikel ini
Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan (Foto: PWMU.CO)

BANDUNGMU.COM, Bandung — Dalam rekam hidupnya, pendiri Muhammadiyah yakni KH Ahmad Dahlan dikenal sebagai seorang guru sejati.

Hal ini dapat dilihat dari kisahnya mengajarkan surah Al-Ma’un, aktivitasnya di Budi Utomo agar bisa menjadi guru di sekolah-sekolah milik pemerintah, hingga langkah konkretnya mendirikan Muhammadiyah dan mencetuskan sistem pendidikan Islam modern lewat madrasah Muhammadiyah.

Perhatiannya terhadap profesi guru juga dikuatkan lewat pesannya legendaris yang berbunyi, “Jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah.”

Tak heran, kader-kader utama Muhammadiyah banyak yang mengabdi sebagai seorang guru. Sebut saja Ir Soekarno, Ir Djuanda, Otto Iskandar Dinata, Mas Mansur, dan sebagainya.

Pemahaman KH Ahmad Dahlan dan komitmennya terhadap fungsi strategis pendidikan dan profesi guru tentu juga berasal dari pengaruh guru-guru yang mendidiknya. Lantas siapa saja guru dari KH Ahmad Dahlan? Sedikitnya ada 20 nama yang tercatat, yang tidak tercatat tentu lebih banyak lagi.

Kiai Abu Bakar

Guru paling awal KH Ahmad Dahlan adalah ayahnya sendiri yakni Kiai Abu Bakar, seorang ulama dan pemuka agama di Keraton Yogyakarta. Ahmad Dahlan kecil juga menuntut ilmu di pondok pesantren (mondok atau nyantri).

Baca Juga:  Tingkatkan Publikasi Kajian Telekomunikasi, ITB dan UIN Bandung Gelar ICWT 2024

Dalam “KH Ahmad Dahlan: Sang Pencerah, Pendidik, dan Pendiri Muhammadiyah” (2010), ada 15 nama yang menjadi guru KH Ahmad Dahlan yakni ayahnya, Kiai Abu Bakar, kakak iparnya yaitu Kiai Muhammad Soleh, termasuk kepada Kiai Faqih Gresik.

Selain itu, KH Ahmad Dahlan belajar fikih kepada Kiai Muchsin, ilmu nahwu kepada Kiai Abdul Hamid, ilmu falaq kepada Kiai Raden Dahlan, ilmu fikih dan hadis kepada Kiai Mahfud, ilmu hadis kepada Syekh Khayyat, Sayyid Baabusijjil, dan Mufti Syafi’i.

Kemudian belajar ilmu qira’atul quran kepada Syekh Amin dan Sayyid Bakri Syata’, ilmu pengobatan Islam kepada Syekh Hasan, serta ilmu qiraah dan falak kepada Kiai Asy’ari Baceyan dan Syekh Misri Makkah.

Berguru pada Kiai Soleh Darat

Bersama KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan juga pernah berguru kepada ulama besar asal Semarang, Kiai Soleh Darat. Sementara nama Kiai Kholil Bangkalan yang disebutkan sebagai guru dari Kiai Ahmad Dahlan tidak terverifikasi.

Baca Juga:  Nasyiatul Aisyiah Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan Efektif Mitigasi Perubahan Iklim

Setelah berhaji ke Makkah pada 1903, di tanah Hidjaz KH Ahmad Dahlan kembali menimba ilmu dari ulama besar asal Nusantara, yakni Syekh Ahmad Khatib, Syekh Nawawi Al-Bantani, Kiai Mas Abdullah Surabaya, dan Kiai Maskumambang.

Saat berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, KH Ahmad Dahlan kembali satu majelis dengan KH Hasyim Asy’ari, demikian tulis M Nasruddin Anshoriy dalam “Matahari Pembaruan Rekam Jejak KH Ahmad Dahlan” (2010).

Dalam hajinya tersebut, atas bantuan Haji Baqir, KH Ahmad Dahlan berhasil bertemu dan berguru dengan murid dari Muhammad Abduh, yakni Muhammad Rashid Ridha, selama dua tahun.

Demikian catat Ahmad Faizin Karimi dalam “Pemikiran dan Perilaku Politik Kiai Haji Ahmad Dahlan” (2012).

Kitab apa saja yang dipelajari KH Ahmad Dahlan?

Terkait ilmu-ilmu keislaman yang dipelajari KH Ahmad Dahlan, periwayatan dari murid termudanya, Raden Hadjid, merupakan sumber informasi penting. Selama mengintil atau mengikuti KH Ahmad Dahlan, Raden Hadjid menyaksikan banyak kitab yang dipelajari oleh gurunya tersebut.

Baca Juga:  Digoyang Kanan dan Kiri, Alhamdulillah Warga Muhammadiyah Makin Solid

Catatan Raden Hadjid dikumpulkan dalam dua bukunya yang kemudian disatukan dengan judul “Pelajaran KH A Dahlan: 7 Falsafah Ajaran” dan “17 Kelompok Ayat al-Qur’an”.

“Selama mengikuti beliau, saya sering melihat kitab yang jadi rujukan seperti Kitabu Tauhid Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma Muhammad Abduh, Kitab Kanzul Ulum, Dairatul Ma’arif karya Farid Wadji, kitab Fil Bid’ah karya Ibnu Taimiyah termasuk kitab At Tawasul wal Wasilah, kitab Idzharul Haq Rahmatullah Al Hindi, dan kitab hadis ulama-ulama Hambali.”

Meski demikian, Raden Hadjid juga menyebut bahwa KH Ahmad Dahlan rajin memelajari kitab-kitab karya ulama Indonesia dan Makkah.

Misalnya ilmu akidah dan kitab-kitab aliran Aswaja (Ahlu Sunnah wal Jama’ah), fikih Syafi’i, ilmu tasawuf Imam Ghazali, hingga Tafsir Al-Manar Rashid Ridha dan majalah “Urwatul Wutsqa” Jamaludin Al-Afghani.***

___

Sumber: muhammadiyah.or.id

Editor: FA