UMBandung
News

Sejarah Lahirnya Tahu Sumedang

×

Sejarah Lahirnya Tahu Sumedang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istockphoto)

BANDUNGMU.COM — Tahu merupakan makanan yang terbuat dari kedelai putih yang digiling halus, direbus, dan dicetak. Salah satu jenis tahu yang terkenal adalah tahu Sumedang, yang merupakan makanan khas Kabupaten Sumedang. Jika dibeli dalam jumlah banyak, biasanya tahu ini dikemas dalam bongsang, yaitu anyaman bambu yang bisa memuat 25 hingga 100 buah tahu goreng.

Menurut Ong Joe Kim, tokoh tahu Sumedang yang dikutip dari Wikipedia, kata “tahu” berasal dari bahasa Mandarin, dòufu, yang dibaca tou-fu atau tāu-hū oleh orang Hokkian.

Tahu Sumedang berawal dari kreativitas Ong Kino dan istrinya, imigran Tiongkok yang pertama kali memproduksi tahu di Sumedang. Pada awalnya, tahu dibuat dari kedelai lurik yang mirip telur puyuh. Tahun demi tahun, Ong Kino dan istrinya terus menggeluti usaha ini hingga sekitar tahun 1917, sebelum akhirnya diteruskan oleh anak tunggal mereka, Ong Boen Keng, sementara Ong Kino dan istrinya kembali ke tanah kelahiran mereka di Hokkian, Republik Rakyat Tiongkok.

Baca Juga:  Jadi Makanan Populer dan Banyak Digemari, Inilah Sejarah Tahu Yang Sudah Ada Sejak Dinasti Han

Ong Boen Keng melanjutkan usaha ini hingga akhir hayatnya di usia 92 tahun. Generasi penerusnya, seperti cicitnya yang bernama Suryadi juga meneruskan usaha ini. Sekitar tahun 1928, ada kisah menarik yang diceritakan oleh Suryadi. Suatu hari, tempat usaha Ong Boen Keng didatangi oleh Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja, yang tengah melintas dengan dokar menuju Situraja, Sumedang.

Sang pangeran melihat seorang kakek sedang menggoreng sesuatu yang berbau harum. Pangeran Soeria Atmadja turun dari dokarnya dan bertanya, “Maneh keur ngagoreng naon? (Kamu sedang menggoreng apa?).” Sang kakek menjelaskan bahwa ia sedang menggoreng tahu. Pangeran pun mencicipi satu dan berkata puas, “Enak benar masakan ini. Coba kalau kamu jual, pasti laris.” Setelah kejadian itu, tahu Sumedang semakin digemari oleh penduduk Sumedang dan kemudian dikenal di seluruh Indonesia.

Baca Juga:  Bambang Setiaji Mendorong Unisa Bandung Jadi Kampus Digital dan Membuka Prodi Yang Sesuai Perkembangan Teknologi

Perbedaan dengan tahu biasa

Hingga saat ini, tahu Sumedang tetap populer dan penjualnya ada di mana-mana, tidak hanya di Sumedang. Tahu Sumedang memiliki perbedaan dengan tahu biasa setelah digoreng dengan bumbu yang sama. Bentuknya berbeda karena koagulan yang digunakan adalah sisa dari penggumpalan tahu, yang disebut larutan biang dan disimpan selama 2-3 hari menggunakan asam cuka.

Jika dibuat secara tradisional dengan kedelai asli tanpa pengawet, tahu ini bisa mengalami perubahan rasa setelah beberapa jam dibeli. Rasa gurihnya bisa berubah menjadi asam, dan kulit yang garing menjadi liat. Namun, hal ini dapat disiasati dengan penyimpanan di kulkas.

Baca Juga:  FSH-Biro Hukum Pemprov-Kanwilkumham Jabar Bentuk Duta Sadar Hukum di Arjasari

Penggorengan yang tepat juga penting untuk menghasilkan tahu yang enak, yaitu dengan minyak yang panas/menguap, api besar, daya muat penggorengan, dan jumlah tahunya.***

PMB UM Bandung