BANDUNGMU.COM — Setelah muktamar, musywil, musyda, dan musycab Muhammadiyah, tidak ketinggalan juga banyak musyawarah ranting Muhammadiyah yang telah berlangsung.
Para penggerak dan penggiat persyarikatan telah berdialektika selama beberapa bulan untuk merumuskan gagasan pimpinan terpilih yang akan menjadi pemimpin dan tim manajemen gerakan Muhammadiyah dalam periode ke depan.
Saat ini, majelis dan lembaga sebagai pembantu pimpinan sudah terbentuk. Namun, merekrut kader-kader untuk berkhidmat bukanlah perkara mudah.
Menyeleksi dan memilih kader yang pantas dan layak menjadi penggerak di majelis dan lembaga pada setiap level dan tingkatan pimpinan persyarikatan, menyebabkan berbagai pendapat dan pernyataan muncul ketika menilai setiap individu kader.
Kita sebagai makhluk fana tidak ada yang sempurna dan mungkin mengalami keburukan dalam hidup.
Menilai orang memang mudah. Namun, sering kali penilaian itu terpengaruh oleh subjektivitas dan alasan pribadi, seperti suka atau tidak suka terhadap individu tersebut.
Ketika orang lain menilai kita buruk, itu bisa menjadi kesempatan untuk merenung dan memperbaiki diri kita sendiri secara positif menuju pribadi yang lebih unggul.
Orang yang pandai menilai orang lain dengan sikap ananiyah-nya cenderung lupa diri dan berpotensi berperilaku buruk tanpa disadari. Bahkan mungkin saja akan menumbuhkan sifat sombong dalam dirinya.
Dalam menghadapi hal ini, kita harus bersyukur dan menerima semua hal yang kita terima dengan lapang dada, bahkan tuduhan yang tidak berdasar sekalipun harus kita terima juga.
Sebagai penggerak dan kader Muhammadiyah di berbagai tingkatan, kita harus berkhidmat dengan ketulusan dan keikhlasan jiwa. Tidak boleh lelah untuk mengabdi kepada Muhammadiyah.
Menempatkan kader, anggota, dan simpatisan Muhammadiyah dalam majelis dan lembaga adalah tugas yang berat dan tidak mudah. Terutama ketika mereka memiliki keinginan untuk bersama-sama berdakwah amar makruf nahi munkar.
Selain harus memenuhi kriteria minimum, proses rekruitmen pengurus juga menghadapi tantangan dari tradisi kepemimpinan persyarikatan yang dipandang sebagai lembaga sosial atau non-government organization yang belum memiliki standar baku dalam pengangkatan pengurusnya.
Sistem dan mekanisme penilaian calon pengurus masih cenderung subjektif karena Muhammadiyah merupakan institusi sosial nirlaba. Pada abad kedua ini, Muhammadiyah berkomitmen untuk memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta.
Nyatakanlah dengan tindakan bagaimana Muhammadiyah mampu meningkatkan partisipasi dan kualitas gerakan aksinya untuk menciptakan generasi sumber daya manusia yang unggul dan berkembang.
Muhammadiyah harus dapat mengubah cara pandang masyarakat. Bukan sekadar mengetahui, melainkan memahami dan memiliki kemampuan mengorganisasi dan memobilisasi potensi dan kekuatan sumber daya. Yakni dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.
Hal ini juga bertujuan untuk menciptakan komunitas masyarakat yang kuat dan berdaya dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, politik, dan kebangsaan.
Dalam proses yang berjalan bersamaan, dengan waktu yang berjalan, Muhammadiyah akan membangun kekuatan dan kedaulatan sosial, ekonomi, politik, dan keamanan di dalam negeri.
Muhammadiyah yang berpegang pada karakter tajdid, harus konsisten memimpin kembalikan sikap kemandirian sebagai bangsa dan negara yang benar-benar merasakan kedaulatan yang nyata dan dirasakan oleh rakyat.
Dengan segala daya dan upaya, harta dan aset yang dimiliki, Muhammadiyah berusaha membangun masyarakat tanpa batas suku, ras, etnis, agama, bangsa, dan negara.
Namun, semua ini dijalankan dengan cara yang benar dan sah sesuai dengan kaidah dan peraturan yang berlaku. Aset-aset tersebut adalah amanah dari Allah SWT, yang harus dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan santun, beradab, dan berkeadilan.
Muhammadiyah dipercaya dan mempercayai untuk menjalankan amanah ini dengan baik dan benar, sehingga nilai produktivitas yang dihasilkan akan bermanfaat bagi masyarakat banyak.
Namun, terkadang ada beberapa orang yang tidak dapat dipercaya karena perilaku mereka yang tidak mampu memajukan aset yang diamanatkan kepada mereka.
Rapat kerja nasional dan wilayah digelar oleh beberapa majelis dan lembaga sebagai pembantu pimpinan Muhammadiyah untuk menjalankan amanah dari muktamar, musywil, musyda, dan musycab.
Mereka akan menyusun rencana aksi dan program dengan berbagai cara dan strategi jitu dalam mengimplementasikan dan menerapkan program kerja melalui kegiatan-kegiatan nyata yang tidak hanya seremonial, tetapi diikuti dengan tindak lanjut dan evaluasi secara berkala.
Rapat kerja ini akan merumuskan langkah dan tahapan kegiatan yang simultan dan terintegrasi dari satu kegiatan dengan kegiatan lainnya. Sehingga program dan kegiatan yang diselenggarakan dapat terwujud dengan bentuk produk yang benar-benar bermanfaat bagi Muhammadiyah, umat, dan bangsa secara praktis dan strategis.
Setiap majelis dan lembaga akan membuat rencana gerakan aksi dengan mengutamakan kegiatan-kegiatan prioritas sesuai dengan bidang masing-masing.
Yang paling penting adalah membangun kekuatan positioning persyarikatan secara sosial, ekonomi, dan politik untuk kepentingan kebangsaan. Karena tiap majelis dan lembaga memiliki nomenklatur dan bidangnya sendiri, maka bidang garapan pada skala prioritas akan berbeda-beda.
Ada pendekatan dalam meningkatkan kualitas program yang sudah berjalan, dan ada pula pendekatan dalam jumlah kegiatan produktif untuk memperkuat jejaring amal usaha Muhammadiyah secara komprehensif.
Di tengah-tengah dinamika rapat kerja nasional dan wilayah, diharapkan bahwa semua kegiatan tidak hanya seremonial semata. Kesungguhan, keseriusan, dan kecerdikan dalam membaca situasi dan kondisi masyarakat menjadi penting agar dapat dijadikan acuan kebutuhan taktis dan strategis.
Sinergi antara stakeholder internal dan eksternal juga menjadi kunci kesuksesan dalam mewujudkan visi dan misi. Kebersamaan dalam aksi gerakan menjadi kunci keberhasilan dari program dan kegiatan yang direncanakan.
Efektivitas dan kontribusi dari setiap program dan kegiatan akan menjadi indikator keberhasilan, baik bagi institusi maupun bagi individu yang terlibat.
Dalam merancang dan membangun aksi gerakan dari berbagai majelis dan lembaga, kepemimpinan ketua atau koordinator persyarikatan dan tim manajemen operasional memiliki peran yang sangat penting.
Setiap individu yang memiliki komitmen kuat, loyalitas tanpa batas, dan integritas moral kepemimpinan visioner dan revolusioner yang menjadi faktor penentu dalam kesuksesan kepemimpinan mujadid (pembaru). Wallahu’alam.***
