Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Tahun 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Tahun itu menjadi tahun sejarah bangsa, kebahagian lahir batin rakyat Indonesia tiada tara sehingga isak tangis dan tetes air mata tidak terbendung keluar, tidak terasa karena bahagia, haru, dan bangga.
Kemerdekaan merupakan hadiah paling besar bagi bangsa Indonesia, buah dari perjuangan rakyat Indonesia dengan tetesan darah hingga korban harta, raga, dan jiwa yang tidak terhitung dengan angka.
Ketulusan para pejuang yang mati syuhada gugur menjadi simbol kecintaan pada kemerdekaan bangsa.
Bukan hanya merdeka secara fisik jasadiyah dari rentetan suara desing peluru yang dihamburkan dari senjata laras panjang dan dentuman granat dan bom, melainkan juga kemerdekaan batiniah yang tidak lagi ada romusa (kerja paksa) dan perlakuan intimidasi serta kekerasan psikologis lainnya.
Sudah 77 tahun terlewati, para pemimpin bangsa setiap tanggal 17 Agustus memperingati dan merefleksi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ada hal yang menggelitik dalam perasaan kita yang selalu menjadi pertanyaan, apakah kemerdekaan ini benar-benar ada?
Ketika jawabannya sudah lama merdeka, harusnya rakyat Indonesia sudah tidak tertekan dengan segala kewajibannya yang memberatkan dan perlakuan keadilan yang tidak merata.
Hasil sumber daya alam yang dinikmati segelintir orang, rakyat pemilik sah hanya diperas dengan kemasan pajak dan dendanya bagi yang tidak membayar.
Memang itu aturan negara, tetapi masalahnya apakah berlaku bagi pelaku konglomerat pengusaha yang mengemplang pajak? Sementara rakyat dengan pendapatan sangat kecil dikejar dengan ancaman dihukum apabila tidak bayar.
Padahal boro-boro untuk bayar pajak, memenuhi kebutuhan pokoknya saja tidak cukup. Katanya negara ini kaya raya, faktanya hanya para pejabat yang duduk di singgasana yang menikmati dan menumpuk harta hingga kaya raya.
Sekali merdeka tetap merdeka, namun faktanya kedaulatan kita dicengkeram oleh penjajah oligarki. Bandit-bandit politik dengan klaim negarawan menjadi penyembah oligarki.
Kata Rizal Ramli bahwa menjadikan pejabat negara kenapa harus dari pimpinan partai yang memiliki masalah hukum, hal itu untuk memudahkan mengaturnya seperti mencocoki hidung kerbau.
Kedaulatan negara faktanya masih jauh dari merdeka, yang ada semakin mencengkeram dan itu tidak disadari oleh publik, apalagi rakyat jelata dengan berbagai kemasan dipublikasikan seolah-olah negara ini merdeka dan baik-baik saja, padahal hutang negara terus merangkak naik dan rakyat banyak yang sengsara.
Sumber daya alam masih dicengkeram negara adidaya, PT Freepot dan PTChevron mengambil perut bumi ibu pertiwi puluhan tahun hanya dinikmati segelintir orang, padahal apabila benar-benar dinasionalisasi akan mensejahterakan rakyat Indonesia.
Gedung pencakar langit di kota besar, perumahan elite mengepung dan meluluhlantahkan sawah dan ladang rakyat, itu semua bukan milik negara dan warga negara asli pituin, melainkan konglomerasi warga asing yang menatiralisasi diri untuk hasrat materi.
Dunia properti Pantai Indah Kapuk, Podomoro Grup, Agung Sedayu Grup, Meikarta, dan Sumarecon, mereka memiliki jutaan hektare di berbagai kota besar di Indonesia.
Mereka seolah-olah sudah membuat negara dalam negara yang terlihat dengan kasatmata, rakyat pemilik lahan sah hanya melihat bengong dengan tatapan mata kosong.
Belum lama, viral warga keturunan asing menggondol uang rakyat Indonesia lebih dari 54 triliun aman-aman saja, sementara warga negara asli gigit jari, padahal setiap hari beli BBM, bayar listrik, bayar air, dan bayar pajak setiap membeli perlengkapan dan makan dengan pajak 5-10 persen.
Apakah fenomena itu sebuah kemerdekaan? Semoga kita dapat bersuara meminta pertolongan pada Yang Maha Kuasa agar segera merdeka yang sebenar-benarnya, bukan hanya upacara dan mengibarkan bendera yang bersifat seremonial dan romantisme semata.
Wahai para punggawa bangsa, singsingkan lenganmu, angkat senjata, untuk melawan oligarki.
Wahai para pejuang negara, pakai ikat pinggang untuk memperkuat pertahanan bangsa dari serangan oligarki.
Wahai para penembak jitu, arahkan senjatamu untuk menembak oligarki yang masuk ke istana yang akan merebut singgasana.
Wahai para syuhada, kami yakin engkau tenang di alam baka, jasamu dikenang setiap masa, darahmu tidak mengering, tetap mengalir menginspirasi kami.
Semangat juangmu menjadi debu penyemangat kalbu, jiwa dan ragamu menjadi saksi ibu pertiwi, hingga membuat malu para penipu di negeri yang sedang pilu.***
