Oleh: Hilmi Shuhaibur Romyi*
PENDIDIKAN adalah usaha sadar dalam mencapai tujuan. Itu berarti pendidikan sebagai alat untuk menyadarkan masyarakat dalam upaya mencapai tujuan setiap kelompok individu.
Masyarakat atau individu tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Pendidikan sebagai langkah awal dalam mencapai hal tersebut. Namun, pendidikan bisa didapatkan dari mana saja seperti mengikuti kajian dan lain-lain.
Pada abad ke-21, pendidikan tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan intelektual. Namun, menjadi ruang untuk membentuk karakter, menumbuhkan kreativitas, mendorong kolaborasi, dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa.
Oleh karena itu, tugas pendidik pada era modern saat ini lebih sulit karena tidak hanya menilai dari kognitif, tetapi ranah afektif dan psikomotorik dalam penilaian peserta didik.
Tentu ini menjadi atensi besar untuk instansi pendidikan di Indonesia, terutama bagi guru-guru yang bertanggung jawab atas masa depan muridnya.
Memahami siswa
Pertama, setiap murid memiliki kemampuan yang sesuai dengan kapasitas mereka. Artinya, guru tidak dapat memaksa siswa. Namun, guru harus memahami seberapa jauh murid paham dengan materi-materi yang telah disampaikan.
Dengan cara mengevaluasi melalui tes tulis ataupun lisan untuk melihat secara objektif, apakah siswa tersebut sudah betul-betul memahami atau tidak dengan materi tersebut. Kalau tidak, guru perlu memberikan alternatif pembelajaran bagi siswanya supaya paham dengan apa yang telah disampaikan.
Kemudian tidak semua siswa dapat paham dengan mata pelajaran di kelas. Namun, siswa bisa saja hanya menekuni atau mendalami satu pelajaran. Hal ini menjadi tugas guru untuk senantiasa mengembangkan pemahaman siswa pada mata pelajaran tersebut.
Siswa SMP Muhammadiyah 9 Arcamanik pernah mengikuti wawancara atau observasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung.
Ketika siswa tersebut ditanya mata pelajaran apa yang ditekuni, siswa tersebut menjawab bahasa Indonesia. Siswa tersebut senantiasa dibimbing oleh gurunya dengan memberikan tugas khusus dengan membuat cerpen.
Hal ini menjadi contoh bahwa ketika ada satu murid yang potensinya tertuju pada satu mata pelajaran, guru membantu dalam mengembangkan apa yang disukai oleh siswanya. Maka kecerdasan dapat dikembangkan dan dapat dilihat dari seberapa jauh siswa tersebut paham dari mata pelajaran tersebut.
Pembentukan karakter
Kedua, pembentukan karakter sebuah kewajiban setiap lembaga pendidikan atau pendidik. Bahkan pendidikan memiliki peranan penting dalam mengkonstruksi karakter siswa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Hal ini sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa, memiliki akhlak mulia serta memiliki keterampilan.
Mengapa pembentukan karakter sangat penting? Karena seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, memberikan dampak yang besar dalam kehidupan. Salah satunya dalam penggunaan handphone memiliki dampak positif dan negatif.
Dampak negatif dalam penggunaan handphone dapat mempengaruhi motivasi dan semangat belajar. Tidak sampai situ saja, bahkan dapat mengakibatkan siswa-siswa memiliki mental yang lemah karena terpengaruh oleh tontonan yang tidak senonoh.
Dalam salah satu unggahan akun TikTok Alganova_Indonesia, seorang narasumber mengatakan bahwa gadget tidak membawa kematangan bagi emosional anak. Bahkan terjadinya missing (kehilangan peran orang tua) sehingga emosinya tidak terlatih dengan baik, hal ini mengakibatkan emosi anak atau siswa naik turun.
Maka peran orang tua dan guru dalam pembentukan karakter sangat penting. Untuk membentuk karakter siswa, tentu seorang guru memberikan contoh yang baik terhadap siswanya. Kemudian buat lingkungan kelas dan sekolah menjadi lingkungan yang baik dan memberikan dampak positif bagi siswa dan mengingatkan dengan cara lemah lembut jika mereka berbuat salah.
Memecahkan masalah
Ketiga, proses pembelajaran tidak hanya mentransfer ilmu. Namun, siswa perlu diajarkan bagaimana caranya untuk memecahkan permasalahan. Tentunya instansi pendidikan berperan penting untuk memberikan model atau sistem pembelajaran dalam membangun kreativitas atau keterampilan dalam memecahkan masalah.
Hal ini menjadi penting bagi lembaga pendidikan bahwa siswa juga membutuhkan yang namanya problem solving. Pasalnya pendidikan tidak hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan karakter, tetapi dalam pemecahan masalah pun menjadi bekal untuk masa depan siswa.
Kemudian dalam implementasinya guru berperan penting dalam pelaksanaan sistem yang sudah dibuat oleh sekolah. Guru juga berperan penting dalam menerapkan model pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswanya.
Inilah yang menjadi atensi bagi lembaga-lembaga pendidikan yang menjadikan kecerdasan sebagai pokok utama dalam pembelajaran. Padahal, kalau kita ingin melihat lebih jauh, setiap siswa memiliki potensinya masing-masing.
*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam UM Bandung
