OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Perhelatan demokrasi dalam institusi sosial merupakan sesuatu yang lumrah. Terlebih institusi organisasi politik menjadi ikon perhelatan demokrasi dalam pergantian kepemimpinan.
Sementara institusi sosial kemasyarakatan Islam, dikenal yang lebih familiar dengan sebutan istilah muktamar. Kata muktamar digunakan dalam permusyawaratan organisasi Islam, yaitu Muhammadiyah, NU, Persis, dan organisasi Islam lainnya.
Kata itu digunakan sangat berdekatan dengan makna yang terdapat dalam Al-Quran surat At-Talaq: 06 … wa’tamiru bainakum bima’ruf…, dan musyawarahkanlah di antara kamu sekalian dengan cara yang baik… “.
Muktamar menjadi tempat permusyawaratan untuk mengambil keputusan-keputusan organisasi yang di dalamnya membahas evaluasi yang sudah dilalui, merancang program kerja, dan meregenerasi kepemimpinan.
Muhammadiyah sudah berdiri satu abad lebih. Permusyawaratan dalam masa bakti kepemimpinan ditempuh dalam perhelatan demokrasi Muktamar. Muhammadiyah jauh sebelum Indonesia berdiri sudah memberikan contoh teladan yang baik dalam menjalankan roda organisasi untuk kebermanfaatan pada masyarakat dan umat.
Jalan musyawarah dalam mengambil keputusan menjadi tradisi. Sekalipun organisasi Islam, sistem dan mekanisme pengambilan keputusan-keputusan untuk Muhammadiyah sudah moderat sejak awal kelahirannya.
Termasuk dalam paradigma alam pikiran yang dikembangkan cenderung moderat. Bahkan dalam pengembangan wawasan dan sikap keislaman sekalipun.
Oleh karena itu, Muhammadiyah cukup terkenal pada masyarakat Islam di Indonesia, termasuk di masyarakat Islam dunia, Muhammadiyah tergolong organisasi Islam terbesar yang paling moderat.
Momentum gerak langkah
Muktamar akan digelar tahun ini yang seharusnya pada 2020 yang lalu. Namun karena kondisi dan situasi negeri yang terkena wabah covid-19, dalam tanwir (pengambilan keputusan tertinggi setelah muktamar) hasil musyawarah disepakati untuk diundur dua tahun ke depan persisnya November 2022.
Muktamar biasanya sangat meriah karena puluhan ribu warga Muhammadiyah tumpah ruah dari berbagai daerah seluruh Indonesia. Bahkan perwakilan dari Muhammadiyah istimewa negara-negara luar negeri berdatangan ke lokasi muktamar.
Perhelatan yang istimewa di arena muktamar akan menjadi momentum gerak laju dan langkah Muhammadiyah ke depan. Keputusan-keputusan yang diambil harus benar-benar berdasarkan kajian empirik dan ilmiah.
Hasil kajian yang sudah terjadi sebelumnya, saat ini yang terjadi, dan prediksi ke depan harus mendekati validitas kebenaran. Kajian demi kajian, idealnya harus atas dasar riset-riset ilmiah dari berbagai perspektif keilmuan untuk kemudian direlevansikan dengan kebutuhan Muhammadiyah secara pragmatis dan strategis.
Ada hal yang sangat penting diperhatikan. Momentum muktamar dalam ingar-bingar demokrasi organisasi masyarakat Islam, untuk mengawal dan menjalankan organisasi dengan program-program hasil rumusan dan keputusan permusyawaratan muktamirin, harus dipemimpin oleh orang-orang yang mumpuni pada era hari ini.
Era digital sangat mempengaruhi situasi sosial politik dan ekonomi. Pemaksaan budaya dan tradisi tidak bisa dimungkiri. Pembeliaan kepemimpinan Muhammadiyah harus terjadi. Regenerasi tidak boleh berhenti.
Sadar diri untuk memberi amanah kepada yang lebih mengerti dunia hari ini dan esok hari. Berganti mengamanahi penuh besar hati. Berikan kesempatan kepada yang belum menguji diri.
Apalagi yang sudah berkali-kali dalam pimpinan harus berbagi giliran. Hal itu perlu disadari karena populasi terus bertambah tidak berhenti dan kader-kader yang memiliki potensi banyak sekali.
Andil Muhammadiyah kepada negeri
Muktamar Muhammadiyah momentum organisasi untuk menyadari bahwa negeri ini sangat dipengaruhi oleh Muhammadiyah. Maju dan mundurnya negeri ini ada kontribusi besar Muhammadiyah.
Pemerintah hari ini sudah masuk kategori sakit secara sosial, politik, ekonomi, budaya, dan pertahanan. Jikalau negara ini terus sakit-sakitan, diakui atau tidak, itu karena ada kontribusi yang belum pas dan belum sempurna dari Muhammadiyah.
Yakin sekali ketika Muhammadiyah benar-benar peduli sepenuh hati, sudah pasti ada konsekuensi baik pada negeri. Ini bukan menuduh, melainkan Muhammadiyah sedang merendah hati.
Kita sedikit menekan kesombongan dengan puluhan ribu lembaga pendidikan, ratusan pelayanan kesehatan, dan keberpihakan pada anak yatim dan kaum duafa, apabila belum mampu merepresentasikan secara akumulatif pada wajah bangsa dan negara.
Kecepatan perubahan sosial dan budaya melebihi proses evolusi fisik manusia. Megashift memaksa seluruh penduduk dunia memunculkan budaya baru yang tidak mudah diadapatasi oleh masayarakat generasi X apalagi baby boomers.
Diharapkan momentum muktamar tahun ini mampu melahirkan pimpinan dan kepemimpinan yang adaptif.***
