Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Satu abad lebih persyarikatan Muhammadiyah berkhidmat pada negeri ibu pertiwi, lika-liku bangsa penuh dengan perjuangan untuk mencapai tujuan. Muhammadiyah tidak pernah tidur dan tinggal diam, sejak QS Ali Imron 104 dan QS Al Ma’un menjadi spirit beramal sholeh untuk umat dan bangsa.
Dengan berbagai kekuatan yang dimiliki, warga persyarikatan bahu-membahu menjadi inisiator di daerah dan cabang masing-masing untuk membuat rancangan berbagai amal usaha dan yang paling banyak diinisiasi yaitu amal usaha pendidikan. Mulai dari bustanul athfal atau taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Para pejuang pendiri amal usaha, mereka adalah penggerak persyarikatan yang penuh dedikasi dan loyalitas tanpa batas, bukan hanya tenaga banyak berkorban, melainkan jiwa dan hartanya.
Kadang-kadang tidak menghiraukan waktu untuk keluarga, begitulah para pejuang persyarikatan, mereka sebagai pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah.
Puluh ribuan amal usaha milik persyarikatan bukan disulap langsung ada, melainkan dibangun dengan bercucuran keringat dan pengorbanan jiwa dan raga juga harta.
Betapa mulianya orang-orang yang sudah berjasa, wajar suatu ketika mereka diberikan tanda jasa. Bukan ditutup rapat seolah-olah tidak berbuat apa-apa. Siapapun yang berbuat seperti itu, kurang ajar namanya.
Dalam kondisi jiwa kita sadar, renungkan kembali untuk memberi apresiasi kepada para penggerak dan inisiator pendirian amal usaha, termasuk orang-orang mewakafkan yang rela mengorbankan harta, jiwa, dan raganya.
Sekalipun hanya setetes keringat, sumbang satu kata dan kalimat, dan berpartisipasi sesaat berbuat, mereka tetap berjasa. Apalagi mereka yang berjibaku tanpa sekat batas waktu.
Setiap waktu tidak mengenal lelah dan putus asa, entah berapa meter kubik keringatnya bercucuran. Entah berapa ribu jam waktu tersita. Berapa lama menahan kesabaran menghadapi lika-liku mencari jalan keluar dan solusi setiap mengalami kebuntuan berkerja.
Kadang-kadang mereka tidak kuat menahan cibiran dan nyinyiran dari orang yang tidak menyukai apa yang mereka lakukan. Namun, begitulah sebuah perjuangan seharusnya, yakni banyak yang pengalaman pahit dan manis.
Namun, harus diingat fakta dan realitasnya untuk diperbincangkan bahwa manusia pada dasarnya sama. Tidak ada perbedaan.
Hal yang membedakan selanjutnya yang paling banyak mempengaruhi sudah dipastikan lingkungan keluarga, yakni bagaimana orang tua membentuk anggota keluarganya. Mulai dari soal makanan yang diberikan hingga pola komunikasi di antara anggota keluarga. Termasuk juga soal tidak ketinggalan pola asuh yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga.
Kemudian lingkungan pendidikan. Harus diingat bahwa lingkungan pendidikan menjadi hal penting dalam membentuk cara berpikir karena dipengaruhi oleh sistem pembelajaran yang dikembangkan.
Hampir semua orang mengakui yang paling mempengaruhi pola berpikir dipastikan latar belakang pendidikan. Padahal, menurut sepengetahuan, pola pikir dan sikap kedewasaan didominasi, selain oleh pendidikan yaitu oleh pengalaman.
Proses pendidikan pun apabila tidak dibarengi dengan pengalaman, akan cenderung tidak menapak atau hanya ada dalam angan-angan dan wacana. Jika demikian pada akhirnya ketika mulai menapaki kehidupan, semua itu sudah usang dan tidak terlalu bermanfaat.
Dari pengaruh tersebut, wajar apabila para pengelola organisasi persyarikatan Muhammadiyah bergantung pada siapa orang-orang yang menjadi pimpinan, termasuk para pengelola amal usaha Muhammadiyah.
Bagi pimpinan persyarikatan dan amal usaha yang kurang memiliki portofolio kepemimpinan prestisius, tidak memiliki karya monumental, ada kemungkinan kepemimpinannya akan mengalami kesulitan untuk mencapai hasil kinerja yang produktif dan berujung sekedar berjalan seadanya.
Biasanya tipe kepemimpinan yang sekedarnya seperti itu, terindikasi ada proses pengangkatan atas permintaan atau titipan sekelompok orang yang memiliki pengaruh dalam sebuah komunitas dengan alasan tersembunyi. Hal itu biasanya agar bisa dan dapat diintervensi,
Hal tersebut bisa dibuktikan secara faktual bahwa kepemimpinannya cenderung melambat dan tidak akseleratif dalam kemajuan organisasi yang dipimpinnya.
Diakui atau tidak, faktanya apabila amal usaha Muhammadiyah yang cenderung melambat, tidak bergairah, dan hanya sekedar berjalan. Ketika ditanya alasannya, banyak seribu alasan diungkapkan seperti tanpa beban. Hal tersebut jadi bukti bahwa kompetensi manajerialnya kurang mumpuni.
Baiknya untuk amal Usaha Muhammadiyah dalam menghadapi era global-digital harus ada perubahan mendasar. Kemudian paradigma yang dibangun harus berkreasi untuk mempercepat dinamika pola pengembangan yang variatif.
Hari ini investasi infrastruktur bangunan sangat mahal sehingga pimpinan amal usaha Muhammadiyah harus membuat percepatan cash flow keuangan yang sehat dan memiliki benefit ganda.
Tidak hanya sekedar cukup belanja pegawai dan operasional, melainkan dari benefitnya harus menambah dan melipat benefit material dan immaterial untuk mengembangkan lebih produktif.
Harus dicatat, dalam pengelolaan amal usaha, kuncinya ada pada kepuasan pelanggan eksternal dan internal. Sehebat apa pun infrastruktur, apabila kepuasan pelanggan rusak, jangan berharap akan maju.***
