News

Peran Ayah Dalam Penurunan dan Pencegahan Stunting

×

Peran Ayah Dalam Penurunan dan Pencegahan Stunting

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (unsplash)

BANDUNGMU.COM, Yogyakarta — Upaya percepatan penurunan dan pencegahan stunting, selain kolaborasi multipihak dan multisektor, hal yang tidak kalah penting ialah kolaborasi dan partisipasi aktif kedua orang tua.

Hal itu diamini oleh Warsiti selaku Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah. Pada sisi lain, ungkap Warsiti, upaya meningkatkan asupan gizi pada anak bukanlah hal yang mudah karena melibatkan banyak faktor seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan informasi.

Menurut Rektor Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa stunting bukanlah sebuah masalah, melainkan sekadar periode atau proses pertumbuhan anak.

Baca Juga:  Dinkes Pastikan Tidak Ada Kasus Makanan Basi dalam Program MBG Kota Bandung

Padahal kondisi stunting pada anak kata Warsiti akan membawa dampak pada perkembangan otak dan masa depan seorang anak. Dalam hal budaya, Warsiti menjelaskan bahwa antara budaya dan stunting ini sangat terkait erat masih sering kita jumpai pengasuhan anak dan peran domestik yang dianggap sebagai kewajiban Ibu.

“Masih kita temui bahwa mengasuh anak itu ibu yang bertanggung jawab, bukan suami, bukan ayah. Bahkan ketika kita tanya apakah ayah perlu diberi edukasi, dibilang tidak perlu karena yang utama mengasuh anak itu kan ibu,” ungkapnya seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Sabtu 28 Januari 2023.

Baca Juga:  Pakar Universiti Putra Malaysia Bahas Peran Kecerdasan Buatan dalam Digital Marketing di UIN Bandung

Padahal menurut Warsiti suami adalah sosok penting yang signifikan untuk mendorong adanya pengasuhan yang baik dan dalam memberikan nutrisi yang adekuat. Hal ini kata Warsiti memerlukan upaya untuk memberikan informasi yang benar bahwa pengasuhan itu tanggung jawab kedua orang tua.

Warsiti menyebut bahwa banyak kultur di Indonesia yang menyebabkan seorang ibu terhambat dalam upaya mencapai derajat kesehatan dan kesejahteraan akibat keadilan gender. Padahal kesehatan ibu yang tidak optimal akan menjadi faktor risiko terjadinya stunting.

Baca Juga:  Jawab Tantangan Zaman, Kader Nasyiah Didorong Berorganisasi dengan Lincah

Selain itu, capaian ASI eksklusif yang masih rendah dan masih tingginya angka perkawinan anak di Indonesia juga menjadi faktor-faktor risiko stunting yang dipengaruhi oleh kondisi budaya.***

__

Editor: FA