BANDUNGMU.COM — Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM), melalui Bidang Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan (PKK) menyelenggarakan sarasehan.
Sarasehan tersebut bertema “Mewujudkan Sekolah Sebagai Wahana Kreativitas dan Kewirausahaan Pelajar” dan berlangsung Jumat (20/05/2022).
Kegiatan melalui Zoom ini bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2022.
Ketua PP IPM Bidang PKK, Imam Sholehudin, menegaskan bahwa hadirnya bonus demografi menjadi peluang bagi anak muda Indonesia.
Selain itu, ungkap Imam dalam mengambil peran pergerakan dunia kreativitas ini, tentunya ruh anak muda adalah kreativitas.
Sebab, sambung Imam, jika anak muda tidak memiliki kreativitas, maka bagaikan pedang yang tumpul.
Harus produktif di bidang usaha
Ketua Umum PP IPM, Nashir Efendi menyampaikan bahwa di bidang pendidikan tak sekadar menghapal dan berhitung, tapi juga kewirausahaan.
“Kita tidak hanya belajar masalah kognitif saja, tetapi juga harus produktif di bidang usaha,” kata Nashir.
Komisaris Jamkrindo, M. Muchlas Rowi menjelaskan IPM harus kreatif dan tidak boleh antipati terhadap perkembangan teknologi.
Ia mencontohkan perusahaan Nokia yang menjadi raja dalam perniagaan, tapi sekarang tidak menjadi perusahaan besar karena tidak mau beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Kewirausahaan itu berbicara mengenai peluang untuk kemaslahatan umat dan masyarakat. Dan IPM harus membangun core comptetitive sehingga bisa bersaing di dunia luar,” tandas Muchlas.
Muchlas Rowi mengingatkan kader IPM harus mempersiapkan diri dengan skill (kemampuan) di masa mendatang agar menjadi pemenang guna menghadapai bonus demografi.
Teknologi peluang bagi anak muda
Tak lupa, ia pun mengamanatkan bahwa hadirnya teknologi yang berkembang cepat ini menjadi peluang untuk anak muda.
Adapun Sekjen Indonesia Creative Cities Network, Arif Budiman, mengatakan di dunia kreativitas dan wirausaha harus mampu menangkap peluang bisnis dan menjalankannya karena Allah.
“Perbedaan orang kaya dan miskin itu ketika mereka memegang uang. Orang kaya akan mengalokasikan untuk sesama, tetapi orang miskin ketika memegang uang hanya dikumpulkan dan merasa kurang,” terang Arif.
Arif Budiman juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis pengusaha, terutama saat Covid-19.
Sebab itu, dampaknya, kata Arif wabah tersebut membuat pengusaha di Indonesia semakin surut, maka dari itu kita harus menjadi pengusaha untuk membuka lapangan pekerjaan.
Pembicara yang lain, Ketua Surabaya Creative Cities Network, Hafshoh Mubarak menceritakan bahwa bergerak secara berjamaah jauh lebih tepat daripada bergerak sendiri.
“Jika mau besar, ya harus berkolaborasi. Semakin banyak yang kita gandeng, maka semakin mudah menjalankan usahanya,” tutup Hafshoh.
Dalam diskusi ini dihadiri 58 partisipan yang terdiri atas perwakilan Pimpinan Wilayah Ikatan pelajar Muhammadiyah (PW IPM) se-Indonesia. ***






