Opini

Pondok Modern Mathla’ul Huda, Mendidik Generasi Rabbani dan Pemimpin Umat

Oleh: Ace Somantri, Wali Santri

BANDUNGMU.COM — Hari ini masih awal tahun hijriyah, hari Ahad 02 Muharam 1444 Hijriyah bertepatan dengan 31 Juli 2022 saat prosesi serah terima santri baru tahun ajaran 2022/2023 pondok modern Mathla’ul Huda Kabupaten Bandung.

Atas undangan pimpinan pondok, melangkah menghadiri anakku yang baru masuk. Semoga ananda El Razi Nezza Azhar sungguh-sungguh menuntut ilmu agar kelak mampu menghadapi tantangan hidup yang lebih berat dan kompetitif.

Ananda engkau hijrah dari rumah tidak semata pindah tidur dan makan, melainkan mendidik diri siap menjadi generasi rabbani untuk mengambil bagian kepemimpinan umat, bangsa, dan agama.

Olah raga dan nalarmu agar menyatu menjadi sebuah ide, gagasan, dan karya nyata. Jangan sia-siakan waktu terlalu banyak canda dan tawa yang tidak banyak makna. Sesekali boleh saja tertawa untuk melepas suasana hati bahagia.

Buat suasana tetap senang, kondisikan hati tetap istikamah pada visi dan misi hidup untuk menatap masa depan gemilang.

Era global dan digital saat ini menyebabkan semua manusia berkiblat pada gadget, android, dan smartphone. Tidak terasa selolah-olah tidak terjadi apa-apa. Genggaman tangan tidak lepas dari dunia maya, banyak di antara kita bersemayam di dalamnya.

Entah ini akan berakhir atau justru semakin maju dan berkembang kecanggihan teknologi yang akan datang. Namun, hal yang pasti revolusi industri 4.0 di negara maju sudah mulai berangsur di tinggalkan.

Mereka mulai masuk di era teknologi revolusi industri 5.0 dengan banyak titik tekan ke artificial inteligence atau kecerdasan buatan.

Yakni banyak aktivitas manusia diambil alih oleh robot-robot yang menyerupai fungsi dan perannya seperti layaknya manusia.

Disadari atau tidak, saat ini dan hari esok sudah dapat terprediksi apa yang akan terjadi. Itu semua dasarnya terlihat dari fenomena sikap dan perilaku manusia hari ini.

Bukan diterawang dengan ilmu perdukunan yang penuh takhayul dan churafat yang banyak tidak mencerdaskan akal manusia.

Pesantren dan sekolah jikalau tidak cerdas menangkap fenomena, tidak mustahil lambat laun akan kehilangan momentum dan berakhir gigit jari. Bukan hanya santri atau siswa yang berkurang bahkan bisa jadi akan hilang.

Derasnya arus globalisasi bah banjir bandang penuh dengan bermacam ragam benda yang banyak menelan korban, bukan hanya luka – luka saja sangat mungkin memakan korban jiwa.

Matinya akal

Kita semua akan terhenyak melihat dengan hati penuh dengan kesadaran, ada seorang pelajar yang pergi ke Palestina dengan tujuan menuntut ilmu.

Namun ada yang bertanya kenapa Anda belajar di sana, padahal negerinya yang sedang perang, kedamaian dan ketenteraman sangat sulit, kapan dan di mana saja rudal dan bazoka membombardir?

Seorang pelajar menjawab dengan tenang. Justru lebih tidak tenang di Indonesia karena lebih dari perang seperti di Palestina, bombardir moralitas melebihi bombardir rudal.

Di Palestina jelas musuh-musuhnya berhadapan langsung terlihat dengan kasatmata, meninggal dalam membela hak beragama pasti syahid menjadi syuhada.

Sementara di Indonesia musuh tidak terlihat dengan kasat mata. Tiba-tiba banyak generasi muda yang meninggal akal sehatnya.

Lihat generasi muda usia sekolah pada merokok, minum-minuman keras dengan berbagai oplosan, nongkrong di kafe lupa waktu shalat, main game online hingga larut malam, dan masjid-masjid penuh sama orang tua, yang muda entah di mana.

Seorang pelajar berseloroh bahwa di Indonesia banyak generasi muda sudah menjadi mayat-mayat hidup karena mereka tidak punya arah hidup.

Spirit kolaborasi

Alhamdulillah pesantren-pesantren yang masih berdiri tegak dapat menjaga benteng dari serangan rudal-rudal yang membombardir moralitas santri-santri.

Sangat yakin bahwa mereka senantiasa harus menjadi para pemimpin masa depan yang siap kapan saja menjadi panglima perang melawan pasukan kebatilan yang semakin hari kian semakin banyak hingga sulit dihitung jumlahnya.

Perlu kiraanya santri-santri dibekali berbagai skill baik itu hard maupun soft. Hal itu akan menjadi senjata yang tidak berat dibawa ke mana pun ketika berhadapan dengan musuhnya siap untuk ditembakkan. Minimal mampu melawan musuh kemalasan dan kedunguan berpikir jahiliyah.

Tidak ada salahnya, pelajaran dan hikmah hijrah Rasulullah SAW membangun kekuatan kolaborasi Muhajirin dan Ashar dapat diterapkan dalam mengembangkan sistem pendidikan atau pembelajaran pesantren dan sekolah perbanyak kolaborasi untuk membangun kekuatan full super power.

Insyaallah bisa dan pasti bisa. Dalam kesulitan pasti ada jalan kemudahan. Wallahu alam bishowab.***

Exit mobile version