Opini

Profesi dan Passion Hidup Bukan Kebetulan

Ilustrasi. Foto: istockphoto

OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Miliaran manusia di dunia hidup dengan berbagai profesi. Jutaan jenis dan macam ragam profesi di seluruh dunia muncul sesuai dengan kebutuhan manusia. Hal itu juga menjadi tempat manusia mengisi ruang dan waktu.

Setiap profesi yang ditekuni, ada yang dirancang sebelumnya dan diproses dengan memperdalam keilmuan yang sesuai. Namun, ada juga yang tiba-tiba tanpa ada rencana, tidak sesuai dengan keilmuan yang dimiliki.

Itulah uniknya manusia, tentu selain dari kekuasaan dan kebesaran Allah sebagai Sang Khalik. Kita sangat yakin bahwa tidak mungkin manusia diciptakan tidak dengan rezekinya. Dalam peribahasa sehari-hari sering diungkapkan bahwa kematian, kebahagian, kesejahteraan, dan peristiwa kecelakaan sudah ada ketentuannya (pati, bagja, jeung cilaka geus aya takdirna).

Artinya, setiap manusia yang lahir ke alam dunia semesta sudah dipastikan dengan segala bentuk kebutuhan disediakan. Itu semua benar secara empiris inderawi bahwa ketika manusia lahir semua sudah ada.

Jadi siapa pun yang menyangsikan hal itu, maka dapat dikatakan dia sudah kufur nikmat. Terlihat semua di alam semesta ini bahan mentah dan baku melimpah ruah sehingga totalitas jumlah kuantitatif tidak mudah untuk dihitung dengan perlatan secanggih apa pun.

Profesi apa pun di dunia semua dapat diciptakan oleh manusia, yakni sejauh mana kemampuan nalar intelektual, ide cerdas untuk menggagas sebuah karya yang muncul dalam ruang dan waktu memiliki kebermanfaatan bagi manusia.

Bahan mentah dan baku secara materil dapat dikatakan tidak terbatas (unlimited), apalagi yang bersifat imateril. Kapan dan di mana saja kebutuhan manusia bisa di-drive untuk dijadikan bahan untuk menjadi suplai dan deman secara ekonomi.

Secara empiris, logika manusia tidak bisa menerima ketika ada komunitas manusia kelaparan karena tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok, ketika semua di alam semesta ini sumber daya alam ada semua. Namun, ada hal yang ironi, yakni pengangguran (jobless) sangat banyak.

Tidak logis dan irasional karena apa pun di dunia ini semuanya sudah tersedia. Termasuk manusia sendiri ketika dilahirkan diberikan alat yang super canggih yaitu akal. Dengan akal itu manusia mampu mengubah diri dan lingkungannya.

Profesi orang di dunia, ketika sudah dinikmati, seharusnya tumbuh kembang menjadi passion. Jangan menunggu profesi sesuai dengan passion karena hal itu akan menimbulkan sikap egois dan berakhir jobless.

Peluang dan kesempatan di depan mata, tidak ada yang kebetulan begitu saja, tetapi sudah disedikan. Ketersediaan tersebut harus dirancang, dijalankan, ditekuni, dan dikembangkan hingga menghasilkan.

Selanjutnya di-maintenance sesuai dengan tuntutan kebutuhan zaman manusia. Selalu update senantiasa beradaptasi. Bahkan bukan hanya mengembangkan, melainkan dalam waktu tertentu dapat mengubahnya.

Suka dan tidak suka, jikalau itu sebuah tuntutan dan cara untuk tetap survive, maka harus dilakukan dengan modal portofolio (pengalaman) sebelumnya. Sekali lagi, semua bukan kebetulan, melainkan sudah disediakan oleh Allah Sang Pencipta.

Generasi ke generasi, manusia dalam merekayasa hidup sangat dinamis. Reka perdaya sebuah karya terus akan berlanjut sepanjang alam semesta dan manusia ada.

Peluang untuk kaya raya sangat terbuka karena semua sudah tersedia. Semua dapat berbagi karya karena tidak ada manusia yang tidak berdaya sekalipun multituna.

Kadang-kadang manusia sempurna secara inderawi sangat tidak tahu malu ketika tidak berdaya, sementara orang yang tuna berdaya dan banyak karya. Di sini titik tumpu bukan pada kesempurnaan inderawi, penentu keberdayaan melainkan ada pada kerja keras, cerdas dan tuntas.

Sejatinya kita jangan malas-malasan menunggu diberi hasil karya dari orang lain sehingga lama-lama membentuk nalar dan intelektual menjadi tumpul dan dungu. Cakrawala alam semesta terbuka lebar. Kesulitan demi kesulitan akan terus bertumpuk ketika menutup mata, telinga, hidung, dan hingga menutup rasa.

Tidak ada profesi yang abadi karena semua akan terdisrupsi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkan oleh generasi manusia. Ketersediaan tidak akan pernah habis selama manusia menghargai dan menghormati kaidah-kaidah alam semesta.

Namun, ketika manusia sombong dan congkak, alam semesta dikelola tanpa kaidah dan norma, jangan salahkan alam ketika manusia akan menerima akibatnya. Alam semesta tetap ada dan memberi pada manusia sekalipun banyak perilaku manusia durjana karena alam semesta dicipta untuk manusia.

Sebagai manusia, tidak ada alasan apa pun tidak mempunyai profesi, apalagi menyandra diri tidak bekerja (jobless), justru hal itu adalah perbuatan kufur nikmat. Berdaya dan berkarya bagian dari bentuk syukur, menyandra diri menganggur bagian dari bentuk kufur.

Yakin seyakin-yakinnya manusia di mana pun lahirnya sudah tersedia dan disediakan rezekinya tanpa melihat etnis, ras, dan agamanya. Allah Maha Rahman dan Maha Rahim.***

Exit mobile version