Opini

Puasa Sebagai Madrasah Ruhani untuk Membersihkan Penyakit Hati

Ilustrasi (Istoscphoto).

Oleh: Muhsin MK*

Setiap manusia memiliki qalbu. Qalbu atau hati yang ada dalam diri manusia berupa segumpal daging.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik (sehat) maka baik (sehat)-lah seluruh tubuhnya. Jika se gumpal daging itu rusak (sakit), maka rusak (sakit)-lah seluruh tubuhnya. Daging itu adalah qalbu (hati).” (HR Muslim).

Di sinilah urgensi memelihara diri (QS At-Tahrim: 6). Khususnya hati manusia dari berbagai jenis penyakit yang berbahaya dan merusak hidup dan kehidupan manusia.

Penyakit hati beraneka ragam bentuknya. Semuanya itu perlu dibersihkan dan diobati agar tidak menjadi semakin berat sehingga sangat sulit untuk di sembuhkan hingga hari kiamat datang.

Saat kiamat manusia tidak bisa lagi melakukan ikhtiar membersihkan hati yang sakit. Termasuk dalam mengobati dan menyembuhkannya.

Apalagi kehidupan modern dan globalisasi di zaman kemajuan ilmu dan teknologi (IPTEK) dewasa ini.

Berbagai penyakit hati semakin meningkat dan bertambah jenisnya.

Egoistis, masa bodoh, sok pintar, takabur, ujub, riya, koruptif dan sebagainya.

Selain itu pun gila bermedsos yang tidak pantas di publikasikan semakin semarak.

Apalagi ucapan buruk, celaan, ejekan, dan hal-hal negatif lainnya semakin berkembang.

Semua ini menunjukkan berbagai penyakit hati yang melekat pada diri manusia.

Penyebab penyakit hati pada manusia tidak terlepas dari ulah dan perbuatannya sendiri.

Salah satunya orang yang tergolong munafik. Pura-pura beriman padahal mereka tidak beriman.

Orang-orang seperti ini yang menjadikan diri mereka diberikan penyakit dalam hatinya.

Jika penyakit hati ini dibiarkan, maka akan bertambah lagi penyakitnya.

Mereka ini cenderung suka berdusta atau berbohong (QS Al-Baqarah: 10).

Islam memiliki obat dan pengobatan yang canggih dalam menyembuhkan penyakit hati.

Islam sebagai agama dari Allah memiliki konsep yang benar, jelas, mudah, konkret, dan otentik.

Kapan saja dapat dan untuk digunakan dan dipraktekkan secara langsung.

Tidak cuma bersifat teoretis, tetapi juga praktis, tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Itu pun bisa dilakukan oleh diri sendiri secara individual atau berjamaah.

Beberapa obat penyakit hati disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai berikut.

Pertama, mengobati dan menyembuhkannya dengan menegakkan ibadah shalat dan dzikrullah.

Allah SWT berfirman, “Salat untuk mengingat-Ku (dzikrullah).” (QS Thaha: 14). “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) hati menjadi tenteram.” (QS Ra’d: 28).

Selain itu dalam firman-Nya, “Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. (QS Al-Angkabut:45).

Ini maknanya dengan ibadah salat dan dzikrullah, membuat hati menjadi sehat, tenang, tenteram, dan damai.

Selain itu, hatinya juga terhindar dari berbagai dosa akibat perbuatan keji dan mungkar yang jelas-jelas menimbulkan beragam penyakit hati pelakunya.

Kedua, ibadah puasa. Berpuasa juga dapat mengobati dan menyembuhkan penyakit hati.

Penyakit hati yang dapat disembuhkan dengan puasa antara lain sifat bakhil bisa berubah menjadi sifat pemurah.

Di bulan Ramadhan (puasa), mereka yang memiliki harta benda tidak segan-segan memperbanyak bersedekah dan berinfak, termasuk berzakat dan fitrah.

Apalagi mereka menyadari bahwa di bulan puasa bahwa rezeki mereka akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Apalagi hal ini disebutkan dalam sebuah hadis:

“Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah dengan kebaikan. Dan beliau lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril. Jibril menemuinya pada setiap malam bulan Ramadan untuk membacakan Al-Qur’an kepadanya. Rasulullah SAW ketika ditemui oleh Jibril lebih pemurah daripada angin yang berembus.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu gibah, gosip, dan suka gunjing, ini juga termasuk penyakit hati dan berbahaya.

Penyakit ini bisa sembuh dengan melaksanakan ibadah puasa.

Sebab dengan berpuasa, pengamalnya akan berusaha bukan hanya menahan haus dan lapar.

*Aktivis Muhamamdiyah dan Penggerak Sosial

Exit mobile version