OLEH: TEGUH MULYADI – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat
BANDUNGMU.COM — Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Kehadirannya selalu dirindukan oleh seluruh umat muslim.
Seperti kerinduan seorang laki-laki terhadap perempuan yang dicintainya untuk berjumpa. Seperti kerinduan Romeo terhadap Juliet. Seperti anak ingin bertemu dengan ibunya.
Meninggalkannya adalah kesedihan yang berlarut-larut. Pertemuan itu akan membawa kebahagiaan dan membawa sejuta harapan untuk menjadikan dirinya lebih baik daripada sebelumnya.
Hal tersebut tentunya harus diproses melalui aktivitas-aktivitas yang baik dan hanya mengharap ridha Allah SWT. Aktivitas yang baik itu salah satunya adalah melakukan ibadah puasa selama bulan Ramadhan.
Berdasarkan hadis riwayat Bukhari bahwa barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (rida Allah SWT), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.
Manusia selalu berperilaku salah dan lupa dalam kesehariannya sehingga selalu membawa sejuta harapan untuk masa depan yang lebih baik dengan belajar dari setiap kesalahan di masa lalunya.
Oleh karena itu, manusia diharapkan agar tidak menggali lubang kuburannya sendiri akibat dari kesalahan-kesalahannya. Namun, teruslah menanam yang baik untuk terus menuai hasil yang baik dalam berperilaku dan diperlakukan.
Menurut Jhon Locke dan Francis Bacon dalam teori tabularasa dikatakan anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet of white paper avoid of all characters).
Teori tersebut menginspirasi penulis dalam menafsirkan hikmah bulan suci Ramadhan untuk menghantarkan umat muslim kembali kepada fitrahnya, yakni kembali suci dan selalu cenderung pada kebenaran dalam bersikap.
Menurut penulis, revolusi hati berperan pada perubahan itu sendiri. Pasalnya letak segala penilaian perbuatan menjadi suatu ibadah atau tidak dalam pandangan Allah Swt diawali dengan niat yang ada dihati setiap manusia.
Menurut para ahli, revolusi diartikan sebagai perubahan yang berlangsung cepat dan melibatkan point utama dari dasar atau kehidupan manusia.
Perubahan dalam diri manusia dari yang tidak baik menjadi berperilaku baik merupakan usaha yang berhasil dalam merevolusi dirinya sendiri.
Sementara hati dalam bahasa Arab dinamai dengan beberapa nama, di antaranya al qalbu. al fuadu, dan ash shadru.
Dalam Al Qur’an surah At Tin ayat 4, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Namun perlu kita sadari bersama bahwa bentuk rupawan manusia akan membawa kehinaan apabila tidak dihiasi dengan keindahan hati yang dihiasai oleh iman dan amal saleh.
Sebagaimana lanjutan dari firman Allah SWT: “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang sehina-hinanya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tidak putus-putus” (QS At Tin: 5-6).
Dari ayat tersebut, sesungguhnya pangkal kemuliaan itu terletak pada hati dan amalan seseorang, bukan terletak pada rupa, harta, ataupun jabatan.
Hati dalam tubuh manusia bagaikan raja yang bermahkota di tengah kerajaan. Semua organ tubuh yang lain akan sangat dipengaruhi oleh hati.
Bila raja bersifat baik maka seluruh prajuritnya akan merespons dengan baik. Namun sebaliknya, apabila raja bersifat tidak baik maka seluruh prajuritnya akan merespon yang tidak baik.
Oleh karena itu, sepatutnyalah kita sebagai manusia yang beriman perlu untuk meluruskan niat dan mensucikan hati guna menjadi muslim yang paripurna. Perubahan itu semua disebut penulis sebagai revolusi hati.
Setiap muslim selalu menginginkan kehidupannya lebih baik, selain menjadi teladan di antara sesama manusia tentu mengharap rida Allah yang utama.
Karakter menjadi teladan telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, orang yang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah, hal tersebut diungkapkan oleh Michael Hart dalam bukunya bertajuk “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”.
Pada saat ini, kebaikan dan keteladanan menjadi barang berharga yang langka dalam bermasyarakat.
Oleh karena itu, setiap manusia perlu memperbaiki diri dalam berperilaku untuk terus-menerus mengikuti keteladanan Rasulullah SAW.
Ubahlah kebiasaan tercela seperti gibah, khianat, ria, suuzan (berprasangka buruk) dan yang lainnya dengan perilaku-perilaku terpuji seperti husnuzan (berprasangka baik), amanah, jujur, dan sebagainya.
Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh ampunan dan sangat tepat untuk setiap umat muslim mengintropeksi dirinya sendiri guna menjadi pribadi muslim yang lebih baik lagi.***
