UMBandung
Opini

Revolusi Hijau: Menuju Kedaulatan Pangan (1)

×

Revolusi Hijau: Menuju Kedaulatan Pangan (1)

Sebarkan artikel ini
Ace Somantri

Oleh: Ace Somantri

BANDUNGMU.COM — Manusia bebas menghirup udara di mana pun berada tanpa harus berbayar. Kenikmatan sebagai makhluk hidup dapat bernapas dengan fisik jasad ruhaniah sehat walafiat.

Semakin hijau lingkungan alam semesta maka akan semakin sehat oksigennya sehingga sirkulasi udara yang dihirup oleh manusia dan makhluk hidup lainnya tidak menyebarkan virus jahat dan sangat mungkin meracuni.

Selama bertahun-tahun belakangan ini isu tentang global warming selalu menjadi pembahasan dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi antar negara-negara di dunia. Termasuk Indonesia selalu ikut serta mengkampanyekannya.

Berbagai cara dan kebijakan dunia dilakukan melalui lembaga terkait yang ada relevansinya dengan hal tersebut. Termasuk setiap negara membuat kebijakan untuk berpartisipasi mengurangi resiko dan dampak dari industrialisasi yang mendatang polusi udara, darat, dan laut.

Juga mengantisipasi dampak lain yang mengakibatkan kondisi alam semesta semakin rusak dan membahayakan ekosistem semua makhluk hidup yang berada di lingkungan habitatnya.

Kesegaran menghirup udara sehat merupakan hak asasi yang saat ini sudah cukup dianggap sulit. Terlebih di kota-kota besar dan wilayah kota-kota industri.

Pasalnya, kesegaran udara kondisinya hampir dipastikan sudah terkotori oleh gas emisi karbon kendaraan berbahan bakar minyak.

Belum lagi ditambah dengan industri-industri yang menggunakan berbagai teknologi modern yang mengeluarkan berbagai jenis dan macam limbah dari akibat produksinya.

Bahkan yang memprihatinkan, pernah disematkan ibu kota Indonesia sebagai salah satu kota terkotor di dunia akibat dari berbagai jenis polusi yang menyesakkan.

Pemerintah melalui kementerian terkait, dinas tingkat, atau satuan kerja pemerintah daerah, melakukan tindakan pengendalian dan antisipasi dampak buruk, baik kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.

Walaupun dikatahui oleh publik tindakan pemerintah kadang-kadang hanya bersifat reaksioner sesaat dalam menjalankan kebijakannya. Antisipasi dan pengendalian sering mengalami masalah dalam keberlanjutanya.

Alih-alih karena alasan anggaran atau tidak sinkronnya antar kementerian terkait hingga antar dinas terkait di kota dan kabupaten sebagai pelaksana teknis kebijakan.

Terlepas berbagai alasan atau argumentasi dilontarkan pihak tertentu itu hanya sebuah alibi. Faktanya sudah menjadi rahasia umum yang diketahui publik bahwa pemerintah selalu terjebak pada kebijakan dan anggaran.

Akhirnya masyarakat sebagai salah satu di antara makhluk hidup yang terkena dampak, berpikir mencari solusi dan berusaha keras untuk keluar dari masalah tersebut.

Baca Juga:  Maksa Tapi Memotivasi Warga Divaksinasi

Minimal mengurangi efek buruk permanen terhadap kondisi fisik yang berbahaya dan memtikan dalam waktu singkat.

Fenomena rusaknya kesegaran udara dan minimnya oksigen akibat polusi daratan, lautan, dan udara secara sosial-ekonomi-politik sangat sulit untuk terbebas mutlak.

Hal tersebut sudah menjadi permasalahan membahayakan. Namun, pada sisi tertentu menjadi kebutuhan utama untuk keberlangsungan hidup masyarakat itu sendiri. Cukup dilematis memang.

Namun, sebenarnya bagi Allah SWT tidak ada yang tidak mungkin untuk mengubah alam semesta sesuai dengan kehendak-Nya. Artinya, jikalau kita berusaha mengembalikan kondisi situasi sesuai kehendak Sang Pemilik, pasti akan ada jalan solusinya.

Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Duniamu urusanmu!” Kalimat tersebut memberikan arahan bahwa manusia untuk berusaha keras dan cerdas pasti ada cara baik hingga tuntas.

Revolusi hijau sebuah jawaban yang tepat menghadapi fenomena di atas. Cara dan metodenya punya banyak cara.

Reasoning dan logika akdemik tidak selalu berdasarkan reset terdahulu yang masih bersifat tentatif dan fleksibel.

Namun, ada sumber ajaran Islam yang selalu up to date yakni Al-Quran sebagai sumber utama untuk memecah masalah hidup manusia sudah banyak dijauhi oleh pemeluknya.

Padahal dipastikan bahwa tidak ada satu pun masalah di dunia serta isinya yang tidak ada solusinya. Termasuk masalah global warming.

Insyaallah revolusi hijau menjadi salah satu isu yang menarik untuk dipopulerkan kembali di lingkungan entitas pendidikan sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai khalifah fil ardl.

Kembalikan alam ini kepada pemiliknya. Kelola semua hal yang ditimbulkan dari segala bentuk perbuatan manusia untuk hijau kembali.

Kita semua dalam konteks keilmuan alam sebagai makhkuk biologis berasal dari tanah. Makhluk lain pun secara biologis sama berasal dari alam.

Begitu pun permasalahan alam hijau harus dikembalikan menjadi hijau kembali, sekalipun sudah banyak tumbuh menjamur bangunan tempat tinggal manusia yang terbuat dari besi dan beton.

Namun, sangat penting ruang-ruang terbuka harus dibangun ekosistem hijau yang sustainable atau berkelanjutan sehingga generasi anak cucu kita kelak masih bisa menikmatinya.

Revolusi hijau menjadi isu strategis untuk mengurangi gas emisi kotor yang membahayakan. Sekaligus dalam waktu yang bersamaan menambah sedikit demi sedikit udara segar dengan oksigen yang membantu keberlanjutan hidup manusia lebih baik.

Baca Juga:  Mahasiswa UM Bandung Berjaya dalam Ajang KMMI 2021

Sikap respek para pelajar atau mahasiswa dan juga akademisi harus menjadi pelopor dan penggerak revolusi hijau untuk terciptanya alam semesta berusaha untuk bebas polutan. Minimal mengurangi nilai polutan yang mematikan eksistem mahluk hidup di mana pun berada.

Cara dan metode akan dapat ditemukan jika manusia menghendaki kebaikan. Bahkan akan mendatangkan nilai manfaat benefit yang lebih banyak.

Justru sebalikanya apabila manusia banyak keluar dari rel kaidah-kaidah ekosistem baik akan mengalami kerusakan. Itu adalah rumus alam yang tidak dapat dimungkiri.

Setiap membuat kebijakan yang tidak mengindahkan tata aturan berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan akan terjadi malapetaka. Apa pun kebijakan yang diputuskannya hingga dikeluarkan menjadi perbuatan dan tindakan nyata.

Maka segalanya akan menanggung konsekuensi dan resiko yang memorak-porandakan tatanan dan sistem yang direncanakan dan sudah dijalankan.

Ada banyak persoalan masyarakat dalam lingkup sangat kecil dan spele. Lihat dan sadari perihal sampah yang menohok kasatmata.

Setiap hari manusia dalam keluarga mengeluarkan limbah sampah melimpah dari setiap makanan dan minuman sehari-hari. Jumlahnya kurang lebih 1-2 kilogram sampah. Bahkan bisa lebih yang dibuang berasal dari dapur rumah tangga.

Padahal apa yang dimakan dan yang diminum berasal dari alam semesta, kenapa kemudian sampahnya tidak bernilai guna, malah justru menjadi malapetaka?

Artinya dalam ini ada yang salah memaknainya atau memang tidak memiliki pengetahuan menyikapi tindakan dan perbuatan tersebut?

Padahal manusia sendiri yang memakan dan meminumnya bermanfaat kemudian mengetahui betul bahwa itu semua bermula dari alam tumbuh di atas bumi.

Lantas apa kebaikan manusia kepada bumi, saat kita sadar bumi telah berbuat baik? Catatan kritis ini membuat manusia harus sadar, saat manusia mendapatkan kebaikan dari bumi, sebaiknya manusia juga memberi kebaikan pada bumi.

Sampah dan limbah apa pun harus kembali ke bumi alam semesta. Asalnya bernilai baik maka kembali pun harus baik bernilai baik pula.

Andaikan faktanya manusia pada umumnya mengembalikan dalam kondisi tidak baik, justru merusak tanpa merasa dosa. Konsekuensinya harus menanggung resiko berat yang membahayakan setiap ekosistem makhluk yang hidup di alam semesta.

Baca Juga:  Dua Universitas Luar Negeri Akan Bangun Kampus di Kota Bandung

Revolusi hijau mengembalikan sampah dan limbah ke bumi untuk hijau kembali tanpa menyakiti semua makhluk yang hidup. Perjalanan panjang alam semesta sejak dicipta merupakan tempat tinggal makhluk-makhluk yang layak dan pantas hidup.

Namun, sangat disayangkan saat diberi hidup, manusia tidak tahu terima kasih. Boleh dikatakan sudah berabad-abad lamanya manusia di muka bumi hidup dengan angkuh, sombong, dan serakah.

Dilihat dalam masa, tidak terasa usia bumi semakin tua renta. Hanya menunggu hitungan waktu dengan jari. Apalagi kerusakanya ditambah akibat keangkuhan manusia.

Oleh karena itu, lengkaplah sudah penderitaan fisik bumi yang dicabik-cabik oleh serakahnya manusia yang munafij dan kufur nikmat.

Kesadaran ini semoga tidak terlalu lama jadi bahan perenungan. Segeralah melangkahkan kaki membuat bumi berseri kembali dengan revolusi hijau yang membuat udara segar kembali.

Begitu pun manusia dan makhluk lain menikmati hari-hari setiap saat dari pagi, siang, hingga sore dengan kondisi udara baik dan oksigen yang cukup.

Suara girang burung-burung berkicau tanda bahagia dan sejahtera. Senyum aliran sungai mengalir dengan warna yang jernih nan bersih. Tertawa bahagia semilir angin menghebus ke dalam kulit tubuh tanpa membawa virus-virus jahat nan membahayakan.

Revoluai hijau membuat citra ke depan bahwa sebenarnya tidak ada sampah dan limbah. Namun, sebuah proses sirkulasi dan rantai makanan manusia dan makhluk yang hidup lainnya.

Dapat dipastikan setiap segala hal yang dikeluarkan manusia, baik kotoran alami atau sintetis dari kegiatan produksi, sebaiknya menjadi sebuah wujud fisik yang menjadi inspirasi ilmu pengetahuan.

Sekalipun kotoran dan kemudian dianggap kotor bukan berarti tidak berguna dan juga tidak bermanfaat. Semua kembali kepada manusia itu sendiri sejauh mana cara berpikirnya.

Ajaran Islam tidak ada satu pun yang memberikan arahan dan petunjuk keburukan, kecuali manusia itu sendiri yang bertindak dan berbuat keburukan.

Memaknai revolusi hijau pada dasarnya mengembalikan permasalahan alam ke alam dengan cara yang baik. Memperlakukan fisik bumi penuh rasa kasih sayang dan berusaha membumikan sifat-sifat bumi yang tidak pernah meminta pada manusia.****

PMB UM Bandung