OLEH: ACE SOMANTRI – Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM – Penguasa seolah-olah bergeming terhadap suara sumbang dan aspirasi masyarakat terkait keberadaan IKN, sekalipun berbagai dalih disampaikan dengan pendekatan keilmuan yang subjektif.
Rencana IKN ada motif dan tujuan yang sebenarnya secara tekstual lebih pada pemerataan yang tidak integratif. Namun, faktanya tidak lebih sekadar mengikuti hawa nafsu oligarki.
Apa pun kebijakan pemerintah ketika tersandera oleh oligarki akan cenderung mengikuti para pemilik saham kekuasaan. Rakyat hanya dianggap sebagai penjual suara cukup menonton melongo, sedangkan pejabat berwenang menunggu jatah daging yang akan dilempar.
Kira-kira seperti itu gambaran kondisi dan situasi pada berbagai berita media online yang banyak menyampaikan kritikan cukup tajam terkait IKN.
Kritik itu muncul karena IKN dipandang tidak representatif dalam sudut pandang pragmatis ataupun strategis. Sangat jelas indikasi dan motif kebijakan IKN cenderung kontroversial.
Para gubernur se-Indonesia berkumpul bersama presiden di lokasi IKN untuk melakukan ritual. Setiap gubernur membawa air dan tanah dari provinsi masing-masing ke lokasi tersebut.
Rasionalitas kepemimpinan mempertontonkan cara berpikir kuno dan irasional. Ritual yang akan dilakukan telah memberikan sinyal yang tidak baik bagi rakyat.
Para gubernur yang mengikuti pun sangat disayangkan menutup mata dan telinga. Terlebih dalam Islam pendekatan ritual tersebut dekat dengan kemusyrikan kepada Allah.
Kondisi dan situasi bangsa lagi sekarat menghadapi berbagai persoalan ekonomi. Seharusnya pemerintah fokus menyelesaikan kebijakan yang meningkatkan harapan hidup rakyat.
Bukannya menyelenggarakan seremonial dan ritual rencana pembangunan IKN baru yang terindikasi mengandung motif para oligarki menguasai negeri lebih dari materi.
Perbuatan yang dilakukan para pemimpin di lokasi rencana IKN dengan setiap gubernur membawa air dan tanah sebagai simbol. Islam tegas dan jelas melarang perbuatan yang terindikasi syirik.
Perbuatan pemimpin memberikan simbolisasi keyakinan dibantu dengan perantara benda menunjukkan kepemimpinan musyrik karena yang melakukan beragama Islam.
Apabila benar-benar meyakinkan simbolisasi pada benda untuk memohon sesuatu, itu jelas adalah perbuatan syirik. Hal itu secara tidak langsung menjemput keburukan (tidak ada keberkahan).
Malah yang ada ketika ekosistem hutan di lokasi rencana IKN dialihfungsikan, disadari ataupun tidak, itu akan mengakibatkan bencana yang lebih besar.
Sangat jelas bahwa rencana pembangunan IKN di Kalimantan akan mengakibatkan kerusakan besar-besaran pada ekosistem hutan dan hewan-hewan yang hidup di lokasi tersebut.
Semakin besar kerusakan ekosistem pada alam tersebut, semakin besar pula bencana yang akan timbul.
Jangan banyak berharap akan kesejahteraan, ketenteraman, dan kedamaian kalau disandarkan pada perbuatan yang terindikasi syirik dan fasad terhadap lingkungan.
Pemilik alam semesta, Allah Sang Khalik, akan memberikan peringatan sebagai bentuk kasih sayang agar manusia dan para pemimpin segera sadar.
Konsekuensinya apabila kesadarannya tidak diingatkan, kerusakan yang ditimbulkan akan berdampak bukan hanya saat itu, melainkan akan terus-menerus.
Yang pasti manusia akan lelah menghadapi bencana demi bencana, sangat jauh dari ketenangan dan ketentraman.
Sekalipun dapat materi yang sifatnya sesaat, kondisi bangsa dan negara selamanya ada dalam bayangan bencana setiap saat.
Para pemimpin sudah berbuat menyimpang. Sikap dan perilakunya terus-menerus membuat bencana sosial dengan kebijakannya.
Oleh karena itu, hanya tinggal menunggu konsekuensi dari semua itu. Apa pasal? Keburukan seolah-olah diundang, malah dijemput pula. Setan itu tanpa diundang saja datang, apalagi dijemput, dia akan senang sekali. Mengerikan sekali memang.
Rencana IKN terus menuai kritik para pihak dan tidak sedikit masyarakat mengecam serta memberikan kata supata.
Di tengah kritikan terhadap IKN, pemerintah melalui para elite politik yang berkoalisi membuat pernyataan penundaan pemilu.
Lengkaplah perilaku pemimpin negeri tidak tahu diri dan terus memperbesar bencana sosial kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini.
Semakin besar bencana sosial yang ditimbulkan para pemimpin, semakin besar pula bencana kehidupan alam semesta dan isinya.
Semakin besar kemusyrikan para pemimpin, semakin besar gelombang menjemput keburukan dan bencana.
Semua berdoa memohon perlindungan dari gelombang setan terkutuk yang dijemput oleh penguasa yang zalim dan tirani.***
