Opini

Santri Virtual dan Konten Agama

×

Santri Virtual dan Konten Agama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (media.istockphoto)

OLEH: SUDARMAN SUPRIYADI — Peminat literasi dan sosial-keagamaan

BANDUNGMU.COM — Ketika mondok dulu–walaupun hanya sekilas–ada rutinitas sepanjang hari yang biasa dilakukan santri.

Dari ngaji kitab kuning, belajar makhraj Al-Quran, belajar pidato, belajar menghafal kitab nahwu saraf, dan sebagainya, semua dilakukan dengan tanpa rasa bosan. Tentu diiringi dengan bermain sepakbola atau tenis meja selepas ashar agar tidak penat pikiran.

Itulah kegiatan santri yang terjadi di pesantren, kurang lebih demikian adanya. Bagaimana dengan santri virtual saat ini yang lebih banyak belajar di media sosial dan youtube?

Tentu saja aktivitas seperti tergambar di atas tidak dilakukan. Santri virtual hanya bisa nonton dan chat di kolom komentar terkait materi ceramah atau konten agama. Hanya berputar-putar di situ saja.

Sambil rebahan pun bisa dilakukan karena menonton dan mendengarkan ceramah di youtube hape masing-masing begitu praktis.

Lain halnya dengan di pesantren, mendengarkan kajian kitab kuning atau ceramah kiai, tentu saja harus dengan adab-adabnya. Di antaranya harus berpakaian sopan dan rapi, duduk dengan khitmat, dan tidak boleh mendebat materi dari kiai sebelum diizinkan.

Menjadi santri virtual tidak demikian. Sambil pakai celana pendek dan kaos oblong pun jadi. Pakaian tidak menjadi perhatian karena yang penting isi ceramah yang kita dengarkan. Oleh karena itu, berkah ilmu dari dua cara mencari ilmu tersebut tentu saja beda.

Pertanyaan apakah menjadi santri virtual itu enggak boleh? Bukan itu persoalan yang sebetulnya. Mendengarkan ceramah di youtube pun ada adab-adabnya. Minimal mustami tidak menulis chat di kolom komentar (kalau sedang live misalnya) yang bernada negatif.

Baca Juga:  Bumi Menurut Ilmuwan Muslim

Belajar agama secara virtual melalui media sosial ataupun youtube, baik langsung maupun tidak langsung, merupakan sesuatu hal yang sangat bagus karena di era digital saat ini semua hal bisa dilakukan dengan bermodalkan kuota.

Termasuk juga soal mencari ilmu. Tidak ada yang salah. Bahkan bisa saja kita akan mundur jauh ke belakang andai saja kecanggihan teknologi tidak membuat kita cerdas dalam ilmu agama–tentu dengan guru dan sumber konten yang kredibel.

Jangan pernah menghindari atau bahkan mengharamkan sesuatu yang serba-online. Saat ini jangan heran kalau sebagian besar anak-anak muda di perkotaan lebih suka belajar mengenai materi agama dari media sosial.

Di satu sisi hal itu harus diapresiasi, tetapi di sisi lain ternyata ada dampak negatifnya, misalnya mereka ada sebagian jadi gemar menyalahkan pendapat orang lain yang berbeda dengan dirinya. Apa saja yang berbeda akan diserang dan disalahkan.

Namun, saya pribadi tetap mengapresiasi kaum muda yang belajar agama dari media sosial. Apa pun alasan, setidaknya tekad mereka sudah berada di jalur yang on the track. Terlepas dari cara mereka mengakses konten positif ataupun konten agama yang berpaham aneh.

Alasannya ya daripada menonton konten-konten hiburan yang tidak jelas, bukankah lebih baik mereka melihat konten agama–meskipun tidak semua konten agama bisa terbilang positif bagi mereka.

Baca Juga:  Sebentuk Penghargaan pada Kampus Muhammadiyah, PT Pos Indonesia Bikin Prangko Khusus UMSU

Generasi melek digital

Ada hal yang harus disadari yakni kalangan muda lebih suka konten–jenis apa pun–yang durasinya ringkas, tidak bertele-tele, langsung kepada pokok persoalan yang dibahas. Nah ini juga sebetulnya peluang untuk pembuat konten youtube, yakni bagaimana membidik sasaran dakwah kalangan muda dengan selera mereka.

Oleh karena itu, khususnya ustad-ustad muda Muhammadiyah, harus terjun ke dunia itu untuk mengisi ruang-ruang digital dengan konten-konten yang bisa diakses oleh kalangan muda di luaran sana yang jumlahnya jutaan.

Baik generasi tua maupun generasi muda, sejatinya tidak gagap teknologi, tidak gagap media sosial, tujuannya jelas bahwa kaum muda juga perlu disentuh dengan konten-konten agama yang kreatif, khususnya dari content creator dari Muhammadiyah.

Kalau saja kalangan muda mengakses konten-konten agama dari media sosial atau youtube yang beraliran aneh, tidak berbau NU atau Muhammadiyah, misalnya, saya khawatir santri virtual tersebut terpapar pemahaman-pemahaman aneh terkait agama.

Mengakses dan menonton konten agama yang kurang tepat, hasilnya pun akan kurang lebih sama. Ini yang dikhawatirkan. Oleh karena itu, content creator dari Muhammadiyah harus tampil dan aktif di dunia digital.

Pada satu sisi kita gembira karena banyak anak muda belajar agama meskipun secara virtual. Namun, pada sisi lain khawatir mereka terpapar konten-konten yang bermasalah sehingga nanti dalam pergaulannya, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, mereka mengamalkan apa-apa yang mereka tonton di media sosial dan youtube.

Baca Juga:  Sekolah, Kerja, dan Usaha: Pilihan atau Tahapan?

Platform media dan media sosial saat ini begitu canggih. Konten-konten bisa diproduksi oleh siapa saja tanpa bisa disaring lagi. Mau konten apa pun di youtube, semuanya ada. Oleh karena itu, warga Muhammadiyah harus bisa menjadi content creator andal di dunia tersebut guna menjadi penyaji konten agama yang positif bagi kalangan muda yang akan mengaksesnya.

Generasi tua dan generasi muda wajik melek digital. Kalau keduanya tidak mau terlibat di dunia yang kadang-kadang gaduhnya minta ampun ini, santri virtual akan mengakses konten-konten agama dari kelompok-kelompok yang pahamnya aneh dan membahayakan.

Oleh karena itu, kata kunci yang berkaitan dengan Muhammadiyah, fikih berdasarkan pemahaman Muhammadiyah, pendapat-pendapat Muhammadiyah mengenai isu terkini, ataupun konten-konten pengajian Muhammadiyah, harus diperbanyak di google.

Tujuannya ketika masyarakat mengakses mengenai suatu hukum atau pendapat terkait isu yang sedang hangat, media yang berafiliasi dengan Muhammadiyah bisa bertengger paling atas.

Muhammadiyah atau konten yang berafiliasi dengan Muhammadiyah jangan sampai tenggelam di dasar google. Dakwah bisa dilakukan di mana saja, dengan cara apa saja, dan melalui media apa saja. Dakwah digital juga perlu menjadi perhatian serius.

Bentuk dakwahnya bisa berbagai varian. Misalnya tutorial wudu, mandi zunub, bayar zakat, tata cara salat sesuai dengan tuntunan Muhammadiyah, dan sebagainya. Semoga menjadi perhatian dan terlaksana.***