OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Berabad-abad sekolah sudah berjalan sesuai dengan karakteristik setiap bangsa dan negara. Indonesia sejak kekuasaan Hindia Belanda sudah menjalankan program gerakan pendidikan dan sekolah salah satu bentuk institusionalisasi pendidikan.
Sayang sekali saat itu yang dapat mengakselerasi pendidikan hanya kalangan keluarga berkebangsaan Belanda. Untuk keluarga dan masyarakat pribumi tidak diberikan akses, kecuali anak dari para bangsawan yang mengabdi ke para imprealis dan kolonialis.
Sejarah kelam seperti itu berlangsung cukup lama sehingga wajar Indonesia butuh waktu lama untuk merdeka secara politik, sosial, ekonomi dan hankam.
Keterbelakangan pendidikan masyarakat pribumi membuat cara berpikir masyarakat tidak kritis. Sementara untuk menghadapi kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang diskriminatif dan tidak berkeadilan, harus lebih agresif dan tidak mampu dilawan secara terbuka.
Hampir satu abad kemerdekaan Indonesia dari penjajahan, belum menunjukan signifikansi model pendidikan yang dikembangkan oleh praktisi pendidikan. Model yang dikembangkan lebih fokus pada penguatan kognitif yang parsial sehingga tidak membentuk cara berpikir kritis.
Siswa dan mahasiswa pada umumnya dipaksa secara tidak langsung aspek psikologisnya harus menerima (informasi dan ilmu) dari guru dan dosen. Berpikir kritis jadi terhambat karena daya berimajinasi pada konten yang akan disiasati. Student centred benar-benar menjadi titik tumpu dan pendidik fokus memggerakan serta memfasilitasinya.
Institusi pendidikan segera mengurangi beban administrasi pendidik yang tidak efektif, fokus pada indikator ketercapaian dan hasil. Kreativitas pendidik dan peserta didik harus sinergis tanpa harus ada pemaksaan.
Kemasan komunikasi dan interaksi benar-benar dialogis, mengedepankan cari solusi pada permasalahan yang dihadapi semua (problem solver).
Pembangunan sikap dan karakter lebih pada kecepatan peserta didik lebih adaptasi dengan perangkat hidup dan lingkungan di mana pun berada. Peningkatan sarana prasarana sesuai dengan kebutuhan terkini, yakni jaringan internet yang dapat dijangkau semua kelompok masyarakat di mana pun berada.
Smartphone, android, tablet, dan laptop menjadi perangkat penguatan dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam dunia teknologi, khususnya narasi teknologi digital.
Sekolah sebagai institusi pendidikan yang menjadi rumah kedua setelah rumah tinggal (domisili), ikut menentukan keberlangsungan generasi untuk memiliki kecerdasan emosional. Tujuannya jelas yakni supaya mereka cepat menyesuaikan diri lebih adaptif dengan situasi yang terjadi hari ini dan esok hari.
Sekolah kekinian terletak bukan pada gaul tidak karuan, melainkan terletak pada kemampuan sekolah yang bisa menstimulasi, menginspirasi, dan memotivasi peserta didik lebih cerdik dan kritis terhadap situasi yang terjadi di lingkungannya.
Selain itu, bagaimana sekolah juga bisa merangsang peserta didik agar cepat respons, peka, tampil beda, dan percaya diri menghadapi berbagai kondisi dan situasi apa pun yang terjadi.
Saat ini kompetisi tidak bisa dihindari, kolaborasi sebuah solusi, akselerasi menjadi cara untuk berlari, dan aksi menjadi bukti untuk memberi arti.
Sekolah tempat yang ideal untuk mengkaji, saling memberi inspirasi dan motivasi. Sekolah bukan diposisikan peserta didik sebagai penerima saja. Justru di ruang kelas itulah momentum interaksi dan komunikasi membangun suasana pendidikan seru dan berseri.
Perbedaan sekolah dinamis tentu dilihat dari performanya. Kemudian seperti apa tampilan gedung yang eksentrik dan artistik, konsep kurikulum yang visioner dan futuristik, gaya peserta didik penuh percaya diri, pengelola sekolah agresif dan progresif.
Dengan cara seperti itu, maka lulusannya pun akan lebih kreatif dan inovatif. Kemudian model pengembangan sistem pembelajaran pun lebih diferensiatif dan mutu SDM adaptif.
Sebaliknya, sekolah yang tidak memiliki keunggulan yang dijelaskan di atas termasuk sekolah yang kolonial dan feodalistik. Ukuran indikator ketercapaian sekolah harus keluar dari sistem pendidikan yang mind stream.
Kemdudian keterlibatan semua pihak sebagai stakeholder utama dan penunjang harus sesuai dengan data dan fakta yang lebih akurat serta valid.
Keterujian sebuah sekolah akan muncul dan terlihat dalam pengelolaan kelembagaan yang memiliki keunggulan dan daya saing tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Saatnya sekolah menjadi wadah untuk mencetak generasi aktif dan kreatif guna meraih masa depan gemilang. Semoga saja.***
