Soal Harta dan Kekayaan, Miftah Faridl: Posisikan Kita Seperti Tukang Parkir

oleh -
KH Miftah Faridl (Dok Wildansyah/BEWARAPERS)

BANDUNGMU.COM, Bandung — Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Sebab itu Al Quran dan Hadis merupakan dua pedoman mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Meskipun begitu, umat Islam Nusantara kurang memberikan perhatian terhadap bidang ekonomi, terutama soal kekayaannya.

Begitulah tausiyah dari Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Bandung Prof Dr KH Miftah Faridl saat acara grand opening kafe kampus di UM Bandung, Kamis 16 September 2022.

Miftah menyebut manusia harus meyakini bahwa harta yang ada merupakan harta kepunyaan Allah SWT.

Baca Juga:  Gerak Total Muhammadiyah Menangani Bencana Banjir di Kalsel

“Jangan merasa bahwa kekayaan yang kita miliki mutlak punya kita, sewaktu-waktu harta itu bisa habis atas seizin Allah melalui kecelakaan,” ucap Miftah.

Allah juga mengakui bahwa setiap manusia memiliki hak individualnya masing-masing.

“Tapi jangan sampai karena semuanya milik Allah, pas pulang dari masjid, sendal masjid di bawa pulang,” katanya.

Sebagai manusia, sambung Miftah, tidak boleh lupa bahwa kekayaan yang ada merupakan anugerah dari Allah SWT.

“Selain itu, perlu ada rasa syukur juga atas nikmat yang Allah berikan kepada kita semua,” jelas dosen ITB itu.

Baca Juga:  Memahami Trik Menjual Produk kepada Generasi Milenial

Tidak hanya itu, tutur Miftah, kekayaan pun menjadi bekal bagi manusia dalam beribadah kepada Allah.

“Sejarah membuktikan bahwa bersinergi dalam usaha ekonomi dengan para pendidik dan pendakwah telah melahirkan gerakan Islam di seluruh dunia,” ungkap Miftah.

Kekayaan sebagai amanah

Manusia pun perlu menyadari bahwa kekayaan yang ada merupakan amanah dari Allah SWT.

“Pertanggung jawaban manusia terhadap hartanya bukan hanya sekarang, tetapi di akhirat nanti,” kata Miftah.

Miftah menjelaskan bahwa manusia harus memosisikan diri sebagai petugas parkir dalam menerima amanah itu.

Baca Juga:  Selain Cakap Membuat Proposal, Dosen Didorong Manfaatkan Hibah Penelitian

“Kekayaan itu dirawat dan dijaga, tapi ketika Allah mengambilnya harus ridho karena itu milik Allah,” tegasnya.

Dengan demikian, ungkap Miftah, manusia menyesal bahwa kenyataannya mereka tidak bisa membawa kekayaan yang ada.

“Lebih sedih lagi kalau kekayaan itu menjadi sumber sengketa dan pertengkaran ahli waris,” tandas Miftah.***(Firman Katon)

No More Posts Available.

No more pages to load.