Stasiun Cibatu, Wisata Garut, dan Charlie Chaplin

oleh -
Stasiun Cibatu pada 1918, pada masa kolonial Belanda (Foto: Tropenmuseum).

BANDUNGMU.COM — Bagi kamu yang suka bepergian menggunakan kereta api ke arah Garut atau ke arah lainnya, pasti tahu dengan stasiun bersejarah yang satu ini. Ya, inilah Stasiun Cibatu.

Stasiun Cibatu (CB) adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di kawasan Cibatu, Garut, Jawa Barat.

Melansir ensiklopedia bebas Wikipedia, Selasa 24 Mei 2022, stasiun yang terletak pada ketinggian 612 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi II Bandung dan saat ini merupakan stasiun kereta api aktif terbesar di Kabupaten Garut.

Lokasi stasiun ini kurang lebih 21 kilometer di sebelah utara pusat pemerintahan Kabupaten Garut. Posisi dan ukuran stasiun yang relatif besar ini menjadikan stasiun ini menjadi stasiun utama keberangkatan bagi warga Garut untuk bepergian ke berbagai jurusan di Jawa dengan kereta api.

Stasiun ini memiliki percabangan menuju Garut–Cikajang, tetapi sempat dinonaktifkan sejak 1983 karena kalah bersaing dengan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Pada 24 Maret 2022, lintas Cibatu–Garut resmi dibuka kembali setelah hampir 40 tahun nonaktif.

Baca Juga:  Bila Kamu Butuh Buku dan Majalah Lawas, Datang Saja ke Cikapundung Barat

Dikunjungi Charlie Chaplin

Stasiun Cibatu dibuka pada 14 Agustus 1889 setelah diresmikannya jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Cicalengka dengan Cilacap oleh Staatsspoorwegen, maskapai kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda.

Selain itu, jalur yang menuju Garut juga diresmikan pada tanggal yang sama. Untuk perpanjangan jalur yang menuju Cikajang dibuka pada 1 Agustus 1930 oleh SS.

Pada era kolonial Belanda, Stasiun Cibatu merupakan stasiun primadona karena menjadi tempat pemberhentian wisatawan Eropa yang ingin berlibur ke daerah Garut.

Hal ini sangat wajar adanya karena wilayah Priangan yang satu ini terkenal akan keindahan alamnya sejak dahulu. Banyak wisatawan sudah kepincut indahnya suasana alam kota berjuluk “kota intan” ini.

Bahkan banyak hotel di kawasan Garut yang ketiban “berkah” dari banyak wisatawan Eropa yang datang ke sana. Mereka menginap di hotel-hotel yang saat itu menjadi hotel favoritnya para wisatawan.

Baca Juga:  Bubur Mang H. Oyo: Gurih Kental Bubur Ayam Cakwe yang Terkenal Sejak 1970

Dalam buku “Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997” yang ditulis oleh Haryoto Kunto, antara tahun 1935-1940 setiap hari di Stasiun Cibatu diparkir selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut, di antaranya Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang.

Berdasarkan informasi komedian legendaris Charlie Chaplin pada 1927 pernah menjejakkan kakinya di stasiun ini. Saat itu Charlie Chaplin bersama aktris Mary Pickford sedang dalam perjalanan liburan ke Garut.

Selain Chaplin, tokoh lain yang tercatat menjejakkan kaki di Stasiun Cibatu adalah Georges Clemenceau. Dia adalah pendiri koran “La Justice” (1880), “L’Aurore” (1897), dan “L’Homme Libre” (1913), sekaligus penulis politik terkemuka. Clemenceau menjadi Perdana Menteri Prancis dalam dua periode, yakni 1906-1909 dan 1917-1920.

Baca Juga:  5 Nama Gunung Pilihan untuk Pendaki Pemula! Kamu Harus Pilih Sebelum Mendaki

Setelah kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno, juga sempat berkunjung ke Stasiun Cibatu dalam rangkaian perjalanan menggunakan kereta api luar biasa melalui jalur selatan.

Sepanjang perjalanan tersebut, rakyat di kota-kota kecil meminta Sang Proklamator untuk turun di setiap stasiun (termasuk juga Stasiun Cibatu) dan berpidato di hadapan mereka.

Bangunan dan tatak letak

Stasiun ini memiliki empat jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus. Di sisi utara stasiun terdapat depo lokomotif yang dahulunya dimanfaatkan sebagai tempat perbaikan dan pemeliharaan lokomotif uap.

Depo lokomotif ini berfungsi pula sebagai depo lokomotif cadangan jika ada lokomotif yang harus diganti dalam perjalanan karena kerusakan atau jika ada lokomotif dengan rangkaian yang membutuhkan tenaga tambahan (biasanya traksi ganda).

Pada 1983, seiring ditutupnya jalur Cibatu-Garut-Cikajang, depo tersebut tidak lagi beroperasi sebagai salah satu depo utama. Saat ini depo tersebut hanya berstatus sebagai sub depo.

No More Posts Available.

No more pages to load.