Islampedia

Strategi Memperbanyak Dai dan Konten Dakwah Muhammadiyah di Media Sosial

×

Strategi Memperbanyak Dai dan Konten Dakwah Muhammadiyah di Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istockphoto)

BANDUNGMU.COM — Minimnya dai populer berlatar belakang Muhammadiyah di media sosial membutuhkan strategi terstruktur bagi majelis dan lembaga terkait, termasuk inisiatif dari pegiat Persyarikatan.

“Kita harus menggunakan strategi budaya supaya mainstreaming arus dakwah kita itu juga bisa dinikmati, dirasakan, oleh khalayak umum. Mungkin ini butuh ilmu marketing dakwah,” ungkap Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah Bachtiar Dwi Kurniawan.

Dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) TvMu, Rabu (18/10/2023), Bachtiar mendorong dilakukannya pemetaan strategi secara konsep hingga teknis.

Baca Juga:  KH Omo Suyatna: Tokoh Muhammadiyah Pionir Reformis Keagamaan di Jawa Barat

Bagi individu pegiat dakwah Muhammadiyah yang sudah memiliki ilmu matang dan layak berdakwah, Bachtiar juga mendorong hal serupa.

“Bagaimana cara mem-branding, bagaimana cara mensosialisasikan figur, tokoh, bahkan konten,” tuturnya.

“Maka ahli-ahli konten kreatifnya Muhammadiyah juga harus pandai-pandai memotong-motong kajian daripada ustaz-ustaz, lalu nanti disebarkan di berbagai macam platform; di tiktok, IG, Facebook, dan lain sebagainya sehingga nanti lama-lama akan terkenal, tapi terkenalnya tidak by aksiden, tapi by desain,” jelasnya.

Namun, hal yang paling mendasar, Bachtiar berpesan agar sosok yang hendak dipopulerkan itu memiliki penguasaan ilmu keislaman dan ilmu umum yang kuat dan mendalam, juga ilmu komunikasi yang baik.

Baca Juga:  Kisah Pak AR Ketika Jadi Imam Salat Tarawih di Tebuireng

“Komunikasi publik, komunikasi massanya, juga harus bagus gitu loh. Sebab kadang-kadang ilmunya mendalam, tetapi penyampaiannya, komunikasinya, kurang bagus, monoton, sehingga kurang menggairahkan. Dengarnya jemu, ngantuk, dan sebagainya,” kata Bachtiar.

Di sisi lain, dirinya juga menekankan penguasaan karakter dan ideologi Muhammadiyah bagi dai-dai yang hendak dilambungkan agar corak keberagamaan Muhammadiyah yang moderat, tajdid, dan inklusif ikut tersiarkan.

“Kalau ustaz-ustaz (non Muhammadiyah) yang keras dalam batas-batas tidak sopan saja followers-nya, pengikutnya banyak, ustaz Muhammadiyah yang baik-baik santun-santun yang mendalam enggak ada penggemarnya itu mungkin problemnya marketingnya saja yang mungkin kurang. Jadi, dibutuhkan konten kreator dan marketer-marketer dakwah Muhammadiyah yang baik,” tegasnya.***