Di penghujung tahun 2025, stres akademik kembali menjadi topik hangat di kalangan mahasiswa. Mulai dari tekanan tugas akhir alias skripsi hingga tugas pendamping yang tak kunjung selesai. Bagi sebagian mahasiswa, semester akhir bukan hanya perjalanan menyelesaikan skripsi, tetapi juga menghadapi cemas, overthinking, hingga ketakutan akan masa depan. Kondisi ini membuat banyak mahasiswa berisiko kehilangan motivasi bahkan mengalami depresi.
Di media sosial, meme tentang deadline dan stres mahasiswa akhir semakin ramai. Salah satunya unggahan akun @muhammadfadhlan353 yang aktif membuat konten bertema kehidupan mahasiswa tingkat akhir.
Fenomena ini telah menjadi siklus tahunan di banyak kampus, termasuk Universitas Muhammadiyah Bandung. Rasa takut gagal sering bercampur dengan tekanan lain, sehingga membuat mahasiswa rentan mengalami burnout.
Menurut psikolog pendidikan, stres akademik dapat muncul karena ketidakseimbangan antara tuntutan akademik dan kemampuan mahasiswa dalam mengatasinya. Jika tidak ditangani, stres bisa berkembang menjadi depresi hingga kelelahan mental.
Meski begitu, banyak mahasiswa kini mulai sadar akan pentingnya self-care. Self-care bukan berarti bermalas-malasan, melainkan memberi waktu untuk beristirahat, makan teratur, dan melakukan kegiatan yang disukai tanpa merasa bersalah.
“Sebenarnya semua kegiatan akan terasa menarik kecuali skripsi itu sendiri,” kata Azkia (23), mahasiswa akhir Ilmu Komunikasi.
Selain itu, pihak kampus turut aktif mengadakan workshop maupun seminar mengenai self-care dan kepedulian mental. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber yang memberikan penjelasan praktis dan membantu mahasiswa menghadapi stres akademik.
Menjaga kesehatan mental selama kuliah bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Dengan mental yang lebih stabil, mahasiswa dapat menyelesaikan tugas akhir dengan lebih sehat, terarah, dan manusiawi. ***(IK22/Wida)
