Oleh: Ace Somantri — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM – Makanan sehari-hari anak, misalnya, yang ada di sekitar lingkungan, masyarakat banyak yang tidak paham terkait halal dan haram makanan yang dikonsumsi tersebut.
Padahal, sangat jelas perintah Allah dalam Al-Quran bahwa umat Islam wajib mengonsumsi makanan yang halal dan tayib (aman dan sehat).
Lalu bagaimana dengan makanan seperti cireng, cilung, basreng, batagor, baso tahu, cuankie, dan makanan yang sejenisnya? Apakah setiap orang mengetahui bahan makanan tersebut terkait kehalalannya?
Kita berperasangka baik bahwa makanan itu tentu saja halal. Namun, keyakinan itu bisa dipertangungjawabkan tidak oleh kita di dunia dan akhirat?
Sepertinya hal itu sulit karena harus ada pembuktian verifikasi dan validasi terhadap makanan tersebut. Misalnya dalam pengadaan bahan baku, proses pembuatan (produksi), penyimpanan, dan pengangkutan yang benar-benar harus terhindar dari campuran atau terkena benda najis.
Apalagi makanan instan yang dikemas dan diproduksi oleh non-muslam dipastikan dalam kemasannya jarang ditemukan label halal (mungkin lebih sering tidak ada label halal).
Menyiapkan generasi
Pentingnya sebagai umat Islam, bukan hanya bicara tentang furu’iyah (perkara cabang) yang tidak berujung. Sementara itu anak-anak dan kita sendiri tidak memiliki keterjaminan mengonsumsi makanan yang halal.
Padahal hal itu perintah yang sangat jelas serta tegas penunjukkan (dilalah)-nya terkait halal dan haram. Oleh karena itu, miris sekali ketika umat Islam Indonesia sebagai umat terbesar dan terbanyak di dunia, keterjaminan halalnya sangat memperihatinkan.
Jangan salahkan orang lain ketika kita tidak peduli terkait halal dan haram makanan yang kita konsumsi mengakibatkan munculnya perilaku kurang baik dari anak-anak dan kita sendiri. Ada pengaruh dari apa yang kita konsumsi.
Kesadaran pentingnya mengonsumsi yang halal bukan kewajiban pemimpin saja. Kita juga harus peka dan peduli untuk keberlangsungan generasi umat Islam yang kuat iman dan fisik soal konsumsi halal ini.
Perintah dalam Al-Quran sangat jelas bahwa Islam dilarang meninggalkan generasi yang lemah. Faktanya kita banyak melemahkan diri karena ketidaktahuan sehingga tidak peduli.
Padahal, idealnya kita sebagai orang tua harus meninggalkan generasi penerus (anak-anak) yang tangguh secara fisik, kuat secara mental, dan kokoh secara batin (iman). Satu di antara caranya yakni dengan menyiapkan makanan yang halal lagi baik untuk mereka.
Pahami bersama bahwa fisik kita dibentuk oleh makanan dan minuman yang diambil sari-sari nutrisinya. Kemudian menyebar ke seluruh sel tubuh. Lambat laun membentuk berbagai anggota tubuh seperti darah, tulang, daging, kulit, dan anggota tubuh lainnya.
Istilah titik kritis yang muncul dari kalangan saintis, dimana titik fokus dimaksud adalah tempat yang sering muncul sebagai penyebab masuknya bahan haram atau najis ke dalam produk (Asep Saefurohman, 2022).
Penting juga para produsen atau pelaku usaha memahami tentang ini. Kalau benar-benar ada sentuhan dan gesekan benda haram atau najis dengan bahan halal, maka dalam kaidah hukum Islam dihukumi haram.
Titik kritis sering muncul dalam bahan baku, proses produksi, penyimpanan, dan pengangkutan. Termasuk ketika kita makan daging ayam, sapi, kambing, dalam proses penyembelihannya, ada titik kritis, yakni apabila tidak sesuai dengan syariat, maka itu sangat jelas hukum haram.
Kritis bertanya
Sekarang apakah daging yang kita makan sudah benar-benar sesuai dengan syariat? Kita bisa menyerahkan sepenuhnya kalau tempat potong hewan sudah bersertifikasi halal dan itu dipertanggungjawabkan.
Kalau belum tersertifikasi halal, apakah kita juga menyerahkan sepenuhnya? Sebagai umat ulul albab, sejatinya kita tidak boleh membiarkan hal tersebut begitu bebas.
Kita wajib menelusuri bagaimana kehalalanya. Minimal dengan cara bertanya yang baik, kritis, dan konstruktif agar tidak ada yang terlewatkan.
Sedikit berbagi informasi dan belajar bersama untuk saling mengingatkan mengenai hal-hal yang baik dan benar yang berkaitan dengan aktivitas kita dalam berislam.
Selama ini sebagian umat Islam sering tidak peduli terkait kehalalan dan keharaman suatu produk yang dikonsumsi. Seolah-olah itu tanggung jawab penjual semua produk dan pemegang aturan produk.
Padahal, sebagai pembeli, kita juga memiliki kewajiban untuk mengonsumsi produk yang halal, aman, dan sehat karena itu sangat penting kesehatan fisik serta psikis kita.
Seandainya kita sadar dan mengetahui bahwa produk yang kita konsumsi itu haram, bagaimana mempertanggungjawabkannya di dunia terlebih di akhirat kelak? Tentu sangat berat.
Semoga kita segera disadarkan untuk bersama-sama peduli akan makanan dan minuman yang dikonsumsi itu benar-benar halal.***
