Oleh: Rosi Ainin Faqihah, Aghniya Nur Rizka Fadila, dan Tiara Zahira*
Narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) merupakan kelompok obat-obatan yang sering kali disalahgunakan. Obat-obatan ini mencakup berbagai jenis, seperti kokain (Richards & Le., 2023), golongan opioid termasuk morfin, kodein, osikodon, dan fentanyl yang biasa digunakan untuk mengobati nyeri akut dan kronis (Cohen, Ruth, & Preuss, 2025), heroin yang lebih dibandingkan dengan morfin (Oelhaf & Azadfard, 2023).
Selain itu, metamfetamin atau sabu adalah psikostimulan yang sangat adiktif, menjadi obat terlarang primer atau sekunder yang digunakan di banyak negara (Luikinga, Kim, & Perry, 2018).
Flakka merupakan salah satu jenis katinon sintetis (Patocka et al., 2020). Xylazine adalah obat penenang yang hanya disetujui untuk hewan, telah muncul sebagai zat berbahaya yang menambah kompleksitas masalah penyalahgunaan narkoba (Cano, Daniulaitye, & Marsiglia, 2023), dan sebagainya.
NAPZA memengaruhi bagian otak yang mengatur emosi, yakni sistem limbik. Hipotalamus, yang merupakan pusat kenikmatan otak, juga termasuk dalam sistem ini.
Penggunaan narkoba menghasilkan perasaan ‘high’ dengan mengubah susunan biokimia pada sel otak yang disebut neurotransmitter (Luethi, D. & Liechti, M.E. 2020).
Otak kita bekerja dengan prinsip bahwa jika sesuatu terasa baik, kita seharusnya melakukannya. Otak dilengkapi dengan mekanisme untuk memperkuat perasaan nikmat dan menghindari rasa sakit, membantu kita memenuhi kebutuhan dasar, seperti lapar, haus, kenyamanan, dan tidur.
Misalnya, saat kita lapar, otak memberikan sinyal untuk mencari makanan, hingga kita rela meninggalkan aktivitas lain demi memenuhinya (Daniela-Mădălina, et all., 2023).
Dalam kasus adiksi, terjadi pembelajaran di pusat kenikmatan otak (hipotalamus). Saat mengonsumsi narkoba, otak merespons dengan mengeluarkan neurotransmitter yang mengindikasikan bahwa zat tersebut berguna bagi mekanisme pertahanan tubuh.
Ketika kita merasa nikmat, otak merekam pengalaman itu sebagai sesuatu yang perlu diulang. Akibatnya, otak menganggap penggunaan narkoba sebagai kebutuhan, yang dapat menyebabkan kecanduan (Kaczor, A.A., 2022).
Penyalahgunaan obat-obatan biasanya dimulai di masa remaja. Penggunaan lebih awal meningkatkan risiko timbulnya gangguan penggunaan zat (Luikinga et al., 2018).
Penggunaan narkoba mengakibatkan hampir setengah juta kematian pada tahun 2019, dengan gangguan akibat penyalahgunaan narkoba menyebabkan hilangnya 18 juta tahun hidup sehat.
Menurut laporan United Nations Office on Drugs and Crime, sekitar 275 juta orang telah menggunakan narkoba dalam setahun terakhir, mengalami peningkatan 22% dibandingkan 2010.
Proyeksi untuk tahun 2030 menunjukkan bahwa faktor demografi akan menyebabkan jumlah pengguna narkoba di seluruh dunia meningkat 11%, dengan kenaikan sebesar 40% hanya di Afrika (United Nation on Drug and Crime, 2021).
Penyalahgunaan NAPZA merupakan masalah serius yang tidak hanya berdampak pada individu. Namun, masyarakat secara keseluruhan, dan memerlukan perhatian serta tindakan kolektif untuk mencegah dan mengatasi dampak buruknya, terutama di kalangan remaja yang rentan.
Penyalahgunaan NAPZA tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik dan mental penggunanya. Namun, dalam beberapa kasus, pengguna NAPZA dapat membuat individu terlihat seperti “zombie”, yakni mengalami kehilangan kesadaran dan kontrol diri, seperti pada kasus penyalahgunaan Xylazine yang marak di Amerika Serikat (Debnath & Chawla, 2023).
Fenomena ini mencerminkan dampak serius dari ketergantungan narkoba, yang tidak hanya merugikan individu, tetapi juga pada masyarakat luas.
Transformasi Penggunaan NAPZA menjadi manusia Zombie
Beberapa studi kasus menjelaskan bagaimana efek penggunaan NAPZA yang mengubah perilaku seseorang menjadi manusia seperti zombie. Manusia zombie digambarkan sebagai orang yang tidak berjiwa, berbahaya, dan harus dibunuh sepenuhnya untuk menyelamatkan manusia lainnya.
Stigma manusia zombie ini memperkuat penggunaan NAPZA yang mematikan dan sangat berbahaya bagi masyarakat sekitar. Karena seringkali menimbulkan individu yang hilang kendali, berperilaku agresif, bahkan merugikan masyarakat sekitar (Bowles, Copulsky, & Reed, 2024).
Kemiripan zombie ini juga dapat dilihat dari indikasi akibat konsumsi NAPZA mulai dari kejang, pupil membesar, terjadi kekakuan organ tubuh bahkan menyebabkan posisi trans seperti zombie yang berefek negatif dan mengerikan.
Sehingga stigma ini diberikan untuk mempertegas bahwa penggunaan NAPZA tidak ada manfaatnya sama sekali. Namun, hanya menimbulkan efek negatif yang merugikan, yang harus dibunuh dalam artian ditindak, direhabilitasi, dan diberantas.
NAPZA yang dikaitkan dengan zombie/obat zombie banyak diedarkan dan diperjualbelikan. Biasanya obat zombie digunakan sebagai kombinasi campuran dengan obat terlarang lainnya yang sering diedarkan sebagai bahan pelengkap untuk meningkatkan efek psikotropikanya.
Analisis kasus pertama yang dilakukan oleh Debnath & Chawla (2023) yang menganalisis tentang NAPZA jenis Xylazine. Xylazine merupakan jenis obat keras agonis adrenergic α-2 yang awalnya digunakan sebagai obat penenang hewan saat akan menjalani prosedur medis atau pengujian untuk mengurangi rasa sakit.
Tetapi, sejak awal tahun 2000-an, obat ini mulai disalahgunakan oleh manusia di berbagai negara dengan dominansi terbanyak di Amerika Serikat. Penyalahgunaan obat ini terus meningkat sejak 2015 hingga mencapai puncaknya pada 2020 (Rai & Chad, 2022).
Adanya efek menenangkan, melemaskan otot, dan meningkatkan efek depresi sistem saraf pusat dari opioid, membuat sebagian orang menyalahgunakan Xylazine untuk pelarian dari berbagai aspek permasalahan hidup manusia, seperti alasan kesenangan, merasa lebih baik dari tekanan hidup, dan depresi.
Selain itu, Xylazine juga mudah ditemukan di pasaran sebagai obat keras yang banyak dijual dan harganya relatif murah sehingga tak heran Xylazine banyak dikonsumsi dan mudah tersebar ke berbagai Negara lainnya (Thangada, et al., 2021)
Untuk meningkatkan efek dan nilai jual, biasanya Xylazine dikombinasikan dengan obat-obatan rekreasional lain, seperti cocain, heroin, dan fentanyl.
Penggunaannya dapat dimodifikasi dengan dikonsumsi secara oral, dihirup atau diendus atau disuntikan secara intravena (Alexander, et al., 2022).
Analisis kasus dilaporkan seorang laki-laki dari New York berusia 45 tahun mengalami luka parah di kaki dan lengan. Setelah dianalisis adanya riwayat penggunaan obat-obatan terlarang yaitu heroin.
Heroin tersebut diketahui telah mengalami modifikasi pencampuran dengan Xylazine yang mengakibatkan terdapatnya luka pada kaki dan lengan nya dengan terbentuknya lubang di kulit tubuh.
Luka tersebut muncul sebagai memar kecil atau bekas luka hitam. Semakin hari jaringan luka tersebut semakin memburuk sehingga adanya infeksi pada tulang (Debnath & Chawla, 2023).
Selain itu, ditemukan juga kasus pada 4 juli 2023 yang melaporkan seorang wanita yang mempunyai luka lesi hijau yang sangat parah akibat penggunaan narkotika Xylazine yang disuntikan pada ibu jari dan telunjuk.
Adanya efek kecanduan dari penggunaan Xylazine pada wanita ini mengakibatkan penyuntikan dilakukan secara terus-menerus selama beberapa tahun. Sehingga menyebabkan rusaknya jaringan tubuh dan otot serta menghasilkan respon luka yang sangat panas (Debnath & Chawla, 2023).
Kasus kasus penyalahgunaan NAPZA jenis Xylazine ini terus meningkat di seluruh dunia, bahkan menjadi kasus ancaman kematian yang mengkhawatirkan dunia.
Munculnya luka lesi kehijauan, hilangnya kesadaran diri, pupil yang membesar dan terlihat menonjol. Bahkan ditemukan tanda lain seperti postur tubuh yang kaku, pada area dada hingga mengalami posisi trans seperti zombie, yakni punggung melengkung hampir menyentuh jari kaki (Oleveira, 2024).
Efek manusia zombie akibat NAPZA ini juga banyak dirasakan pada kasus-kasus lainnya, seperti pada kasus NAPZA jenis Flakka. Flakka adalah obat cathinone sintetis yang pertama diproduksi pada 1920-an dan berasal dari Cina dan India kemudian didistribusikan ke seluruh dunia.
Mekanisme penggunaan flakka dapat menghambat transporter norepinefrin (NET) dan dopamin (DAT), yang menyebabkan peningkatan kadar neurotransmitter.
Hal ini mengarah pada efek euforia dan peningkatan energi yang menyebabkan aktivasi reseptor dopamin di otak (Hobbs, Reintz, Baker, & Pandey, 2022).
Selain itu, ini juga memberikan efek euphoria, dorongan kewaspadaan, banyak bicara, gairah seksual, dan sensasi merasa bahagia. Tetapi penyalahgunaan ini memberikan efek seperti manusia zombie (Albishri, et al., 2023).
Seperti kasus yang dilaporkan pada seorang pria berusia 37 tahun yang menunjukkan adanya tanda-tanda bekas luka dan perilaku yang sangat tidak biasa sebelum kehilangan kesadaran hingga dibawa ke rumah sakit.
Tak lama kemudian pria itu dinyatakan tewas. Setelah dilakukan autopsy terdapat beberapa indikasi tubuh yang lebih dari bekas luka/cedera fisik. Yaitu terjadi indikasi seperti edema dan kongesti paru, pembesaran hati, dan organ organ mengalami fluiditas.
Bahkan dari sampel darah postmortem yang dianalisis terdapat akumulasi NAPZA lain seperti flakka (0,81 mg/L), amfetamin (4 mg/L) dan alprazolam (<0.005 mg/L).
Hal ini memperkuat bukti obat yang disintesis sebagai obat zombie biasanya mengkombinasikan zat terlarang lainnya (Hobbs, Reintz, Baker, & Pandey, 2022).
Selain itu dari beberapa kasus yang diakibatkan oleh penyalahgunaan NAPZA sering diidentifikasi memiliki indikasi yang sama pada kasus overdosis NAPZA. Menunjukan gejala dan sifat seperti zombie mulai dari adanya luka lesi yang parah berwarna kehijauan, hingga kekakuan akibat pelumasan otot.
Penelitian menyebutkan bahwa flakka dapat meningkatkan kadar neurotransmitter ekstraseluler dengan memblokir transporter norepinefrin dan dopamine. Sehingga menimbulkan efek kejang-kejang yang menyerupai zombie (Albishri, et al., 2023).
Analisis kasus ini menyimpulkan bahwa apa pun dari jenis NAPZA yang sengaja dikonsumsi atau dikonsumsi dengan dosis yang tinggi, bukan untuk pengobatan kesehatan, tetapi disalahgunakan, efek pelarian dari permasalahan hidup, tidak menimbulkan efek bermanfaat.
Terasa menenangkan di awal penggunaannya, tetapi hanya bersifat sementara karena perlahan sistem saraf pusat akan terganggu, bahkan mengalami kerusakan yang berakibat fatal. Sedikit bukan berarti tak sengaja, apa pun yang bersifat terlarang pasti akan tetap berimbas.
Seperti dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 195, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS Al-Baqarah: 195).
Manusia zombie yang stigmanya tentu negatif, seseorang yang dirugikan, dijauhi dan ditakuti, bahkan harus dibinasakan. Begitulah, apabila dikaitkan dengan QS Al-Baqarah di atas, yang tegas menyebutkan untuk tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.
NAPZA yang belakang ini menjadi sebuah tren bagi sebagian individu, dengan alasan mengikuti tren perkembangan zaman, agar kekinian atau bahkan sebagai pelarian agar memiliki efek halusinasi, depresan, dan stimulan yang seketika hilang dari permasalahan kehidupan dunia. Namun, nyatanya memang hilang seketika, tetapi hidup tetaplah realitas dengan berbagai permasalahan dan tantangan.
Tidak ada yang menenangkan jika bukan kembali kepada pemilik-Nya, yakni Tuhan semesta alam. Semua permasalahan atau kesulitan hidup pasti ada jalan pemecahan terbaik yang tentu sudah dibatasi sesuai dengan kemampuannya.
Efek tren/budaya dunia atau globalisasi bukanlah segala sesuatu yang harus diikuti sepenuhnya. Ada batasan yang tentunya harus dijaga dan dikendalikan agar tidak merugikan karena efeknya bukan hanya pada diri sendiri melainkan ke masyarakat sekitar.
Efek depresan, halusinasi, dan stimulan dari NAPZA menimbulkan dampak merugikan bagi masyarakat di sekitar, seperti kecelakaan, kekerasaan, dan sebagainya.
Mekanisme Transformasi Napza menjadi Manusia Zombie
Flakka atau α-Pyrrolidinopentiophenone memiliki mekanisme kerja yang kompleks yang dapat menyebabkan kondisi mirip “zombie” pada penggunanya.
Saat dikonsumsi, baik melalui inhalasi, injeksi, maupun oral, flakka cepat diserap oleh tubuh dan langsung memengaruhi sistem saraf pusat.
Dalam hal toksikokinetik, flakka cepat diserap oleh membran biologis, dengan efek yang mulai terasa dalam 30-60 menit setelah penggunaan oral, dan lebih cepat jika dihirup atau disuntik.
Metabolisme α-PVP tidak sepenuhnya dipahami, tetapi metabolitnya terdeteksi dalam urine, dengan waktu paruh yang bervariasi antara 7 hingga 34 jam tergantung pada pH urine.
Secara toksodinamik, flakka berfungsi sebagai stimulan yang mempengaruhi neurotransmitter di otak, dengan meningkatkan kadar dopamin dan norepinefrin (Lunetta, et al., 2020).
Hal ini menyebabkan pengguna mengalami euforia dan peningkatan kewaspadaan. Namun, efek ini juga disertai risiko serius, termasuk psikosis, delusi, dan halusinasi. Pengguna sering kali kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kenyataan dan ilusi sehingga menyebabkan perilaku aneh dan tidak terduga.
Gejala kardiovaskular seperti takikardia dan hipertensi serta simptom neurologis dan psikiatris seperti kecemasan dan agresi semakin memperburuk kondisi.
Ketika psikosis semakin parah, kondisi ini menciptakan gambaran yang sangat mirip dengan perilaku “zombie,” di mana individu tampak bingung, tidak responsif, dan terjebak dalam siklus perilaku agresif.
Agresi yang tinggi dan reaksi yang tidak terduga dapat mengarah pada tindakan kekerasan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Dengan demikian, flakka tidak hanya menimbulkan risiko kesehatan fisik. Namun, menciptakan tantangan sosial yang signifikan, terutama pada individu yang rentan, menunjukkan betapa berbahayanya zat ini dalam memengaruhi kesehatan mental dan perilaku (Albishri, et al., 2023).
Xylazine, yang sering kali dicampur dengan fentanil, memiliki efek kuat yang dapat mempengaruhi sistem saraf pusat. Ketika disuntikkan, obat ini menyebabkan penurunan denyut jantung yang berbahaya dan mengganggu fungsi vital tubuh.
Salah satu efek samping yang paling mencolok adalah pembentukan luka besar dan terbuka, mirip bisul dan abses, yang dapat menyebar ke seluruh lengan dan kaki.
Mekanisme ini bekerja dengan mengganggu aliran darah dan menginfeksi jaringan, yang akhirnya dapat menyebabkan nekrosis (kematian jaringan).
Individu yang mengalami kondisi ini sering kali menunjukkan penampilan yang sangat menyerupai zombie, dengan kulit yang memburuk, luka yang tidak sembuh, dan perilaku yang bingung atau tidak responsif.
Hal ini menciptakan gambaran dramatis dari dampak destruktif Xylazine, menjadikannya dikenal sebagai “obat zombie.” Kondisi ini tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi berdampak pada kesehatan mental, memperburuk perilaku, dan kesadaran individu.
Akibatnya, pengguna bisa terlihat seperti makhluk hidup yang hilang, terjebak dalam siklus kehancuran tubuh dan pikiran (S. Ayub, et al. 2023).
Simpulan
Penyalahgunaan NAPZA tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik dan mental penggunanya. Namun, dalam beberapa kasus, pengguna NAPZA dapat membuat individu terlihat seperti zombie.
Dengan beberapa studi kasus disebutkan tidak ada penggunaan NAPZA banyak menimbulkan efek melukai diri sendiri. Bahkan dapat membunuh individu apabila terkena efek kecanduaan yang ternyata menghambat transporter norepinefrin (NET) dan dopamin (DAT).
Yang menyebabkan peningkatan kadar neurotransmitter, sehingga menyebabkan gangguan jaringan bahkan pelemas otot, dan kekakuan yang menyerupai zombie (memiliki postur trans dengan dada yang kaku).
Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 195 juga mengingatkan agar manusia tidak menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan. Pesan ini sejalan dengan dampak buruk penggunaan NAPZA yang tidak hanya merusak diri sendiri, tetapi juga dapat membahayakan orang lain di sekitarnya.
*Mahasiswa prodi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung
