Oleh: Sudarman Supriyadi, Peminat Literasi dan Sosial-kegamaan
BANDUNGMU.COM – Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar dalam bidang apa pun. Negeri kita juga tidak kekurangan stok sarjana, kiai, atau tokoh-tokoh hebat lainnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah semua itu berbanding lurus dengan mapannya adab atau sopan santun (akhlak) saat ini? Jawabannya tidak sepenuhnya benar.
Adab itu bisa dilihat dari hal-hal yang kecil. Misalnya, cara berkomunikasi dengan orang lain, baik lawan bicaranya orang berumur dewasa, sepantaran, maupun berumur di bawah.
Saya pernah berkomunikasi via pesan whatsapp dengan seseorang yang dikenal tokoh di bidang tertentu. Dia orang Muhammadiyah yang ada di daerah.
Seperti biasa, saya ketik kata assalamualaikum, memperkenalkan diri, kemudian tujuan saya mengirimi dia pesan. Apa respons dan balasan dari dia? Hanya jawab “ya”. Luar biasa!
Kasus yang sama sering terjadi ketika saya berkomunikasi dengan orang yang saya anggap tokoh. Mengetik pesan sesopan mungkin, tetapi balasan cukup singkat, yakni “ya” atau “oke”.
Dia hanya membaca dan membalas pesan whatsapp singkat seperti itu. Singkat dan padat, tetapi tidak menjawab salam dari orang lain.
Saya berprasangka baik saja mungkin orang yang saya kirimi pesan sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Orangnya sedang banyak pekerjaan sehingga tidak ada waktu menjawab salam.
Hak pribadi
Memang itu hak pribadi mau jawab salam atau enggak juga tidak ada urusan. Namun harus diingat bahwa via pesan singkat pun itu bentuk komunikasi. Hakikatnya sama dengan ketika bertatap muka.
Lagi-lagi persoalannya tidak semua orang paham dengan pengertian seperti itu. Bahkan pernah saya mengirim file penting kepada seseorang, tetapi direspons dan dibalas seminggu kemudian.
Lebih parahnya lagi dia membalas dengan tidak menjawab salam dan balasan pesan singkat dari dia yang seolah-olah dia orang yang sibuk banget. Padahal enggak sepenuh benar seperti itu.
Ini soal pemahaman terhadap adab dari hal-hal yang kecil. Jangan berbicara adab dengan contoh yang tinggi-tinggi dan jauh. Soal etika dan adab komunikasi via pesan singkat saja kita masih gelap.
Soal menuliskan atau membalas kata assalamualaikum di perpesanan singkat mungkin terlihat remeh, sepele, dan tidak penting sama sekali.
Namun, bagi saya itu bukan persoalan remeh. Justru kualitas adab seseorang bisa dideteksi dari soal salam tersebut. Bukankah perkara yang besar itu berawal dari yang kecil?
Menurut keterangan bahwa menjawab salam itu wajib, sedangkan mengucapkan salam itu sunah. Bagaimana sesuatu yang wajib seperti itu bisa tidak diindahkan?
Kalau kata assalamuaikum dianggap angin lalu seperti itu, meski di dunia perpesanan, bisa saja di dunia nyata dia bukan orang yang bertipikal komunikasinya baik.
Bahkan yang lebih parah lagi, pesan yang kita kirim, hanya dibaca saja oleh orang tersebut. Tanpa balasan pesan dan tanpa balasan salam.
Saya sering mengalami seperti itu. Akhirnya saya tidak pernah lagi mengirim pesan whatsapp kepada orang-orang yang bertipe seperti itu, meski ada kepentingan sekalipun. Saya takut berburuk sangka.
Banyak juga kasus sebaliknya, tiba-tiba kita mendapat pesan singkat dari orang lain yang tidak kenal sama sekali. Kirim pesan tanpa salam dan tanpa memperkenalkan diri. Dia sok akrab.
Identitas
Identitas atau ciri orang beradab itu jangan yang aneh-aneh atau yang susah-susah. Membalas pesan dengan baik dan membalas salam, bagi saya, itu adalah identitas orang yang punya adab yang baik.
Apa pasal? Salam itu adalah bentuk doa dan kebaikan. Bukan basa-basi tiada arti. Harus dipahami juga bahwa salam adalah identitas kita sebagai muslim yang diajarkan Rasulullah.
Meski begitu, kita tidak bisa marah-marah ketika lawan bicara di pesan singkat tidak menjawab salam yang kita ketik. Itu hak pribadi mereka. Yang penting kita sudah menerapkan etika dan adab komunikasi ketika berkirim pesan kepada orang lain. Itu yang lebih utama.
Kalau tidak mengetik assalamualaikum, minimal mengetik salam dalam bahasa daerah, misalnya “sampurasun” untuk orang Sunda, atau salam bentuk lainnya.
Terserah kepada kita masing-masing mau menjadi golongan orang yang gemar menjawab salam dari orang lain atau golongan orang yang mengabaikan salam dari orang lain. Pilihan ada di kita.
Namun bagi subjektif saya, lebih baik kita jangan pernah bicara yang tinggi-tinggi atau mengawang-awang dulu soal teknologi dan kemajuan zaman, untuk menjawab salam saja kita malas kok.***
