OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Tidak aneh dan asing di telinga umat Islam, sering terjadi penyerangan Israel ke Palestina secara brutal dan membabibuta tanpa belas kasihan.
Penyerangan tentara maupun polisi Israel sudah menjadi tradisi kejahatan dan itu sudah seperti hal yang lumrah dan biasa. Mengganggu ketenteraman dan kedamaian bangsa Palestina.
Deru mesiu keluar dari kokang senjata laras panjang sudah bagian dari polusi suara bagi Palestina, hanya ketapel, batu, dan bata kerikil menjadi senjata rakyat Palestina. Intifadah menjadi spirit perjuangan sejak puluhan tahun lalu.
Ribuan korban melayang terus tidak berhenti hingga saat ini, berbagai diplomasi hanya omong kosong untuk mengelabui negara-negara di dunia. Darah para suhada terus mengalir memperkuat ideologi dan spirit perjuangan bangsa Palestina.
Jalan panjang bahkan mungkin hingga kiamat alam semesta. Bangsa Palestina terus hidup dalam imprealisme Israel, tanah sejengkal demi sejengkal terus diakusisi Israel dengan darah segar para syuhada.
Negara muslim tidak bisa banyak berbuat karena kepemimpinan yang tersandera oleh kekuasaan global. Kemiskinan rakyat Palestina terus bertambah, tekanan psikologis membuat mentalitas rakyat kurang baik, bahkan buruk karena harapan hidup bahagia terganggu terus-menerus.
Bagi rakyat muslim yang taat, membentuk karakternya membangun jiwa-jiwa kesatria yang terus melakukan perlawanan. Sementara bagi yang tidak taat kepada yang Mahakuasa akan mengalami depresi berat dan berujung putus asa.
Kebencian yang membekas
Teriakan kalimat takbir sambil melempar batu kerikil ditujukan ke tentara dan mobil patroli serta kadang-kadang pada tank baja Israel. Kebencian rakyat Palestina pada Israel sudah membekas hingga anak cucu dan generasi ke generasi rakyat Palestina sudah mempersiapkan diri menjadi pejuang untuk pembebasan Palestina.
Namun, Israel dengan sekutu permanennya, Amerika Serikat, tidak akan pernah mengakui kebebasan Palestina, apalagi menyerahkan tanah sejengkal pun tidak akan pernah, yang ada terus mereka mencaplok milik Palestina.
Entah ini sebuah simbol bagi umat Islam akan sebuah ibrah dan peringatan tentang berbagai hal mengenai kekuasaan Allah SWT yang akan mengakhiri alam semesta dan isinya.
Benar atau tidak berbagai prediksi dari literatur hadis yang ada relevansinya dengan kondisi dan situasi di Palestina yang sudah puluhan tahun konflik berkepanjangan.
Hanya yang diketahui umat muslim dunia bahwa Palestina hingga saat ini menjadi bangsa yang terjajah. Teriakan protes dari berbagai sidang dan pertemuan di tingkat dunia selalu hanya wacana pro dan kontra.
Kendali konflik Israel-Palestina sebenarnya ada di kekuasaan negara adidaya. Namun, lagi-lagi Amerika Serikat sebagai sekutu Israel selalu ambigu dan tidak pernah memiliki sikap tegas.
Akhirnya negara yang di bawah kendali Amerika Serikat menjadi ambigu, termasuk negara muslim yang ada di wilayah Timur Tengah tidak memiliki sikap tegas.
Indonesia sebagai negara muslim terbesar pun tidak memiliki nilai besar dalam menekan untuk menyikapi kondisi Israel-Palestina. Memang jauh dari menekan untuk bangsa lain, untuk kepentingan bangsa sendiri saja ambigu.
Kejahatan rutinitas Israel sering dikorelasikan dengan ayat Al Quran yang menjelaskan bahwa orang Yahudi tidak akan pernah rida sebelum umat selain Yahudi mengikuti ajaranya.
Terlepas dari teks nash tersebut, kejahatan adalah perbuatan setan dan sikap setan tegas di hadapan Allah SWT bahwa dirinya akan terus mengganggu dan menggoda manusia untuk menjadi pengikutnya hingga berakhirnya dunia (kiamat).
Pernyataan setan tersebut juga relevan dengan makna ayat yang menjelaskan tentang orang Yahudi tersebut di atas. Kejahatan tetap kejahatan.
Setan akan tetap konsisten mengajak manusia di mana pun berada menjadi pengikutnya tanpa melihat suku, ras, dan bangsa dengan cara apa pun.
Tipu daya muslihat terus akan dilancarkan dengan berbagai modus operandi, teknik, dan cara yang sangat canggih pun dilakukan oleh setan tanpa terdeteksi oleh manusia, apalagi hanya dengan panca indra, kecuali oleh keimanan dan ketakwaan yang hakiki.
Semoga Ramdhan meningkatkan kesadaran dan ketaatan kepada Allah SWT. Amin.***












