PMB UMbandung
Opini

Jurnalisme Profetik Sebagai Jalan Etis di Tengah Krisis Informasi

×

Jurnalisme Profetik Sebagai Jalan Etis di Tengah Krisis Informasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istockphoto).
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM, Bandung — Perkembangan teknologi informasi membuka peluang besar bagi media sekaligus menghadirkan tantangan yang berat. Disinformasi menyebar dengan cepat, berita instan mendominasi, dan banyak media lebih mengejar sensasi demi trafik.

Kondisi ini menunjukkan perlunya model jurnalisme yang tidak hanya mengutamakan kecepatan, tetapi memegang nilai moral. Salah satu pendekatan yang menawarkan landasan etis tersebut adalah jurnalisme profetik.

Jurnalisme profetik menempatkan wartawan sebagai pelaku moral yang bekerja berdasarkan nilai kenabian. Konsep ini bertumpu pada tiga pilar yang dirumuskan Kuntowijoyo, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Baca Juga:  Haedar Nashir Apresiasi Usulan Suara Muhammadiyah Menjadi Warisan Budaya

Ketiganya tidak berhenti sebagai konsep teologis. Namun, menjadi pedoman etis bagi wartawan dalam melihat, memilih, dan menyampaikan peristiwa.

Arief Permadi, wartawan senior, pernah menjelaskan bahwa ketiga pilar ini menjadi dasar ideologi bagi jurnalis muslim dalam menjalankan tugasnya. Nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam sikap dan perilaku saat memproduksi berita.

Dalam praktik humanisasi, jurnalis dituntut memuliakan manusia. Mereka perlu menjaga martabat korban, menahan diri dari eksploitasi, dan menghormati batas psikologis narasumber.

Pada aspek liberasi, jurnalis hadir sebagai suara pembebas. Mereka mengungkap ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai bentuk penindasan sosial.

Baca Juga:  NU Tak Punya Pesantren?

Sementara itu, dimensi transendensi mengarahkan jurnalis untuk menghubungkan pekerjaannya dengan nilai spiritual yang menuntun pada kebenaran dan kejujuran.

Penerapan jurnalisme profetik tidak bertujuan membentuk opini publik secara langsung. Opini publik terbentuk melalui aliran informasi yang terus beredar di ruang publik.

Tantangan utama terletak pada tahap produksi konten, yakni bagaimana wartawan menghasilkan berita yang jernih, berimbang, dan berakar pada nilai moral.

Dalam konteks ini, jurnalisme bukan sekadar aktivitas melaporkan peristiwa. Jurnalis memegang peran penting dalam membangun kesadaran kolektif yang adil dan beradab.

Baca Juga:  Masjid Raya Al-Jabbar, Kado yang Ditolak di Hari Milad

Mereka tidak hanya menjadi saksi peristiwa, tetapi pihak yang menjaga integritas informasi. Di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap media, jurnalisme profetik hadir sebagai tawaran etis yang dapat mengembalikan martabat profesi.***(IK22/Melsandi)

PMB UMBandung