PMB UMbandung
Sosbud

Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian Catat Ragam Profesi Masyarakat Sunda dari Panglima hingga Ahli Tekstil

×

Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian Catat Ragam Profesi Masyarakat Sunda dari Panglima hingga Ahli Tekstil

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM, Bandung — Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) yang ditulis pada 1518 Masehi menyimpan catatan penting tentang nilai keberagaman, tata kehidupan, hingga pembagian profesi masyarakat Sunda pada masa Kerajaan Sunda.

Naskah kuno berkode kropak 630 yang terdiri atas 30 lembar daun nipah di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini dibahas secara mendalam oleh tim peneliti Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dalam kerangka riset PISN BIMA Kementerian Ristek Dikti 2026.

Peneliti utama dari Prodi Kriya Tekstil & Fashion UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik menjelaskan bahwa gagasan mengenai keterbukaan terhadap budaya lain dan penghormatan pada perbedaan telah menjadi landasan hidup masyarakat Nusantara sejak lebih dari lima abad lalu.

Baca Juga:  Sejarah Nama Kopo, Ternyata dari Sosok Jawara dan Sebuah Pohon

“Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian bukan hanya memuat ajaran moral. Namun, pandangan mengenai etika kehidupan, hubungan antara manusia dan pemimpin, hingga sikap terhadap budaya luar,” ujar Ken.

Ia mengungkapkan bahwa salah satu bagian SSKK secara eksplisit menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dan menghormati adat setempat ketika seseorang sedang merantau ke wilayah lain.

“Pesan dalam naskah tersebut menggambarkan pentingnya memahami bahasa dan adat masyarakat di tempat yang kita kunjungi sebagai bentuk penghormatan terhadap perbedaan,” jelasnya.

Baca Juga:  Asal Nama Jalan ABC, Berawal dari 3 Etnis Utama di Kota Bandung

Selain nilai sosial dan toleransi, Ken menyebutkan bahwa naskah SSKK mencatat struktur pembagian kerja masyarakat Sunda kuno secara rinci melalui berbagai spesialisasi keahlian.

“Naskah ini mengabadikan berbagai profesi spesifik. Mulai dari hulu jurit sebagai panglima perang, juru basa sebagai ahli bahasa, pangeuyeuk sebagai ahli tekstil, hingga maranggi atau ahli ukir,” kata Ken.

Di samping itu, Ken menekankan pentingnya menjaga keberadaan naskah kuno ini mengingat banyak warisan intelektual dari Tatar Sunda yang tidak berhasil bertahan akibat konflik sejarah.

Baca Juga:  Jadi Hutan Kota Favorit di Bandung, Inilah Jejak Sejarah Babakan Siliwangi

“SSKK menjadi salah satu bukti warisan intelektual Nusantara yang berhasil diselamatkan dan masih menyimpan rekam jejak panjang untuk kita kaji hingga saat ini,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa melalui riset berbasis naskah klasik ini, naskah kuno tidak lagi ditatap sekadar sebagai peninggalan sejarah yang kaku. Namun, sebagai sumber inspirasi untuk pengembangan karya kreatif masa kini.

“Melalui inovasi desain permukaan untuk mode dan musik balada, pelestarian naskah kuno dapat berjalan beriringan dengan penguatan industri kreatif berbasis budaya,” pungkas Ken Atik.***

PMB UMBandung