Oleh: Ace Somantri, Dosen UM Bandung
BANDUNGMU.COM–Siapa yang tidak kenal dengan Prof Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah sekaligus tokoh bangsa yang gagasannya kerap kali menjadi rujukan berbagai kalangan, termasuk praktisi politik di negeri ini.
Beliau bukan hanya mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melainkan tokoh lintas agama yang merepresentasikan kelompok umat Islam.
Selama kepemimpinan Buya Syafii, Muhammadiyah selalu tampil memberi gagasan kebangsaan, terlebih pada pemerintah Indonesia.
Bahkan, tak sedikit pernyataannya di depan publik menyinggung hal-hal yang terkait dengan keberagamaan yang pluralis.
Tak heran, banyak dari kalangan cendekiawan muslim memberi label Buya Syafii Maarif sebagai tokoh muslim pluralis.
Terlepas ada pandangan miring dari sebagian kecil tentang sikap keberagamaan beliau, yang pasti lebih banyak hal yang baik dan positif bagi Muhamadiyah dan Bangsa Indonesia atas apa yang beliau lakukan.
Apalagi, kesederhanaan beliau, perkataan, sikap, dan perbuatannya cenderung linear.
Sosok sederhana
Sekalipun banyak peluang dan kesempatan untuk memperkaya diri, sosok bangsa sekaliber Buya Syafii Maarif, yang ketika itu menjabat Ketua umum PP Muhammadiyah tak tergoda untuk memanfaatkannya.
Sosok seperti ini sangat jarang, kadang yang sangat menyedihkan tidak sedikit tokoh agama rela mendekati penguasa, dengan berkedok untuk kepentingan umat, tapi hanya jualan semata.
Lebih parah merasa sudah jadi tokoh bangsa dan umat, sikap dan perbuatannya tidak jauh seperti lalat penjilat.
Berharap banyak tokoh bangsa hari ini yang menjadi panutan umat dan bangsa yang senantiasa membela agama, bangsa, dan negara.
Buya Syafii bukan hanya sederhana, melainkan bijak dan arif. Kata dan kalimat menjadi petuah-petuah bermakna. Maka layak dan pantas beliau memperoleh penghargaan di berbagai komunitas masyarakat.
Saking banyak petuah yang terlontar, akhirnya menjadi sebuah karya monumental yang tersebar di media masa.
Selain itu, juga terkemas banyak tulisannya menjadi buku-buku yang renyah dibaca para pembaca. Sehingga tidak sedikit cendekiawan muslim menjadikan setiap karyanya menjadi referensi dan pustaka.
Buya, selamat jalan, petuah dan karyamu tidak akan sirna. Sikap bijak dan arif yang menjadi hiasan hidupmu akan menjadi bekal bagi generasi-generasi berikutnya.
Saya masih mengingat kalimat yang sering beliau ucapkan,”Kita harus linear antara perkataan dan perbuatan”.
Seimbang antara perkataan dan perbuatan
Kenapa kalimat tersebut sering terlontar? Karena secara faktual, kebanyakan orang, termasuk para pemimpin negeri, perkataannya, sungguh tidak linear dengan perbuatannya.
Sikap dan perbuatan tersebut dalam Islam dikenal sebagai orang-orang munafik! Karena kata-kata dan ungkapan Buya amat santun, sering beberapa petuahnya tentang kemanusiaan menggunakan perumpamaan.
Tak hanya itu, Buya Syafii Maarif salah satu sosok di balik suksesnya majalah Suara Muhammadiyah (SM) menjadi media mainstream yang bertahan.
Dan konon, sejak majalah tertua di Indonesia itu dipegang sahabat saya, Mas Deni Asy’ari, Buya Syafii menjadi sosok yang menjadi spirit dan motivasi karena SM dipegang oleh sosok muda berbakat.
Kepedulian dan kepekaan terhadap amal usaha Muhammadiyah tidak berhenti walupun usia semakin senja.
Sekali lagi, kami generasimu mendoakan semoga di alam sana mendapatkan tempat yang terbaik dan surga menjadi tempat terakhir.
Terakhir menginjakkan kakimu ke tanah Pasundan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah di Wilayah Kabupaten Bandung.
Di sana pula, ternyata didapat dari anak asuh Buya yang takzim dengan sikapnya Buya Syafii.
Bandung, Mei 2022









