BANDUNGMU.COM — Cendekiawan Muslim Indonesia, Buya Syafii Maarif wafat. Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut mengembuskan napas terakhir, Jumat (27/5/2022), pukul 10.15 di RS PKU Muhammadiyah, Gamping, Yogyakarta.
Tak hanya keluarga besar Muhammadiyah yang kehilangan tokoh pembela kaum lemah ini, tapi juga dirasakan oleh pakar hukum dan tata negara Yusril Ihza Mahendra.
Menurut Yusril, ia berhutang budi kepada pria kelahiran Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935 itu, karena menjadi salah satu penguji dalam disertasi doktornya.
“Ketika saya ujian Doktor Ilmu Politik membahas Partai Masyumi (1992), Buya Syafii termasuk salah seorang pengujinya bersama Muhammad Kamal Hassan (Malaysia),” cuit advokat kawakan itu via Twitternya @Yusrilihza_Mhd, Jumat (27/5/2022).
Suami Rika Tolentino Kato itu pun mengaku Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut sering memberinya nasihat tentang berbagai hal ketika bertemu.
Sosok kritis yang suka bercanda
Selain itu, kenang Yusril, tokoh yang pernah menerima penghargaan Ramon Magsaysay 14 tahun lalu itu pun sebagai sosok yang baik, kritis, dan sering bercanda.
“Kehidupannya sederhana dan bersahaja, sering bergurau tetapi pemikirannya tajam dan kritis,” sambung alumnus Universitas Sains Malaysia itu.
Satu hal, kata Yusril bahwa Buya Syafii telah mewariskan pemikiran yang harus kita pegang teguh, yakni tentang Islam universal dan rahmatan lil alamin.
“Aqidah dan etik yang diajarkan Islam adalah pegangan utama, berlaku abadi. Namun terhadap ajaran sosial dan politik, Islam membuka diri terhadap penafsiran,” papar Yusril.
Hubungan Islam dan pancasila
Bahkan, ungkap Yusril, Buya Syafii pun menyatakan bahwa tak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila.
“Pancasila itu dikembalikan kepada pemikiran para perumusnya yang merumuskannya sebagai sebuah kompromi antara golongan Kebangsaan dan Golongan Islam,” kata pria kelahiran Manggar Belitung Timur itu.
Karena itu, papar Yusril, sumbangan pemikiran Buya Syafii, terutama tentang agama dan kenegaraan penting bagi penerus untuk mengamalkannya.
“Pemikiran Buya mengenai Islam dan masalah-masalah kenegaraan sangat penting untuk dijadikan rujukan bagi membangun masa depan bangsa,” lanjut Yusril.
Politikus Partai Bulan Bintang itu pun berdoa semoga Allah menggolongkan Sang Guru Bangsa itu ke dalam orang-orang yang husnul khatimah.
“Mari kita doakan Buya, semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan salahnya dan menerima segala amal kebajikan selama hidupnya serta memasukkannya ke dalam surga Jannatun Na’im,” tutup pemikir sekaligus intelektual Indonesia itu.***






