Catat! Inilah 7 Keadaan yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa

oleh -
Ilustrasi (Istockphoto).

BANDUNGMU.COM — Umat Islam di seluruh dunia saat ini sampai sebulan ke depan sedang melaksanakan salah satu kewajiban yang Allah perintahkan yakni puasa ramadhan.

Namun, tidak semua umat Islam dalam kondisi ideal sehingga mereka diperbolehkan tidak berpuasa. Ada keringanan dari Allah dan rasul-Nya.

Dikutip dari buku “Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan” karya Ahmad Sarwat, berikut tujuh keadaan orang diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Kesatu, safar atau perjalanan

Seseorang yang sedang dalam perjalanan, diperbolehkan untuk tidak berpuasa. keringanan ini berdasarkan firman Allah:

“… dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya pada hari yang lain…” (QS Al Baqarah: 185).

Batasan jarak minimal untuk safar yang diperbolehkan berbuka adalah jarak dibolehkannya qasar dalam salat, yakni 47 mil atau 89 km. Sebagian ulama mensyaratkan bahwa perjalanan itu telah dimulai sebelum berpuasa (waktu subuh).

Jadi bila melakukan perjalanan mulai lepas magrib hingga keesokan harinya, bolehlah dia tidak puasa pada esok harinya itu.

Namun, ketentuan ini tidak secara ijma disepakati. Karena ada sebagian pendapat lainnya yang tidak mensyaratkan jarak sejauh itu untuk membolehkan berbuka.

Kedua, sakit

Orang yang sakit dan khawatir bila berpuasa akan menyebabkannya bertambah sakit atau kesembuhannya akan terhambat, dibolehkan untuk tidak berpuasa.

“… dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya pada hari yang lain…” (QS Al Baqarah: 185).

Baca Juga:  Perbedaan Rukyatul Hilal, Imkan Rukyat, dan Wujudul Hilal

Bagi orang yang sakit dan masih punya harapan sembuh dan sehat maka puasa yang hilang harus ia ganti setelah ia sembuh nanti.

Kalau orang yang sakit tapi tidak sembuh-sembuh atau kecil kemungkinannya untuk sembuh, cukup baginya dengan membayar fidiah, yakni memberikan makan fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya.

Ketiga, hamil dan menyusui

Perempuan yang sedang hamil atau menyusui pada bulan ramadhan boleh tidak berpuasa dengan dalil berikut:

“… dan tidaklah Allah menjadikan bagimu dalam agama suatu keberatan.” (QS Al Hajj: 78).

Kemudian di dalam hadis pun Rasulullah menegaskan mengenai hal ini:

“Sesungguhnya Allah azza wajalla meringankan musafir dari berpuasa, mengurangi (rakaat) salat, dan meringankan puasa bagi perempuan yang hamil dan menyusui.” (HR Ahmad dan Ashabussunan).

Keempat, lanjut usia

Orang yang sudah lanjut usia dan tidak kuat lagi untuk berpuasa, tidak wajib baginya berpuasa. Dia hanya wajib membayar fidiah, yakni memberikan makan fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya itu.

“… dan bagi orang yang tidak kuat atau tidak mampu, wajib bagi mereka membayar fidiah, yakni memberikan makan orang miskin …” (QS Al Baqarah: 184).

Kelima, sangat lapar dan haus

Islam memberikan keringanan bagi mereka yang ditimpa kondisi yang mengharuskan mereka makan atau minum, untuk tidak berpuasa.

Baca Juga:  Bermesraan dengan Istri, Apakah Membatalkan Puasa? Begini Penjelasannya

Orang yang sedang dalam kondisi ini memang sangat membayakan keselamat jiwanya sehingga makan dan minum menjadi baginya.

Contohnya ketika kemarau yang sangat panas, paceklik berkepanjangan, kekeringan, dan sebagainya, yang mewajibkan seseorang untuk makan dan minum.

Namun, kondisi ini sangat situasional dan tidak bisa digeneralisasi secara umum karena keringanan itu diberikan sesuai dengan tingkat kesulitan.

Semakin besar kesulitan, semakin besar pula keringanan yang diberikan. Sebaliknya semakin ringan tingkat kesulitan, semakin kecil pula keringana yang diberikan.

“… tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa sementara dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, tidak dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah: 173).

Keenam, dipaksa atau terpaksa

Orang yang mengerjakan perbuatan karena dipaksa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya maka tidak akan dikenakan sanksi oleh Allah karena semua itu di luar niat dan keinginannya sendiri.

Termasuk di dalamnya adalah orang puasa yang dipaksa makan atau minum atau hal lain yang membuat puasanya batal. Sementara pemaksaan itu berisiko pada hal-hal yang mencelakakannya, seperti dibunuh atau disiksa dan sejenisnya.

Ada juga kondisi ketika seseorang terpaksa berbuka puasa, misalnya dalam kondisi darutat, seperti menolong ketika ada kebakaran, terserang wabah suatu penyakit, kebanjiran, atau menolong orang yang tenggelam.

Baca Juga:  Hore! Pemerintah Tidak Larang Mudik Lebaran Tahun Ini

Ketujuh, pekerja berat

Orang yang karena keadaan harus menjalani profesi sebagai pekerja berat yang membutuhkan tenaga ekstra kadang-kadang tidak sanggup bila harus menahan lapar dalam waktu yang lama. Seperti para kuli angkut di pelabuhan, pandai besi, dan pekerja berat lainnya.

Bila kondisinya membahayakan jiwa, kepada mereka diberi keringanan untuk berbuka puasa dengan kewajiban menggantinya pada hari yang lain. Namun, mereka harus berniat dulu untuk berpuasa serta makan sahur seperti biasa.

Pada siang hari bila ternyata mereka masih kuat untuk meneruskan puasa, wajib bagi mereka meneruskan puasa. Namun apabila seseorang tidak kuat dalam arti yang sesungguhnya, boleh baginya berbuka puasa.

Mereka wajib mengganti puasanya itu pada hari yang lain dan tetap menjaga kewibawaan dan kesucian bulan ramadhan dengan tidak makan dan minum di tempat umum.

Agama tidak memberatkan

Adanya keringanan-keringanan tersebut mengindikasikan bahwa Allah dan rasul-Nya sangat paham bagaimana kondisi manusia. Agama sudah sangat sesuai dengan fitrah manusia sehingga tidak pernah memaksakan suatu aturan apabila kondisnya tidak memungkinkan.

Namun, hal yang harus menjadi catatan adalah puasa merupakan perkara yang wajib dilaksanakan. Lebih baik meneruskan puasa, tidak beruka di tengah jalan di siang hari, karena itu lebih baik, kecuali ada keadaan-keadaan yang disebutkan di atas.****

No More Posts Available.

No more pages to load.